Membaca Buku: Cara Memotivasi Diri yang sangat Luar Biasa: Kisah Motivasi

Hal atau kejadian apakah yang membuat Anda depresi dan frustasi sedemikian sehingga kehilangan motivasi yang sangat akut?

Well, bagi sebagian orang, hal yang membuat mereka depresi dan frustasi adalah tiadanya harapan untuk hidup lebih lama. Mereka tahu bahwa kondisi kesehatan mereka yang sudah sangat buruk tidak memungkinkan mereka untuk bertahan hidup, sekalipun dengan berbagai tindakan medis dan pengobatan.

Mungkin, mereka berkonsultasi kepada dokter mengenai penyakit yang sekian lama mereka derita, di mana sang dokter memberikan jawaban yang mengerikan: Harapan hidup tinggal satu tahun, dua tahun, atau, bahkan beberapa bulan ke depan saja.

Atau, mungkin juga mereka hanya mengira-ngira sendiri bahwa mereka akan segera meninggal akibat penyakit yang mereka derita tak kunjung sembuh sekaliupun sudah berobat ke mana-mana.

Demi mengahadapi vonis kematian yang datang dari sang dokter mapun dari asumsi diri sendiri, ada sementara orang yang menjadi sangat depresi. Vonis kematian membuat mereka sedih, merana, dan bercampur aduk semua rasa yang tidak mengenakkan. Intinya, semua perasaan itu membuat mereka kehilangan motivasi hidup.

Reaksi yang seperti itu wajar adanya. Siapa, coba, yang tidak kehilangan motivasi manakala dirinya divonis segera menemui ajal. Siapa pun orangnya, pastinya, ia melewati masa di mana ia kehilangan semangat, motivasi, dan kepercayaan hidup.

Tetapi, yang berbeda adalah, ada sementara orang yang mampu melewati masa-masa sulit itu sedemikian sehingga motivasinya bangkit kembali, gairah dan kepercayaan hidupnya bangkit kembali.

Nah, dalam artikel kali ini, penulis ingin mengajak Anda untuk menyimak suatu kisah hidup yang sangat motivatif mengenai seorang penderita penyakit maag akut yang divonis meninggal dalam beberapa tahun oleh dokter yang menanganinya.

Ini adalah sebuah kisah nyata yang dialami oleh salah satu sahabat dekat penulis.

Kisah Siska

Sebut saja, namanya Siksa (nama samaran), seorang gadis yang berasal dari kota Tuban, Jawa Timur.

Saat penulis pertama kali mengenalnya, ia telah menginjak usia 15 tahun. Penulis mengenalnya di sebuah asrama, di mana penulis waktu itu sedang duduk di bangku kelas dua SMA, sementara Siska putus sekolah. Ia hanya mengikuti pelajaran non-formal yang diberikan oleh pengelola asrama.

Mungkin Anda bertanya, mengapa Siska putus sekolah. Yup! Siska putus sekolah semenjak ia sering bolak-balik, keluar masuk rumah sakit lantaran penyakit maagnya.

Pada mulanya, penyakit itu menyerangnya dalam kadar yang ringan. Tetapi, lama-kelamaan, karena pola makan yang tidak dijaga, penyakit itu pun semakin mengganas. Hasilnya, ia harus sering dirawat di rumah sakit.

Sebelum bergabung dengan asrama tempat penulis tinggal selama SMA, Siska bersekolah di kampung halamannya di kota Tuban. Di kota itu, ia terkhir tercatat sebagai siswa kelas dua di salah satu sekolah menengah pertama.

Menurut penuturan teman sekaligus tetangganya, yang kebetulan juga tinggal di asrama tempat penulis tinggal, Siska merupakan seorang gadis yang cerdas. Ia memperoleh prestasi yang cukup membanggakan di sekolah. Di sekolah, ia terkenal sebagai seorang kutu buku, yang mencintai berbagai jenis buku, dari sejarah hingga pengetahuan alam.

Selain mencintai buku, ia juga sangat mencintai pendidikan dirinya. Ia merupakan murid yang sangat rajin belajar, memiliki rasa penasaran yang tinggi, serta kemauan yang keras.

Namun demikian, psikologisnya berubah semenjak ia terserang penyakit maag akut, terlebih semenjak dokter yang menanganinya memberikan vonis kematian beberapa tahun lagi kepadanya. Ia menjadi gadis pemurung, yang kehilangan semangat dan motivasi untuk belajar, serta motivasi hidup.

Divonis Meninggal, Putus Sekolah, dan Kehilangan Motivasi Hidup

Singkat cerita, semenjak sering keluar masuk rumah sakit, ia semakin ketinggalan banyak pelajaran di sekolah. Nah, karena itulah, akhirnya ia pun memutuskan untuk keluar dari sekolah.

Masa ini menandai masa kelamnya sebagai seorang gadis yang baru beranjak remaja. Ia sedih dan frustasi karena kondisi kesehatannya yang kian hari kian memburuk tidak memungkinkannya untuk melanjutkan sekolah hingga ke jenjang pendidikan tinggi yang diimpikannya. Selain itu, tentu saja, ia frustasi dan depresi lantaran kematian, yang kata sang dokter, telah menunggunya.

Banyak waktu yang tersita untuk berobat dan menginap di rumah sakit. Banyak pula biaya yang harus dikeluarkan orangtuanya untuk biaya berobat dan menginap di rumah sakit. Itulah yang menjadi pertimbangannya memutuskan untuk putus sekolah. Sementara itu, kehilangan kesempatan untuk belajar juga menjadi alasan (selain alasan kematian) mengapa psikologisnya berubah dari anak yang ceria dan penuh semangat menjadi anak yang pemurung dan tanpa motivasi hidup.

Jadi, ada dua faktor yang membuatnya kehilangan semangat dan motivasi hidup. Yang pertama yaitu vonis kematian dari sang dokter. Yang kedua, kehilangan kesempatan untuk melanjutkan pendidikan hingga ke jenjang yang setinggi-tingginya.

Bangkit dari Keterpurukan

Tetapi, syukur, karena masa kelam itu tidak memengaruhinya begitu lama. Seletah bergelut dengan dirinya sendiri, pada akhirnya ia pun tersadar bahwa ia harus bangkit dan ikhlas dalam menjalani hidup yang tidak lama lagi.

Dan, tahukah Anda apa yang membuatnya tersadar dan bersemangat kembali? Yup! tidak salah lagi! Apa yang membuat ia tersadar dan bersengat hidup lagi adalah kegemarannya dalam membaca buku.

Bagaimana bisa kegemaran membaca buku membuat motivasi hidupnya pulih kembali?

Dalam sebuah percakapan dengan penulis mengenai tujuan hidup di dunia, Siska menyatakan bahwa tujuan hidupnya adalah untuk mengisi hari-hari terkahirnya dengan hal-hal yang bermanfaat dan yang membuatnya bahagia. Ia menuturkan bahwa dirinya sudah capai merasakan dan mendramatisasi penyakit yang dideritanya. Oleh karena itulah, ia harus keluar dari perasaan yang tidak mengenakkan itu.

Dan, salah satu cara untuk dapat mengalihkan perhatiannya dari penyakit maag akut yang dideritanya, juga untuk membuat dirinya sendiri bahagia yaitu dengan memfokuskan diri pada kegemarannya, yakni membaca buku.

Sejak itu pun, ia kembali menekuni kegemarannya membaca buku.

Di asrama, ia senantiasa membawa buku kemana pun ia berada. Ia banyak menghabiskan waktu bersama orang-orang yang juga memiliki kegemaran yang sama. Ia selalu mengajak teman-temannya untuk mendiskusikan berbagai hal, terutama berbagai hal yang tertulis di dalam buku, mulai dari sejarah, pengetahuan umum, agama, filsafat, dan pengembangan diri.

Aktivitas membaca buku yang ia lakukan setiap hari, serta diskusi-diskusi ringan bersama teman-teman yang memiliki kegemaran yang sama sungguh telah mengembalikan motivasi, semangat, dan kepercayaannya pada hidup. Ia tidak lagi peduli dengan vonis kematian yang awalnya sangat mengganggunya dan membuatnya depresi.

Penulis memerhatikan pulihnya semangat hidupnya dari caranya dalam mengatur pola makan. Ia menjadi lebih peduli dengan pola makannya. Ia menjaga agar sedemikian sehingga penyakit maag akutya tidak kambuh kembali.

Pelajaran Hidup

Satu pelajaran yang penulis dapat darinya yaitu semangat hidupnya yang tinggi, bahkan mengalahkan semangat hidup penulis waktu itu.

Penulis masih ingat, dalam percakapan penulis dengannya mengenai tujuan hidup, di mana ia menjawab bahwa tujuan hidupnya adalah untuk mengisi hari-hari terakhirnya dengan hal-hal yang membuatnya bahagia, penulis menjawab bahwa tujuan hidup bagi penulis adalah nothing, alias tidak ada (Sekadar informasi, saat duduk di bangku SMA, demikianlah pandangan penulis mengenai tujuan hidup).

Jika jawaban Siska mampu membuatnya bahagia dalam saat tekahir hidupnya, jawaban penulis membuat penulis kehilangan motivasi, kepercayaan, dan semangat hidup.

Sekarang, setelah Siska benar-benar telah pergi, meninggalkan semua yang dicintainya, termasuk buku, keluarga, dan sahabat-sahabatnya, penulis baru tersadar bahwa tidak ada yang salah dengan jawaban Siska maupun jawaban penulis waktu itu mengenai arti dan tujuan hidup.

Yup! Tujuan hidup memang tidaklah ada. Hidup tidaklah memiliki arti. Kitalah yang memberikan arti pada hidup sedemikian sehingga hidup menjadi sangat penting. Siska berhasil memberikan hidupnya sebuah arti, sebuah tujuan, yakni bahagia di saat-saat terakhirnya. Dan, benar, ia menjumpai kematian itu dengan perasaan bahagia dan serba tercukupi.

Kegemaran yang Powerful

Dari kisah di atas, ada satu lagi pelajaran yang dapat dipetik, yakni begitu powerful-nya kegemaran yang dimiliki seseorang. Dalam kasus Siska, kegemarannya menempati kedudukan penting dalam hidupnya. Arti hidupnya terletak pada pemenuhannya atas kebutuhan membaca buku. bisa dikatakan bahwa kegemarannya itu telah menyelamatkan saat-saat terakhirnya sedemikian sehingga menjadi saat-saat yang penuh kebahagiaan.

Nah, sekarang, bagaimana dengan Anda? Apa kegemaran Anda? Apakah kegemaran itu begitu penting bagi hidup Anda hingga menjadi salah satu tujuan hidup yang terus memotivasi Anda? Jangan ragu untuk berbagi dengan penulis, di sini. Dan, jangan lupa untuk bergabung dengan Aquariusnote.com 😀

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *