Tips Membangun Kebiasaan Membaca Ini Ibarat “Sambil Menyelam Minum Air”

Anda sadar bahwa membaca buku merupakan kebiasaan yang sangat penting, bukan hanya demi kesuksesan Anda, tetapi juga demi perkembangan diri Anda secara pribadi. Namun demikian, setiap kali hendak memulai membaca buku, rasanya teramat sangat berat. Membaca ibarat sebuah kewajiban yang saaaaaangat membosankan!

Anda lebih senang menghabiskan waktu senggang Anda di depan TV, bermain video game, atau bersosialisasi di media sosial ketimbang membaca buku.

Dan, karena itulah, Anda sering menyalahkan diri Anda sendiri karena tidak dapat meninggalkan kebiasaan-kebiasaan tidak produktif itu. Anda menyalahkan diri Anda sendiri karena tidak dapat mengontrol diri untuk menghentikan kebiasaan tidak produktif dan menggantinya dengan kebiasaan yang lebih produktif, yang tak lain kebiasaan membaca buku.

Sudah berbagai cara Anda lakukan untuk menghentikan kebiasaan “buruk” Anda dan memulai kebiasaan membaca. Tetapi, tak satu pun cara itu yang menuai hasil yang maksimal. Padahal, Anda saaaangat ingin membangun kebiasaan membaca. Anda tidak tahu harus bagaimana lagi untuk dapat membangun kebiasaan itu.

Hehehe, tidak perlu galau dan menyalahkan diri sendiri. Pada tulisan ini, saya akan memberikan tips yang dapat membantu Anda untuk mengakali kemalasan Anda membaca buku. Caranya Continue reading Tips Membangun Kebiasaan Membaca Ini Ibarat “Sambil Menyelam Minum Air”

Sub-Vokalisasi: Bisakah Kita Melenyapkan “Kebiasaan Buruk” Ini saat Membaca Buku?

Saat membaca buku, pernahkah Anda melafalkan setiap kosakata yang Anda baca satu-persatu, sekali pun dalam hati saja? Atau, jangan-jangan, tiap kali membaca buku, Anda selalu melafalkan setiap kosakata yang Anda baca? Jika iya, itu artinya, Anda memiliki “kebiasaan” sub-vokalisasi.

Sub-vokalisasi adalah melafalkan kata di dalam hati sedemikian rupa sehingga otak dapat mendengarkan ucapan tersebut. Seseorang disebut sedang melakukan sub-vokalisasi manakala ia melafalkan kata di dalam hati, bukan disuarakan, sehingga orang lain tidak dapat mendengarnya.

Sub-vokalisasi sangat familiar dalam aktivitas membaca buku. Artinya, saat kita membaca buku, seringkali (baik secara sadar atau pun tidak) kita melakukan sub-vokalisasi. Sub-vokalisasi yang terjadi saat membaca buku bisa berupa menggerakkan mulut (komat-kamit), bisa juga hanya dengan melafalkan kosakata satu per satu (dalam hati).

Menurut berbagai kajian, sub-vokalisasi yang terjadi saat membaca buku merupakan suatu kebiasaan yang menghambat. Ia dituding sebagai salah satu penyebab mengapa kita lambat dalam membaca. Alasannya, dalam memroses kata-kata, otak kita bekerja lebih cepat dibanding saat kita mengucapkannya.

Contoh yang biasa diberikan untuk membuktikan bahwa otak lebih cepat daripada ucapan yaitu saat kita berhenti di jalan setelah lampu rambu lalu lintas menyala merah. Dikatakan bahwa saat kita melihat rambu-rambu itu, maka secara otomatis, otak kita memerintahkan kita untuk berhenti. Tanpa perlu menyebut atau mengucapkan kata “lampu merah” (baik dalam hati atau pun diucapkan dengan suara) otak kita paham bahwa lampu merah merupakan tanda kita harus mengehentikan kendaraan.

Alasan lain pun turut diberikan untuk mendukung pandangan ini, yaitu bahwa kebiasaan sub-vokalisasi muncul lantaran saat kecil, saat belajar membaca, kita senantiasa mengeja setiap huruf yang kita baca dengan lantang. Saat guru melatih kita untuk membaca, ia meminta kita untuk membaca dengan lantang kata atau kalimat yang ia tulis di papan tulis.

Oleh karena itulah, saat sudah fasih membaca, kita terbiasa membaca dengan melafalkan kata per kata dengan suara. Kebiasaan ini menetap hingga kita dewasa. Pada saat dewasa, kebiasaan melafalkan kosakata dengan suara mungkin sudah hilang, tetapi kita kesulitan untuk menghilangkan kosakata di dalam otak kita. Kita masih selalu melafalkan kosakata yang kita baca di dalam hati.

Nah, berdasarkan alasan-alasan di atas, banyak sekali penulis temukan artikel online yang menyarankan kepada pembacanya untuk menghilangkan kebiasaan sub-vokalisasi. Pada artikel-artikel itu, tak jarang penulis membaca komentar dari para pembacanya, di mana komentar-komentar itu mengandung keluhan dan pertanyaan. Mereka, para pembaca artikel itu, mengeluh bahwa mereka tidak dapat menghilangkan kebiasaan sub-vokalisasi. Ada pula yang bingung bagaimana mendeteksi sub-vokalisasi di dalam pikirannya. Menurutnya, saat membaca buku, ia tidak komat-kamit, tetapi pikirannya tetap tak bisa berhenti melafalkan setiap kosakata yang ia baca.

Hal ini pun seperti yang dialami oleh penulis sendiri. Sesaat setelah membaca artikel-artikel itu, penulis mencoba untuk tidak melafalkan kosakata di dalam hati. Tetapi, hasilnya nihil. Kosakata-kosakata yang penulis baca tetap saja mengalir memenuhi otak penulis. Akhirnya, penulis pikir, pasti ada yang salah alias misunderstanding di sini.

Penulis lantas mencari-cari sumber lain mengenai sub-vokalisasi. Dan, Continue reading Sub-Vokalisasi: Bisakah Kita Melenyapkan “Kebiasaan Buruk” Ini saat Membaca Buku?

Stres? Yuk, Baca Buku!

Sudah menjadi rahasia umum bahwa stres merupakan makanan kita sehari-hari. Kenyataan ini tidak terlepas dari tekanan hidup yang silih berganti. Mungkin, sekarang, tekanan muncul di tempat kerja. Kemarin, kita tertekan karena masalah rumah tangga. Esok? Entah apa lagi yang akan menekan hidup kita.

Stres memang membuat kita tidak nyaman. Detak jantung meningkat, otot menegang, susah tidur, bahkan tak jarang pula timbul kecemasan di dalam diri kita tentang hari esok. Stres juga bisa membuat kita semakin stres manakala kita tidak mengetahui cara untuk terbebas darinya.

Sebenarnya, banyak sekali cara yang dapat kita lakukan untuk mengurangi stres. Kita dapat meluangkan waktu sejenak untuk menikmati teh hangat, mendengarkan musik, jalan-jalan, atau pun bermain video game. Semua cara itu terbukti dapat mengurangi stres.

Anda pun dapat mencoba membaca buku. Pada tahun 2009, Universitas Sussex (The University of Sussex) melakukan sebuah penelitian mengenai pengaruh membaca buku pada tingkat stres. Dan, pada penelitian itu, mereka berhasil membuktikan bahwa membaca buku dapat mengurangi level stres yang kita alami.

Para pakar psikologi meyakini, ini dikarenakan saat membaca buku, pikiran kita dituntut untuk berkonsentrasi penuh pada isi buku yang kita baca. Ini artinya, perhatian kita teralihkan dari yang awalnya tertuju pada sumber stres ke isi bacaan.

Dr. Lewis, seorang pakar neuropsikologi yang memimpin penelitian itu menyatakan, “Losing yourself in a book is the ultimate relaxation,” yaitu bahwa terhanyut di dalam buku merupakan relaksasi yang penuh. Dan, kita tahu bahwa relaksasi merupakan cara yang sangat efektif untuk mengurangi stres.

Mengapa terhanyut di dalam buku merupakan bentuk relaksasi? Continue reading Stres? Yuk, Baca Buku!

Resensi Buku Manajemen pikiran: Metode Ampuh Menata Pikiran untuk Mengatasi Depresi, Kemarahan, Kecemasan, dan Perasaan Merusak Lainnya

Judul: Manajemen Pikiran: Metode Ampuh Menata Pikiran untuk Mengatasi Depresi, Kemarahan, Kecemasan, dan Perasaan Merusak Lainnya

Pengarang: Dennis Greenberger dan Christine A. Padesky

Penerbit: Guilford Press, New York

Penerjemah: Yosep Bambang Margono

Hak Terjemahan ke dalam Bahasa Indonesia: Penerbit Kaifa

Tahun terbit: 2004

Dimensi: 288 hlm.; 26 cm

ISBN: 979-9452-88-0

Pikiran Bawah Sadar dan Depresi, Kecemasan, dan Pikiran Merusak Lainnya

Sudah menjadi rahasia umum bahwa pikiran merupakan karunia terpenting yang diberikan kepada umat manusia. Dengan pikiran, umat manusia membangun peradaban. Dengan pikiran, manusia mampu membedakan mana yang baik dan mana yang buruk. Dengan pikiran, manusia mampu menyadari dan merasakan apa yang tidak disadari dan dirasakan oleh makhluk hidup lainnya.

Akan tetapi, di balik keagungan pikiran, kita terhenyakkan oleh suatu kenyataan, yaitu bahwa ternyata, 88% tindakan kita tidak terkontrol secara sadar alias tidak terkontrol oleh pikiran kita.

Penemuan tentang dua bagian pikiran, yaitu pikiran sadar dan pikiran bawah sadar meruntuhkan anggapan bahwa pikiran (kesadaran) merupakan satu-satunya hal terpenting yang mengontrol kehidupan kita. Menurut hasil studi mutakhir, hanya 12% kontrol yang kita miliki terhadap diri kita sendiri. Ini berarti, kita hanya memiliki 12% kekuatan untuk mengadakan pengendalian diri. Selebihnya, diri kita dikendalikan oleh pikiran bawah sadar kita yang bekerja secara otomatis (kita tidak menyadarinya).

Itulah mengapa, kita sering menjumpai kenyataan di mana seringkali tindakan-tindakan kita tidak sesuai dengan rencana yang sudah kita susun. Alih-alih, kita bertindak di luar kesadaran dan kendali kita.

Banyak contoh yang dapat kita temukan sehubungan dengan kenyataan ini. Misalnya, kita berencana untuk berhenti merokok. Di dalam otak, siapakah yang merencanakan untuk berhenti merokok? Ia adalah pikiran sadar kita.

Rencana itu bertentangan dengan kebiasaan merokok, yang sudah mendarah daging di dalam pikiran bawah sadar kita. Karena pikiran bawah sadar memegang 88% kendali terhadap diri kita, maka hal yang paling mungkin terjadi adalah, rencana sadar kita untuk berhenti merokok kalah telak dengan kebiasaan bawah sadar kita, yaitu kebiasaan merokok.

Di sini, rencana berhenti merokok kalah dengan kebiasaan merokok dikarenakan rencana itu dibuat oleh pikiran sadar, sementara kebiasaan merokok dibuat oleh pikiran bawah sadar. 12% kendali kalah dengan 88% kendali. Akibatnya, rencana kita untuk berhenti merokok gagal total.

Bukan hanya pada kasus merokok, atau perilaku lainnya pikiran bawah sadar memegang sebagian besar kendali pada diri kita. Para pakar psikologi menemukan bahwa pikiran bawah sadar juga mengendalikan diri kita dalam menyikapi suatu peristiwa.

Inilah yang mendasari munculnya depresi, kecemasan, fobia, dan gangguan kejiawaan lainnya. Para pakar menemukan bahwa depresi dan kecemasan muncul lantaran Continue reading Resensi Buku Manajemen pikiran: Metode Ampuh Menata Pikiran untuk Mengatasi Depresi, Kemarahan, Kecemasan, dan Perasaan Merusak Lainnya

Ingin Membaca Buku dengan Cepat dan Memiliki Pemahaman Mendalam? Ini Dia Rahasianya!

guy-eating-paper-in-frustration-small

Saya tahu Anda adalah salah satu dari sekian pembaca buku yang frustasi karena tidak kunjung menemukan cara yang efektif dalam membaca buku. Anda sering membeli buku dan berniat untuk membacanya di rumah. Namun, sesampainya Anda di rumah, buku itu tergeletak begitu saja, bahkan pada ujungnya berdebu karena tidak pernah Anda sentuh barang sekali pun.

Apa yang menyebabkan Anda malas membaca buku-buku yang sudah Anda beli? Setiap kali Anda membacanya, alih-alih mendapatkan pemahaman, Anda justru mengalami kebingungan. Berulang kali sudah Anda membaca paragraf atau kalimat yang tidak Anda pahami dalam buku yang Anda baca, tetapi semakin diulang semakin Anda bingung. Kepala Anda pun sakit karena terlalu ngotot berkonsentrasi.

Akhrinya, Anda frustasi dan meninggalkan buku-buku yang sudah Anda beli.

Hehe, jika memang demikian kenyataannya, jangan pesimis, jangan menyerah. Banyak jalan menuju Roma, demikian juga masih banyak jalan yang dapat Anda tempuh untuk dapat memahami buku-buku Anda.

Berikut ini, penulis akan sampaikan beberapa rahasia membaca buku dengan efektif sedemikian sehingga tidak membuang-buang waktu dan tidak membuat kepala Anda cekot-cekot. Penulis berharap, dengan menerapkan rahasia ini, Anda mendapatkan pemahaman yang tinggi dari buku yang Anda baca dalam waktu yang singkat.

Lalu, apa sajakah rahasia itu? Continue reading Ingin Membaca Buku dengan Cepat dan Memiliki Pemahaman Mendalam? Ini Dia Rahasianya!