Malas Baca Buku? Ini Dia Teknik Canggih Mengatasinya!

reading a lot of books

Jengkeeeel!!! Satu kata yang mewakili perasaan Anda saat teman meremehkan niat Anda untuk memulai kebiasaan membaca buku. “Alaaa, mainan baru. Paling cuma anget-anget tahi ayam. Lihat aja, lima menit juga bosan. Mentok-mentoknya tuh buku cuma jadi pajangan di rak,” begitu ejek mereka.

Parahnya, dalam hati, Anda pun mengakui dan menyadari bahwa Anda memang tidak pernah serius merubah kebiasaan malas membaca buku. Anda kecewa terhadap diri sendiri dan bertanya, “Kenapa, sih, selalu malas kalo mau baca buku?” Anda bertanya-tanya mengapa untuk berubah menjadi lebih baik sangat sulit.

Sebenarnya, yang membuat Anda malas yaitu karena Anda tidak sabar. Syarat terwujudnya perubahan adalah proses. Dari yang awalnya pada level rendah menuju level yang lebih tinggi. Dari level yang tinggi ke level yang lebih tinggi lagi. Begitu seterusnya hingga selesai. Nah, mengapa Anda malas? Karena Anda tidak sabar menjalani proses ini. Anda tidak sabar menghadapi level yang lebih sulit dibanding level sebelumnya. Anda bosan dan bahkan frustasi.

Lalu, apa yang harus Anda lakukan agar dapat bersabar menjalani proses tersebut? Tulisan ini ditujukan untuk memberikan pandangan kepada Anda bagaimana menumbuhkan kesabaran dan menghilangkan kemalasan saat membaca buku.

Lahir dari hasil pembacaan penulis terhadap buku The Practicing Mind karya Thomas Sterner, semoga tulisan ini memberikan manfaat bagi Anda.
Kembali pada bagaimana mengatasi kemalasan, langsung saja kita simak 

Apa yang terjadi saat Anda mulai malas?

Kata kuncinya ada pada pikiran! Hal yang menyebabkan Anda malas melakukan sesuatu yaitu pikiran Anda yang selalu berfokus pada goal alias hasil dari apa yang Anda lakukan. Saat membaca buku, yang ada di pikiran Anda adalah goal alias hasil dari pembacaan Anda. Anda terlalu memikirkan kapan pekerjaan itu (membaca buku) berakhir dan Anda menerima hasilnya. Anda terlalu galau apakah hasilnya nanti sesuai dengan harapan Anda atau tidak. Anda terlalu khawatir bahwa hasil yang Anda capai mengecewakan.

Nah, lalu mengapa Anda selalu galau dengan hasil? Jawabannya karena pikiran Anda dikuasai oleh emosi. Ketika proses membaca buku yang sedang Anda jalani tidak segera membawa Anda pada level selanjutnya, Anda pun frustasi. Anda berpikir, Anda tidak akan mencapai hasil karena untuk melalui level ini saja Anda tidak mampu.

Kembali pada pembahasan, emosi di atas muncul karena Anda melakukan penghakiman alias penilaian terhadap posisi Anda. Pikiran Anda didikte oleh persepsi: “I will be happy when X happens,” bahwa Anda akan bahagia ketika X terjadi. Anda akan bahagia ketika berhasil meraih apa yang menjadi tujuan Anda. Akibatnya, saat Anda belum mencapai tujuan, Anda pun merasa tidak bahagia.

Penjelasan mengenai bagaimana penghakiman memengaruhi perasaan kita dengan sangat brilian diungkapkan oleh Thomas Sterner. Dalam buku The Practicing Mind, Sterner menulis, “…you’d feel sure that you would not be happy or ‘successful’ until you could play a piece of music flawlessly. Every wrong note you hit, every moment you spend struggling with the piece, would be an affirmation that you had not reached your goal.”

Dalam buku tersebut, ia menyontohkan bagaimana penghakiman memengaruhi perasaan melalui contoh seorang murid kursus piano. Murid, yang sedang belajar bermain piano tersebut berpikir bahwa ia tidak akan sukses dan bahagia kecuali ia dapat bermain musik dengan sempurna.

Konsekuensi dari pikiran itu adalah setiap kesalahan memencet note menjadi penegas bahwa ia belum mencapai kesuksesan. Padahal, saat berlatih bermain musik, dan berlatih apapun, kesalahan senantiasa kita lakukan. Setiap detik perjuangan atau proses menjadi penegas bahwa kita belum mencapai apa yang kita inginkan. Ini mengakibatkan perasaan kita tidak bahagia.

Penggambaran Sterner di atas juga berlaku saat Anda melakukan kegiatan membaca buku. Saat Anda menemui kesulitan memahami satu dua paragraf, Anda menghukum diri Anda bahwa Anda telah gagal. Persepsi inilah yang menyebabkan Anda merasa tidak bahagia. Lebih jauh, persepsi inilah yang menyebabkan Anda frustasi dan akhirnya malas melanjutkan membaca buku.

Menumbuhkan Kesabaran dan Menghilangkan Kemalasan

Dalam buku The Practicing Mind, Thomas Sterner menulis, “You cannot change what you are unaware of.” Anda tidak dapat merubah apa yang tidak Anda sadari. Ungkapan ini sangat logis. Bagaimana Anda merubah sesuatu jika Anda tidak mengetahui duduk perkara sesuatu yang hendak Anda rubah? Bagaimana Anda merubah sesuatu jika Anda tidak menyadari bahwa hal itu salah, dan oleh karenanya Anda harus mengubahnya?

Oleh karena itulah, langkah pertama untuk menjadi sabar yaitu SADAR. Anda harus sadar bahwa Anda tidak sabar. Ketika Anda sadar bahwa Anda tidak sabar, Anda pun dapat, dengan SENGAJA, melakukan tindakan untuk mengatasi ketidaksabaran itu.

Nah, tindakan apa untuk mengatasi ketidaksabaran? Seperti yang disebutkan pada subbab sebelumnya, Anda tidak sabar karena persepsi Anda bahwa Anda akan bahagia saat tujuan atau goal Anda tercapai. Untuk itu, dengan sengaja, ubah perspektif tersebut dengan perspektif bahwa pencapaian atau goal bukanlah konsep yang absolut; Pencapaian atau goal itu relatif.

Pada kenyataannya, memang goal, kesempurnaan tidaklah absolut. Sebaliknya, kesempurnaan, goal selalu berubah seturut dengan waktu.
Saat kita masih kanak-kanak, kesempurnaan menurut kita adalah mainan yang bagus dan keren. Saat kita beranjak remaja, pandangan kita mengenai kesempurnaan pun berubah. Saat beranjak remaja, menurut kita, kesempurnaan adalah menjadi juara kelas. Saat kita dewasa, apa yang dulu kita anggap sempurna, mainan bagus, menjadi juara kelas, sudah tidak relevan lagi. Kita sudah tidak memerlukan itu semua.

Dengan menyadari bahwa konsep kesempurnaan atau goal tidaklah absolut, maka kita pun tergerak untuk tidak lagi membandingkan posisi kita saat melakukan suatu kegiatan dengan goal dari kegiatan tersebut. Lebih jauh, kita akan paham bahwa setiap gerakan yang kita lakukan adalah suatu pencapaian. Setiap gerakan yang kita lakukan dalam proses menuju goal adalah goal itu sendiri. Saat kita menyadari hal ini dan merasakannya, proses pun akan terasa menyenangkan dan membahagiakan. Kita akan betah menjalani proses.

 

Memang berat sekali rasanya saat kita berniat untuk mengubah kebiasaan, termasuk kebiasaan malas membaca buku. Ada saja hal yang menghalangi kita untuk berubah. Tantangan terbesarnya terletak pada proses. Proses merupakan sesuatu yang membosankan, membuat kita frustasi, kecewa, dan tidak sabar. Akan tetapi, percayalah bahwa kita dapat menaklukkan proses tersebut.

Ingatlah bahwa kemampuan menulis, mengetik, membaca tulisan, berjalan, mengendarai mobil, semuanya kita capai melalui proses dan perjuangan. Toh kita dapat melaluinya, dan sekarang kita bisa melakukan itu semua tanpa perjuangan. Ungkapan lama menyatakan, “there’s a will, there’s a way,” selama ada kemauan, di situ ada jalan. Oleh karena itu, jangan pernah kehilangan kemauan. Kemauan untuk berubah. Yup, berubah, dari yang tadinya malas menjadi rajin membaca buku.

Nah, sekarang, apakah Anda sudah siap untuk menaklukkan kemalasan Anda? Jangan lupa beri komentar.

Oya, jika Anda tertarik membaca buku The Practicing Mind karya Thomas Sterner, bergabunglah dengan Aquarius Note. Selamat membaca 

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *