Category Archives: Blog

Habis Baca Buku Suka Lupa Isinya? Ini dia Cara Mengatasinya

Ceritanya, Anda sedang berdebat dengan teman Anda, sebuah perdebatan yang sangat menarik mengenai tema yang sedang marak dibicarakan. Anda dan teman-teman Anda tampak canggih dalam perdebatan tersebut.

Saling lempar kritik dan argumen menjadi pemandangan yang menggairahkan, yang membuat orang yang menyaksikan terkagum-kagum dengan kecerdasan dan keluasan pengetahuan Anda dan teman-teman Anda.

Tetapi, pemandangan itu berubah ketika Anda berhenti di tengah-tengah serangan Anda terhadap argumen teman Anda. Saat itu, niatnya, Anda ingin menyanggah argumen teman dengan mengutip isi buku yang pernah Anda baca. Tetapi, tiba-tiba Anda lupa dengan beberapa bagian dari isi buku itu, yang membuat Anda bingung sendiri dengan argumentasi Anda.

Karena hal itu, Anda pun menjadi gugup dan malu, dan menarik kembali sanggahan Anda. Dan, penonton pun bersorak, “Huuuu….”

Heheheh, pernahkah Anda mengalami kejadian seperti itu?

Lupa dengan apa yang pernah atau baru saja kita baca memang sudah menjadi kebiasaan yang mendarah daging. Paling banter, kita hanya bisa mengingat beberapa persen saja dari buku yang kita baca.

Hal ini tentu saja sangat mengganggu. Dan, tentunya, Anda tidak mau, kan, kebiasaan seperti itu menetap seumur hidup? Anda ingin, bukan, ada peningkatan kemampuan membaca?

Meningkatkan kemampuan membaca meliputi juga kemampuan mengingat isi bacaan. Jika Anda ingin kemampuan membaca Anda meningkat, Anda harus, salah satunya, membuat sedemikian sehingga apa yang Anda baca terus melekat di dalam otak Anda. Ini artinya, informasi yang Anda peroleh dari buku yang Anda baca terus menetap di dalam otak Anda dan Anda dapat mengaksesnya jika sewaktu-waktu dibutuhkan.

Nah, sekarang, ingin tahu cara supaya mudah mengingat isi bacaan? Yuk, simak penjelasan berikut ini. Continue reading Habis Baca Buku Suka Lupa Isinya? Ini dia Cara Mengatasinya

Tips Membangun Kebiasaan Membaca Ini Ibarat “Sambil Menyelam Minum Air”

Anda sadar bahwa membaca buku merupakan kebiasaan yang sangat penting, bukan hanya demi kesuksesan Anda, tetapi juga demi perkembangan diri Anda secara pribadi. Namun demikian, setiap kali hendak memulai membaca buku, rasanya teramat sangat berat. Membaca ibarat sebuah kewajiban yang saaaaaangat membosankan!

Anda lebih senang menghabiskan waktu senggang Anda di depan TV, bermain video game, atau bersosialisasi di media sosial ketimbang membaca buku.

Dan, karena itulah, Anda sering menyalahkan diri Anda sendiri karena tidak dapat meninggalkan kebiasaan-kebiasaan tidak produktif itu. Anda menyalahkan diri Anda sendiri karena tidak dapat mengontrol diri untuk menghentikan kebiasaan tidak produktif dan menggantinya dengan kebiasaan yang lebih produktif, yang tak lain kebiasaan membaca buku.

Sudah berbagai cara Anda lakukan untuk menghentikan kebiasaan “buruk” Anda dan memulai kebiasaan membaca. Tetapi, tak satu pun cara itu yang menuai hasil yang maksimal. Padahal, Anda saaaangat ingin membangun kebiasaan membaca. Anda tidak tahu harus bagaimana lagi untuk dapat membangun kebiasaan itu.

Hehehe, tidak perlu galau dan menyalahkan diri sendiri. Pada tulisan ini, saya akan memberikan tips yang dapat membantu Anda untuk mengakali kemalasan Anda membaca buku. Caranya Continue reading Tips Membangun Kebiasaan Membaca Ini Ibarat “Sambil Menyelam Minum Air”

Sub-Vokalisasi: Bisakah Kita Melenyapkan “Kebiasaan Buruk” Ini saat Membaca Buku?

Saat membaca buku, pernahkah Anda melafalkan setiap kosakata yang Anda baca satu-persatu, sekali pun dalam hati saja? Atau, jangan-jangan, tiap kali membaca buku, Anda selalu melafalkan setiap kosakata yang Anda baca? Jika iya, itu artinya, Anda memiliki “kebiasaan” sub-vokalisasi.

Sub-vokalisasi adalah melafalkan kata di dalam hati sedemikian rupa sehingga otak dapat mendengarkan ucapan tersebut. Seseorang disebut sedang melakukan sub-vokalisasi manakala ia melafalkan kata di dalam hati, bukan disuarakan, sehingga orang lain tidak dapat mendengarnya.

Sub-vokalisasi sangat familiar dalam aktivitas membaca buku. Artinya, saat kita membaca buku, seringkali (baik secara sadar atau pun tidak) kita melakukan sub-vokalisasi. Sub-vokalisasi yang terjadi saat membaca buku bisa berupa menggerakkan mulut (komat-kamit), bisa juga hanya dengan melafalkan kosakata satu per satu (dalam hati).

Menurut berbagai kajian, sub-vokalisasi yang terjadi saat membaca buku merupakan suatu kebiasaan yang menghambat. Ia dituding sebagai salah satu penyebab mengapa kita lambat dalam membaca. Alasannya, dalam memroses kata-kata, otak kita bekerja lebih cepat dibanding saat kita mengucapkannya.

Contoh yang biasa diberikan untuk membuktikan bahwa otak lebih cepat daripada ucapan yaitu saat kita berhenti di jalan setelah lampu rambu lalu lintas menyala merah. Dikatakan bahwa saat kita melihat rambu-rambu itu, maka secara otomatis, otak kita memerintahkan kita untuk berhenti. Tanpa perlu menyebut atau mengucapkan kata “lampu merah” (baik dalam hati atau pun diucapkan dengan suara) otak kita paham bahwa lampu merah merupakan tanda kita harus mengehentikan kendaraan.

Alasan lain pun turut diberikan untuk mendukung pandangan ini, yaitu bahwa kebiasaan sub-vokalisasi muncul lantaran saat kecil, saat belajar membaca, kita senantiasa mengeja setiap huruf yang kita baca dengan lantang. Saat guru melatih kita untuk membaca, ia meminta kita untuk membaca dengan lantang kata atau kalimat yang ia tulis di papan tulis.

Oleh karena itulah, saat sudah fasih membaca, kita terbiasa membaca dengan melafalkan kata per kata dengan suara. Kebiasaan ini menetap hingga kita dewasa. Pada saat dewasa, kebiasaan melafalkan kosakata dengan suara mungkin sudah hilang, tetapi kita kesulitan untuk menghilangkan kosakata di dalam otak kita. Kita masih selalu melafalkan kosakata yang kita baca di dalam hati.

Nah, berdasarkan alasan-alasan di atas, banyak sekali penulis temukan artikel online yang menyarankan kepada pembacanya untuk menghilangkan kebiasaan sub-vokalisasi. Pada artikel-artikel itu, tak jarang penulis membaca komentar dari para pembacanya, di mana komentar-komentar itu mengandung keluhan dan pertanyaan. Mereka, para pembaca artikel itu, mengeluh bahwa mereka tidak dapat menghilangkan kebiasaan sub-vokalisasi. Ada pula yang bingung bagaimana mendeteksi sub-vokalisasi di dalam pikirannya. Menurutnya, saat membaca buku, ia tidak komat-kamit, tetapi pikirannya tetap tak bisa berhenti melafalkan setiap kosakata yang ia baca.

Hal ini pun seperti yang dialami oleh penulis sendiri. Sesaat setelah membaca artikel-artikel itu, penulis mencoba untuk tidak melafalkan kosakata di dalam hati. Tetapi, hasilnya nihil. Kosakata-kosakata yang penulis baca tetap saja mengalir memenuhi otak penulis. Akhirnya, penulis pikir, pasti ada yang salah alias misunderstanding di sini.

Penulis lantas mencari-cari sumber lain mengenai sub-vokalisasi. Dan, Continue reading Sub-Vokalisasi: Bisakah Kita Melenyapkan “Kebiasaan Buruk” Ini saat Membaca Buku?

Stres? Yuk, Baca Buku!

Sudah menjadi rahasia umum bahwa stres merupakan makanan kita sehari-hari. Kenyataan ini tidak terlepas dari tekanan hidup yang silih berganti. Mungkin, sekarang, tekanan muncul di tempat kerja. Kemarin, kita tertekan karena masalah rumah tangga. Esok? Entah apa lagi yang akan menekan hidup kita.

Stres memang membuat kita tidak nyaman. Detak jantung meningkat, otot menegang, susah tidur, bahkan tak jarang pula timbul kecemasan di dalam diri kita tentang hari esok. Stres juga bisa membuat kita semakin stres manakala kita tidak mengetahui cara untuk terbebas darinya.

Sebenarnya, banyak sekali cara yang dapat kita lakukan untuk mengurangi stres. Kita dapat meluangkan waktu sejenak untuk menikmati teh hangat, mendengarkan musik, jalan-jalan, atau pun bermain video game. Semua cara itu terbukti dapat mengurangi stres.

Anda pun dapat mencoba membaca buku. Pada tahun 2009, Universitas Sussex (The University of Sussex) melakukan sebuah penelitian mengenai pengaruh membaca buku pada tingkat stres. Dan, pada penelitian itu, mereka berhasil membuktikan bahwa membaca buku dapat mengurangi level stres yang kita alami.

Para pakar psikologi meyakini, ini dikarenakan saat membaca buku, pikiran kita dituntut untuk berkonsentrasi penuh pada isi buku yang kita baca. Ini artinya, perhatian kita teralihkan dari yang awalnya tertuju pada sumber stres ke isi bacaan.

Dr. Lewis, seorang pakar neuropsikologi yang memimpin penelitian itu menyatakan, “Losing yourself in a book is the ultimate relaxation,” yaitu bahwa terhanyut di dalam buku merupakan relaksasi yang penuh. Dan, kita tahu bahwa relaksasi merupakan cara yang sangat efektif untuk mengurangi stres.

Mengapa terhanyut di dalam buku merupakan bentuk relaksasi? Continue reading Stres? Yuk, Baca Buku!

Resensi Buku Manajemen pikiran: Metode Ampuh Menata Pikiran untuk Mengatasi Depresi, Kemarahan, Kecemasan, dan Perasaan Merusak Lainnya

Judul: Manajemen Pikiran: Metode Ampuh Menata Pikiran untuk Mengatasi Depresi, Kemarahan, Kecemasan, dan Perasaan Merusak Lainnya

Pengarang: Dennis Greenberger dan Christine A. Padesky

Penerbit: Guilford Press, New York

Penerjemah: Yosep Bambang Margono

Hak Terjemahan ke dalam Bahasa Indonesia: Penerbit Kaifa

Tahun terbit: 2004

Dimensi: 288 hlm.; 26 cm

ISBN: 979-9452-88-0

Pikiran Bawah Sadar dan Depresi, Kecemasan, dan Pikiran Merusak Lainnya

Sudah menjadi rahasia umum bahwa pikiran merupakan karunia terpenting yang diberikan kepada umat manusia. Dengan pikiran, umat manusia membangun peradaban. Dengan pikiran, manusia mampu membedakan mana yang baik dan mana yang buruk. Dengan pikiran, manusia mampu menyadari dan merasakan apa yang tidak disadari dan dirasakan oleh makhluk hidup lainnya.

Akan tetapi, di balik keagungan pikiran, kita terhenyakkan oleh suatu kenyataan, yaitu bahwa ternyata, 88% tindakan kita tidak terkontrol secara sadar alias tidak terkontrol oleh pikiran kita.

Penemuan tentang dua bagian pikiran, yaitu pikiran sadar dan pikiran bawah sadar meruntuhkan anggapan bahwa pikiran (kesadaran) merupakan satu-satunya hal terpenting yang mengontrol kehidupan kita. Menurut hasil studi mutakhir, hanya 12% kontrol yang kita miliki terhadap diri kita sendiri. Ini berarti, kita hanya memiliki 12% kekuatan untuk mengadakan pengendalian diri. Selebihnya, diri kita dikendalikan oleh pikiran bawah sadar kita yang bekerja secara otomatis (kita tidak menyadarinya).

Itulah mengapa, kita sering menjumpai kenyataan di mana seringkali tindakan-tindakan kita tidak sesuai dengan rencana yang sudah kita susun. Alih-alih, kita bertindak di luar kesadaran dan kendali kita.

Banyak contoh yang dapat kita temukan sehubungan dengan kenyataan ini. Misalnya, kita berencana untuk berhenti merokok. Di dalam otak, siapakah yang merencanakan untuk berhenti merokok? Ia adalah pikiran sadar kita.

Rencana itu bertentangan dengan kebiasaan merokok, yang sudah mendarah daging di dalam pikiran bawah sadar kita. Karena pikiran bawah sadar memegang 88% kendali terhadap diri kita, maka hal yang paling mungkin terjadi adalah, rencana sadar kita untuk berhenti merokok kalah telak dengan kebiasaan bawah sadar kita, yaitu kebiasaan merokok.

Di sini, rencana berhenti merokok kalah dengan kebiasaan merokok dikarenakan rencana itu dibuat oleh pikiran sadar, sementara kebiasaan merokok dibuat oleh pikiran bawah sadar. 12% kendali kalah dengan 88% kendali. Akibatnya, rencana kita untuk berhenti merokok gagal total.

Bukan hanya pada kasus merokok, atau perilaku lainnya pikiran bawah sadar memegang sebagian besar kendali pada diri kita. Para pakar psikologi menemukan bahwa pikiran bawah sadar juga mengendalikan diri kita dalam menyikapi suatu peristiwa.

Inilah yang mendasari munculnya depresi, kecemasan, fobia, dan gangguan kejiawaan lainnya. Para pakar menemukan bahwa depresi dan kecemasan muncul lantaran Continue reading Resensi Buku Manajemen pikiran: Metode Ampuh Menata Pikiran untuk Mengatasi Depresi, Kemarahan, Kecemasan, dan Perasaan Merusak Lainnya

Ingin Membaca Buku dengan Cepat dan Memiliki Pemahaman Mendalam? Ini Dia Rahasianya!

guy-eating-paper-in-frustration-small

Saya tahu Anda adalah salah satu dari sekian pembaca buku yang frustasi karena tidak kunjung menemukan cara yang efektif dalam membaca buku. Anda sering membeli buku dan berniat untuk membacanya di rumah. Namun, sesampainya Anda di rumah, buku itu tergeletak begitu saja, bahkan pada ujungnya berdebu karena tidak pernah Anda sentuh barang sekali pun.

Apa yang menyebabkan Anda malas membaca buku-buku yang sudah Anda beli? Setiap kali Anda membacanya, alih-alih mendapatkan pemahaman, Anda justru mengalami kebingungan. Berulang kali sudah Anda membaca paragraf atau kalimat yang tidak Anda pahami dalam buku yang Anda baca, tetapi semakin diulang semakin Anda bingung. Kepala Anda pun sakit karena terlalu ngotot berkonsentrasi.

Akhrinya, Anda frustasi dan meninggalkan buku-buku yang sudah Anda beli.

Hehe, jika memang demikian kenyataannya, jangan pesimis, jangan menyerah. Banyak jalan menuju Roma, demikian juga masih banyak jalan yang dapat Anda tempuh untuk dapat memahami buku-buku Anda.

Berikut ini, penulis akan sampaikan beberapa rahasia membaca buku dengan efektif sedemikian sehingga tidak membuang-buang waktu dan tidak membuat kepala Anda cekot-cekot. Penulis berharap, dengan menerapkan rahasia ini, Anda mendapatkan pemahaman yang tinggi dari buku yang Anda baca dalam waktu yang singkat.

Lalu, apa sajakah rahasia itu? Continue reading Ingin Membaca Buku dengan Cepat dan Memiliki Pemahaman Mendalam? Ini Dia Rahasianya!

10 Manfaat Menakjubkan dari Membaca Buku

albert einstein

Pernahkah Anda menonton sinetron di TV? Jika iya, Anda akan sering menjumpai karakter kutu buku yang digambarkan sebagai orang yang culun, kurang pergaulan, dan tak punya teman.

Akan tetapi, apakah kenyataannya memang demikian? Apakah karakter para kutu buku di sekeliling Anda persisi seperti yang digambarkan oleh adegan-adegan di dalam sinetron? Hmmm, saya yakin Anda akan menjawab, kebalikannya!

Yup! Saya sependapat dengan Anda. Pada kenyataannya, kutu buku di sekeliling saya, teman-teman saya merupakan orang-orang yang pandai, berpikiran terbuka, memiliki pergaulan yang luas, dan penuh percaya diri.

Membaca buku memang memberikan banyak manfaat kepada kita. Ungkapan lama menyatakan, buku merupakan jendela dunia. Ini artinya, jika kita ingin melihat dan mengetahui luasnya dunia, kita harus sering-sering membaca buku, membuka jendela, dan melihat ada apa di luar sana.

Anda boleh menguji kebenaran pernyataan ini. Jika dipikir secara logis, pernyataan ini tentu saja benar adanya. Semakin sering membaca buku, semakin luas pengetahuan yang kita miliki. Sebaliknya, semakin jarang membaca buku, pengetahuan yang kita miliki semakin ketinggalan jaman dan tidak relevan lagi diterapkan di dunia di mana kita berada.

Selain menambah pengetahuan, membaca buku juga memberikan segudang manfaat bagi kita. Di atas, sudah saya sebutkan beberapa manfaat dari membaca buku, mulai dari membuat kita lebih pandai, berpikiran terbuka, memiliki pergaulan yang luas, dan penuh percaya diri. Tentunya masih banyak lagi manfaat dari membaca buku yang perlu kita kuak agar kita termotiavsi untuk menjadi kutu buku.

Nah, berikut beberapa di antara manfaat menakjubkan dari membaca buku yang perlu Anda ketahui. Continue reading 10 Manfaat Menakjubkan dari Membaca Buku

Membaca Buku sambil Mendengarkan Musik? Efektifkah?

books-audio_9648539_215912c

Apakah membaca buku sambil mendengarkan musik menjadi kebiasaan Anda? Apakah musik tidak dapat dipisahkan dari Anda? Di mana ada Anda, di situ pasti ada musik, tidak terkecuali saat Anda sedang membaca buku.

Well, bagi sebagian orang, mendengarkan musik saat membaca buku merupakan hal yang wajib. Keheningan saat membaca buku saaaaangat menyebalkan! Dengan musik, paling tidak, kita dapat melenyapkan perasaan sebal itu.

Begitupun sebaliknya saat membaca buku di tempat yang ramai, seperti perpustakaan. Mendengarkan musik dapat menjadi cara terbaik untuk menghindari keriuhan yang terjadi di dalamnya.

Akan tetapi, pernahkah Anda bertanya-tanya pengaruh musik terhadap efektifitas kegiatan membaca? Pernahkah Anda mencoba membandingkan efektifitas kegiatan membaca buku sambil mendengarkan musik dengan saat Anda membaca buku tanpa musik?

Penasaran? Ingin tahu pengaruh musik terhadap kegiatan membaca buku? Continue reading Membaca Buku sambil Mendengarkan Musik? Efektifkah?

Resensi Buku The Practicing Mind: Developing Focus and Discipline in Your Life

Judul buku: The Practicing Mind: Developing Focus and Discipline in Your Life: Master Any Skill or Challage by Learning to Love the Process

Pengarang: Thomas M. Sterner

Penerbit: New World Library

Tahun: 2012

Dimensi: xvi + 152; 5 x 8 cm

ISBN: 978-1-60868-090-0

practicing mind

Penyebab Kemalasan dan Ketidakdisiplinan

Kemalasan merupakan penyakit yang sangat berbahaya. Perlahan tetapi pasti, ia membuat kualitas hidup merosot. Kemalasan menyebabkan seseorang enggan melakukan aktivitas, enggan menyempatkan waktu, pikiran, dan tenaga untuk melakukan sesuatu yang berguna bagi dirinya. Lebih jauh, ia membuat seseorang hanya mau menerima hasil tanpa mau berjuang untuk mendapatkannya.

Kemalasan bukan hanya diderita oleh orang-orang tertentu. Justru di dunia ini, kita lebih sering menjumpai orang yang malas dibanding orang yang rajin dan disiplin. Hal ini bukan dikarenakan oleh sifat alamiah yang melekat pada sebagian besar dari kita. Kemalasan memiliki akar penyebabnya, yang dapat kita telusuri dari kebudayaan result-oriented.

Jika ditelusuri, kebudayaan result-oriented merupakan cerminan dari sistem kapitalisme. Di dalam sistem kapitalisme, masyarakat dianggap sebagai pasar bagi komoditas (barang produksi). Nah, sebagai pasar bagi komoditas, masyarakat selalu dijejali iklan yang menawarkan barang produksinya.

Dalam iklan, produk yang ditawarkan dicitrakan sebagai sumber kebahagiaan. Pencitraan ini bertujuan untuk menarik minat kita (sebagai pasar) untuk membelinya. Iklan mengatakan, “Belilah ini agar kehidupan Anda sempurna,” “Belilah itu. dijamin Anda akan tampil cantik dalam sekejap.” Singkatnya, iklan menciptakan konsep kebahagiaan. Menurut iklan, kita akan bahagia manakala memakai produk yang ditawarkannya.

Apa akibat dari pencitraan iklan? Akibatnya, terbentuk suatu konsep di bawah sadar kita mengenai kebahagiaan yang sesuai dengan yang dicitrakan oleh iklan. Ini dikarenakan, iklan memberondong pikiran kita setiap waktu, mengulangi (repeat) apa yang dicitrakannya.

Nah, sebagaimana kebiasaan dapat terbentuk dari repetisi alias pengulangan, begitu juga dengan pencitraan yang diciptakan oleh iklan. Karena pencitraan tersebut dilakukan berulang kali (repetition), maka pada akhirnya, citra tersebut tersimpan di dalam bawah sadar kita. Dan, pada ujungnya, terbentuklah konsep kebahagiaan yang khas kapitalisme, yaitu bahwa kebahagiaan adalah saat kita mencapai Continue reading Resensi Buku The Practicing Mind: Developing Focus and Discipline in Your Life

Malas Baca Buku? Ini Dia Teknik Canggih Mengatasinya!

reading a lot of books

Jengkeeeel!!! Satu kata yang mewakili perasaan Anda saat teman meremehkan niat Anda untuk memulai kebiasaan membaca buku. “Alaaa, mainan baru. Paling cuma anget-anget tahi ayam. Lihat aja, lima menit juga bosan. Mentok-mentoknya tuh buku cuma jadi pajangan di rak,” begitu ejek mereka.

Parahnya, dalam hati, Anda pun mengakui dan menyadari bahwa Anda memang tidak pernah serius merubah kebiasaan malas membaca buku. Anda kecewa terhadap diri sendiri dan bertanya, “Kenapa, sih, selalu malas kalo mau baca buku?” Anda bertanya-tanya mengapa untuk berubah menjadi lebih baik sangat sulit.

Sebenarnya, yang membuat Anda malas yaitu karena Anda tidak sabar. Syarat terwujudnya perubahan adalah proses. Dari yang awalnya pada level rendah menuju level yang lebih tinggi. Dari level yang tinggi ke level yang lebih tinggi lagi. Begitu seterusnya hingga selesai. Nah, mengapa Anda malas? Karena Anda tidak sabar menjalani proses ini. Anda tidak sabar menghadapi level yang lebih sulit dibanding level sebelumnya. Anda bosan dan bahkan frustasi.

Lalu, apa yang harus Anda lakukan agar dapat bersabar menjalani proses tersebut? Tulisan ini ditujukan untuk memberikan pandangan kepada Anda bagaimana menumbuhkan kesabaran dan menghilangkan kemalasan saat membaca buku.

Lahir dari hasil pembacaan penulis terhadap buku The Practicing Mind karya Thomas Sterner, semoga tulisan ini memberikan manfaat bagi Anda.
Kembali pada bagaimana mengatasi kemalasan, langsung saja kita simak  Continue reading Malas Baca Buku? Ini Dia Teknik Canggih Mengatasinya!