Kebiasaan Buruk saat Membaca Buku

Pernahkah Anda membaca buku dengan melafalkan setiap kosakatanya dengan lantang? Pernahkah pula Anda membaca buku sambil menunjuk tulisan yang sedang Anda baca dengan telunjuk Anda? Atau, jangan-jangan, Anda selalu melakukan keduanya setiap kali membaca buku?

Nah, jika jawaban Anda, iya, pernah melakukan keduanya dan bahkan setiap kali membaca buku Anda melakukan kedua hal tersebut, itu artinya, Anda memiliki dua hal tersebut sebagai kebiasaan dalam membaca.

Sekarang, pertanyaannya, pernahkah Anda bertanya dalam hati apakah dua kebiasaan itu baik atau buruk?

Dalam membaca buku, lazimnya kita mengenal berbagai kebiasaan membaca yang dianggap baik dan berbagai kebiasaan yang dianggap buruk.

Kebiasaan membaca yang baik tentu membawa dampak yang positif bagi aktivitas membaca kita. Dampak positif ini berupa peningkatan produktivitas dalam membaca. Sebaliknya, kebiasaan membaca yang buruk tentu membawa dampak yang negatif bagi aktivitas membaca kita. Nah, dampak negatif ini berupa penurunan produktivitas dalam membaca.

Lantas, bagaimanakah cara menentukan kebiasaan tertentu baik atau buruk bagi aktivitas membaca kita?

Hehehe, tidak perlu khawatir lantaran tidak mengetahui standar untuk menentukan baik dan buruknya kebiasaan membaca tertentu. Karena, dalam artikel ini, penulis akan mengajak Anda untuk mengenal dan mengetahui beberapa kebiasaan membaca, khususnya kebiasaan membaca yang buruk, setidaknya menurut para pakar.

Semoga, artikel ini membantu Anda untuk menghindari dan menghilangkan kebiasaan-kebiasaan buruk tersebut sedemikian sehingga aktivitas membaca Anda tidak terhambat oleh kebiasaan-kebiasaan itu.

Sekarang, yuk, simak penjabarannya secara lengkap berikut ini.

Melafalkan bacaan

Saat masih kecil, di sekolah, kita diajarkan untuk membaca dengan lantang. Tujuannya, supaya sang guru mampu mengoreksi bacaan kita.

Tetapi, tanpa disadari, karena hal ini, kita pun menjadi terbiasa membaca dengan lantang, bahkan hingga dewasa. Kebiasaan (membaca dengan lantang) ini memperlambat aktivitas membaca kita. Mengapa? Karena kecepatan ucapan (vokal) lebih lambat dibanding kecepatan berpikir. Otak kita bagaikan kilatan cahaya petir, yang kecepatannya lebih cepat dibanding kecepatan suaranya.

Jika tidak percaya, coba perhatikan saat Anda sedang mengemudikan kendaraan. Perhatikanlah saat Anda sampai di rambu-rambu lalulitas. Begitu rambu lalu lintas menyala merah, maka secara otomatis, tanpa menyebutkan (melafalkan) kata “merah”, Anda pun menghentikan mobil Anda.

Yang terjadi saat Anda melafalkan bacaan andadengan lantang yaitu kecepatan baca otak terhambat oleh vokalisasi Anda.

Regresi

Regresi adalah mengulang-ngulang kata, frasa, atau pun kalimat yang Anda baca.

Kebiasaan ini juga merupakan kebiasaan yang buruk. Alasannya, tindakan mengulang-ngulang bacaan akan memperlambat kecepatan baca Anda. Terlebih, seringkali kebiasaan ini tidak membawa manfaat bagi Anda.

Mungkin, niat Anda melakukan regresi yaitu untuk memahami kalimat yang Anda baca. Tetapi, seringkali maksud dari apa yang Anda baca itu dijelaskan pada kalimat selanjutnya.

Kebiasaan regresi ibaratkan memandang satu keping puzzle. Anda berharap, dengan memandangi puzzle itu terus-menerus, Anda akan memperoleh makna yang terkandung di dalamnya.

Tentu saja ini usaha yang sia-sia. Satu keping puzzle itu tidak akan memiliki makna kecuali Anda merangkainya dengan kepingan lainnya.

Nah, persis seperti tindakan memandang sekeping puzzle di atas manakala Anda melakukan regresi. Anda membaca kata, frasa, atau pun kalimat yang sama berluang kali. Hal tersebut membuat Anda gagal menemukan maksud dari apa yang Anda baca karena makna atau maksud akan terbentuk manakala kata, frasa, atau kalimat tersebut dirangkai dengan kata, frasa, atau kalimat lainnya.

Subvokalisasi

Contoh subvokalisasi yaitu menggerakkan mulut atau lidah saat membaca. Sama halnya dengan kebiasaan vokalisasi, kebiasaan ini menghambat kecepatan baca Anda.

Oleh karena itu, Anda perlu menghilangkan kebiasaan ini.

Menunjuk tulisan

Ada sementara teknik membaca cepat yang menekankan pentingnya kebiasaan menunjuk tulisan dengan jari telunjuk. Salah satu di antaranya yakni teknik membaca cepat yang dinamakan PX project.

Dalam teknik itu, ditekankan agar pembaca mempertahankan kebiasaan menunjuk tulisan dengan telunjuk mereka. Tujuannya, supaya perhatian mereka terfokus pada kata, frasa, atau kalimat yang sedang dibaca. Selain itu, dengan menunjuk ke tulisan, pembaca terbantu untuk membaca secara berangkai, bukan kata-perkata. Hal ini dimungkinkan karena telunjuk yang menunjuk tulisan tersebut bukanlah menunjuk satu kata tunggal, melainkan menunjuk pada sekelempok kata (a chunk of words). Dengan demikian, pembaca terbantu dalam menangkap makna yang terkandung dari apa yang dibacanya.

Kendati demikian, baik-buruknya kebiasaan ini dalam membaca masih simpang siur. Sebuah buku yang termuat di dalam situs Universitas Lagon (University of Lagon), menjelaskan bahwa kebiasaan menunjuk pada tulisan dengan telunjuk atau dengan bantuan alat tertentu membawa dampak negatif bagi kegiatan membaca. Alasannya, gerakan tangan lebih lambat dibanding dengan kecepatan otak dalam memroses tulisan.

Nah, saat kita menggunakan telunjuk untuk menunjuk tulisan yang kita baca, secara tidak sengaja kita menghambat otak kita dalam memroses tulisan. Hal ini sama dengan kebiasaan vokalisasi dan subvokalisasi.

Merasa harus membaca seluruh isi buku

Saat membaca buku, pernahkah Anda merasa bahwa Anda harus membaca seluruh isi buku tanpa terkecuali? Perasaan ini merupakan perasaan yang tidak produktif. Mengapa? Sejatinya, kita tidak perlu membaca seluruh isi buku, tanpa terlewat satu kata pun. Ini dikarenakan, di dalam buku yang kita baca, seringkali terdapat berbagai informasi yang sudah kita ketahui dan pahami jauh sebelum kita membaca buku itu. Kita tidak perlu membaca bagian-bagian yang mengandung informasi yang sudah kita ketahui itu.

Menunda-nunda bacaan

Saat sedang membaca buku, pernahkah tiba-tiba Anda terdorong untuk berhenti dan melanjutkan bacaan tersebut esok harinya dengan alasan buku itu penting sehingga Anda perlu membacanya di waktu yang tepat?

Waspadalah jika Anda memiliki kebiasaan seperti di atas. Kebiasaan di atas merupakan pertanda bahwa Anda orang yang perfeksionis.

Salah satu dampak sifat perfeksionis yaitu selalu menunda-nunda pekerjaan. Mengapa? Karena sang perfeksionis memandang sebuah tugas (contohnya membaca buku) senantiasa memiliki tingkat kerumitan yang tinggi, yang oleh karenanya dibutuhkan konsentrasi tinggi, kondisi dan waktu yang tepat, serta ketekunan yang luar biasa untuk melakukannya.

Nah, karena memandang setiap tugas sebagai tugas yang rumit, sang perfeksionis pun kehilangan motivasi untuk melakukan tugas tersebut. ini disebabkan persepsi kita mengenai suatu tugas turut memengaruhi motivasi kita dalam melakukan tugas tersebut. jika kita memandang suatu tugas sebagai tugas yang rumit, maka motivasi untuk mengerjakannya menurun. Sebaliknya, jika kita memandang suatu tugas sebagai tugas yang simple dan mudah dikerjakan, maka motivasi untuk mengerjakannya semakin tinggi. Inilah yang diungkapkan oleh dua orang pakar psikologi dari Universitas Michigan Hyunjin Song dan Norbert Schwarz.

Dalam konteks membaca buku, perfeksionisme membuat Anda terus-menerus menunda-nunda aktivitas membaca. Saat Anda sudah sampai pada separuh halaman terakhir, tiba-tiba Anda berhenti dan menunda membacanya hingga esok. Tetapi, esoknya, Anda malas melanjutkan bacaan karena menurut Anda, waktu dan kondisi tidak ideal untuk melakukannya (melanjutkan bacaan). Demikian seterusnya hingga waktu yang tak terbatas.

Membaca tanpa tujuan yang jelas

Kebiasaan buruk lain saat membaca buku yang tanpa sadar sering kita lakukan yaitu membaca tanpa tujuan yang jelas. Kita membaca sebuah buku hanya untuk mengisi waktu luang. Atau, jikalau pun memiliki tujuan, tujuan itu merupakan tujuan yang masih bersifat umum dan abstrak, yang tidak detail dan jelas, seperti ingin menambah pengetahuan atau ingin sukses.

Nah, karena tidak memiliki tujuan yang jelas, otak pun tidak terdorong untuk membaca. Hal ini pada ujungnya membuat Anda mengantuk.

Demikian kiranya beberapa kebiasaan buruk dalam membaca buku yang dapat penulis sampaikan kepada Anda. semoga, artikel ini membantu Anda menghilangkan kebiasaan-kebiasaan itu. dengan demikian, aktivitas membaca Anda menjadi jauh lebih produktif.

Akhir kata, selamat membaca. Oya, jangan lupa untuk memebrikan komentar dan jangan lupa pula untuk bergabung dengan Aquariusnote untuk mendapatkan manfaat yang lebih banyak 😀

One thought on “Kebiasaan Buruk saat Membaca Buku”

  1. Artikel yg bagus. Kalau saya hambatannya sih saat baca jurnal penelitian untuk skripsi, seringkali dilanda kantuk luar biasa setelah baca beberapa halaman.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *