Kelemahan Anda Adalah Sukses Anda

successful disabled athlete

Pernahkah Anda menonton kisah sukses para penyandang cacat di TV? Jika pernah, apa kesan dan komentar Anda mengenai kisah sukses mereka? Tebakan saya pasti tidak meleset. Anda pasti memuji kehebatan mereka. Di samping itu, Anda pasti juga heran dan bertanya-tanya mengapa Anda tidak bisa sesukses mereka, padahal Anda dikaruniai kelebihan yang tidak mereka miliki. Anda pasti bertanya, “Rahasianya apa?” Benar, bukan?

Mau tau rahasianya? Jika begitu, simak artikel ini sampai tuntas.

Kelemahan

Rahasia sukses para penyandang cacat itu adalah kelemahan mereka. Yup! Kelemahan!

Kelemahan merupakan sesuatu yang niscaya ada di dalam diri setiap orang. Anda pasti setuju dengan pernyataan saya, bukan? Tidak ada manusia yang sempurna di dunia ini. Bahkan, orang-orang hebat dan orang-orang yang dianggap suci pun memiliki kelemahan.

Kelemahan adalah faktor yang menjadikan Anda tidak sempurna. Tanyakan kepada diri sendiri, apa yang menghalangi perjalanan Anda menuju sukses. Salah satu jawabannya adalah kelemahan!

Yup! Kelemahan adalah faktor negatif yang menghalangi Anda menuju sukses. Ia adalah duri yang melekat di dalam daging. Anda tidak menginginkan keberadaannya, tapi keberadaannya tidak dapat hilang dari diri Anda.

Lalu, bagaimana agar Anda bisa menjadi orang yang sukses jika kelemahan selalu menghalangi perjalanan Anda? Yang perlu Anda perhatikan adalah cara Anda menyikapi kelemahan itu. Sikap Anda terhadap kelemahan akan turut menentukan sukses atau gagalnya Anda meraih impian.

Menyikapi kelemahan? Maksudnya?

1. Orang yang menyadari kelemahannya dan berusaha mengatasinya

Para penyandang cacat yang sukses masuk ke dalam kategori ini. Hal yang lumrah jika mereka menyadari kelemahannya karena kelemahan itu terlihat jelas dan kasat mata, bukan hanya bagi dirinya, tapi juga bagi orang lain.

Apa yang luar biasa adalah ketika mereka mampu mengatasi kelemahan itu. Ya, luar biasa! Karena menurut kebanyakan orang, kelemahan itu fatal dan permanen sehingga tidak ada jalan lain bagi mereka kecuali menggantungkan diri pada orang lain.

Tapi tidak untuk para penyandang cacat yang sukses ini. Kelemahan bukanlah alasan untuk berpangku tangan, menunggu uluran tangan dari orang lain. Kelemahan justru memacu mereka untuk mengatasi kelemahan itu. Alih-alih menjadikan kelemahan sebagai alasan untuk mengharap bantuan, justru mereka menggunakan kelemahan sebagai alasan untuk mandiri.

Lain orang cacat, lain pula orang normal seperti Anda. Jika letak kehebatan orang cacat yang sukses adalah bagaimana menyikapi kelemahan itu, bagi orang normal yang tidak mau kalah sukses dengan mereka yang cacat, letak kehebatannya ada pada kemampuan mereka untuk menyadari kelemahan di dalam diri mereka.

Menyadari kelemahan adalah tindakan yang sulit dilakukan. Kebanyakan dari kita seringkali terlena dengan kelebihan yang menjadikan kita terlihat sempurna, ketimbang menyadari kekurangan yang menjadikan kita tidak sempurna.

Kebanyakan dari kita enggan repot-repot menyelidiki kekurangan masing-masing karena menganggap apabila kekurangan itu diketahui orang lain, maka bisa jadi orang lain meragukan kualitas dirinya karena kekurangan itu. Ia sendiri akan menganggap dirinya tidak sempurna lantaran kekurangan itu. Bagi kebanyakan dari kita, menyadari bahwa diri sendiri tidak sempurna atau memiliki kekurangan merupakan kenyataan yang tidak menyenangkan.

Itulah mengapa orang normal yang mampu menyadari kelemahannya adalah orang yang hebat.

Akan tetapi, menyadari kelemahan saja tidak cukup. Orang yang sukses tidak akan membiarkan kelemahan itu menggerogotinya dari dalam, menghalangi perjalanannya menuju sukses. Orang yang telah berhasil meraih sukses senantiasa mencari cara untuk mengatasi kekurangan itu. Orang sukses akan menggunakan kekurangan mereka sebagai motivasi untuk melakukan rencana-renacanya menuju sukses.

Sebagai contoh, orang yang memiliki kelemahan mudah lupa. Sedikit-sedikit lupa. Apa yang mau ia kerjakan, ia lupa. Apa agenda kerjanya hari ini, ia lupa. Apa yang ditanyakan kilennya, ia lupa.

Nah, orang yang masuk dalam kategori pertama ini, selain menyadari sifat pelupanya, ia juga akan menyikapi sifat pelupa itu dengan mengatasinya. Karena ia pelupa, maka ia pun mencatat semua yang akan ia kerjakan. Ia mencatat semua janji dengan klien. Ia mencatat keluhan-keluhan kilen. Apapun ia lakukan untuk mengakali sifat pelupanya itu. Ia tidak akan membiarkan sifat pelupa menghalanginya meraih sukses.

2. Orang yang menyadari kelemahannya, tapi tidak memiliki usaha yang kuat untuk mengatasinya

Tipe ini biasanya adalah tipe pesimis dan mudah menyerah. Ia menyadari apa yang kurang di dalam dirinya. Akan tetapi, kesadaran akan kekurangannya itu tidak mendorongnya untuk mengatasi kekurangan tersebut.

Karena pesimis, ia berpikir bahwa ia tidak mungin bisa mengatasi kelemahan yang dimilikinya. Atau, pada awalnya, ketika ia menyadari bahwa ia memiliki kelemahan, ia bertekad untuk mengatasi kelemahan itu. Namun, ia tidak memiliki langkah yang tepat untuk mengatasinya. Bahkan, ia enggan dan ogah-ogahan untuk merumuskan langkah itu.

Bisa jadi juga, pada awalnya, ia sudah merumuskan langkah-langkah untuk mengatasi kelemahannya. Tetapi, ketika langkah itu gagal, ia langsung menyerah. Sudah tidak ada lagi semangat untuk mencoba langkah itu sekali lagi.

Ia menyadari, ada kekuarang di dalam dirinya yang menghalanginya mencapai sukses. Tapi, ia enggan mengadakan perbaikan dan perubahan. Ia tidak memiliki visi ke depan.

Oleh karena itu, tidak jarang orang seperti ini susah mengalami pengalaman sukses.

3. Orang yang tidak menyadari kelemahannya

Tipe ini adalah tipe yang tidak peduli terhadap dirinya sendiri. Ia tidak peduli dengan kehidupannya. Ia tidak peduli dengan passion-nya. Ia tidak peduli dengan kelebihannya, apalagi kekuarangannya.

Tipe ini menjalani hidup apa adanya. Semboyan hidupnya adalah ikuti saja ke mana air mengalir. Ia tidak memiliki gairah untuk merubah nasibnya. Jika sekarang ia adalah karyawan biasa, ia tidak memiliki minat untuk menjadi lebih dari sekadar karyawan. Apabia ia seorang pengusaha, maka ia tidak memiliki hasrat untuk meningkatkan usahanya. Ia tidak pernah benar-benar peduli terhadap kesuksesannya. Baginya, yang penting adalah menjalani kehidupan apa adanya. Pokoknya membosankan!

Tak heran, orang tipe seperti ini tidak akan meraih sukses. Boro-boro sukses, ia sendiri tidak memiliki keinginan untuk sukses.

Tipe-tipe seperti ini dapat Anda jumpai pada para pelajar yang lebih suka memikirkan urusan remeh temeh, seperti cinta monyet ketimbang memikirkan masa depan. Anda dapat menjumpai tipe ini pada mereka yang tidak mau repot-repot belajar atau bekerja untuk sukses.

Standar hidup mereka adalah, menjadi orang biasa-biasa saja. Dan, justru standar hidup yang rendah itu yang menjadikan mereka enggan peduli pada kesuksesan diri sendiri, peduli terhadap diri sendiri, terhadap kelebihan dan kekurangan alias kelemahan diri sendiri. Karena standar yang biasa saja, mereka tidak terpacu untuk meraih kesuksesan yang dapat mereka banggakan.

Belajar dari Para Penyandang Cacat

Nah, sudah tahu, kan, tiga tipe orang berdasarkan cara mereka menyikapi kelemahan? Menurut Anda, Anda termasuk tipe yang mana? Jika Anda ingin sukses, jadilah tipe yang pertama. Jadilah seperti para penyandang cacat yang meraih sukses itu. Perhatikan bagaimana mereka menyikapi kelemahan yang mereka miliki.

Mereka senantiasa menyikapi kelemahan sebagai motivasi. Yup, motivasi untuk meraih sukses. Mereka menyadari bahwa tubuh mereka tidak sempurna. Mungkin Anda pun akan menganggap bahwa tubuh mereka penuh kekurangan yang memustahilkan mereka untuk menjadi orang yang mandiri dan sukses. Tetapi, justru karena kelemahan itu, mereka termotivasi untuk menjadi orang yang sukses.

Kelemahan di tubuh mereka bahkan memberi dorongan yang bisa jadi 10 kali lipat lebih besar dari dorongan yang dipunyai orang normal untuk meraih sukses. Kenyataan bahwa mereka memiliki kekurangan yang kasat mata bagi semua orang justru membuat mereka terdorong memiliki kelebihan untuk menutupi kekurangan atau kelemahan itu. Bahkan, menyadari memiliki kelemahan yang fatal jutsru membuat mereka meraih sukses melampaui kesuksesan yang diraih oleh orang-orang normal.

Sebaliknya, sebagai contoh, Anda, sebagai orang yang normal, menganggap bahwa hidup Anda baik-baik saja, tidak kurang satu apapun. Anda merasa tidak ada kekurangan dan kelemahan di dalam diri Anda yang mengganggu perjalanan Anda menuju sukses. Hasilnya, Anda pun tidak terdorong untuk mengadakan perbaikan dan melakukan tindakan untuk menjadi orang yang unggul, untuk menutupi kelemahan Anda.

Boro-boro menyikapi kelemahan dengan bijak sebagaimana orang cacat menyikapi kelemahan mereka. Anda bahkan tidak menyadari jika Anda memiliki kelemahan. Oleh sebab itu, Anda tidak tahu apa yang mengahalangi Anda menuju sukses. Akibatnya, ketika kelemahan menghalangi perjalanan Anda , Anda tidak sadar. Tahu-tahu, usaha Anda gagal begitu saja.

Jadi, dalam usaha meraih sukses, bercerminlah pada orang cacat. Orang cacat memiliki kelemahan, begitu juga Anda. Kenalilah kelemahan-kelemahan Anda. Setelah itu, lakukan tindakan untuk mengatasinya. Dengan begitu, perjalanan Anda akan semakin mudah.

Artikel ini terinspirasi dari salah satu topik yang diangkat dalam buku Menjadi Pembelajar Sejati, karya Purnadina. Selain topik yang saya tulis menjadi artikel, masih banyak lagi topik menarik lainnya yang diangkat dalam buku tersebut, yang akan menginspirasi dan memotivasi Anda untuk meraih sukses dan menjadi lebih baik. Jika Anda merasa tidak ada waktu luang untuk membacanya secara lengkap, atau ada sebab-sebab lain yang menyebabkan Anda tidak sempat membaca buku tersebut, bergabunglah dengan Aquarius Note. Kami siap membantu Anda meringkaskan gagasan di dalamnya dengan jelas.

 

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *