Membaca Buku sambil Mendengarkan Musik? Efektifkah?

books-audio_9648539_215912c

Apakah membaca buku sambil mendengarkan musik menjadi kebiasaan Anda? Apakah musik tidak dapat dipisahkan dari Anda? Di mana ada Anda, di situ pasti ada musik, tidak terkecuali saat Anda sedang membaca buku.

Well, bagi sebagian orang, mendengarkan musik saat membaca buku merupakan hal yang wajib. Keheningan saat membaca buku saaaaangat menyebalkan! Dengan musik, paling tidak, kita dapat melenyapkan perasaan sebal itu.

Begitupun sebaliknya saat membaca buku di tempat yang ramai, seperti perpustakaan. Mendengarkan musik dapat menjadi cara terbaik untuk menghindari keriuhan yang terjadi di dalamnya.

Akan tetapi, pernahkah Anda bertanya-tanya pengaruh musik terhadap efektifitas kegiatan membaca? Pernahkah Anda mencoba membandingkan efektifitas kegiatan membaca buku sambil mendengarkan musik dengan saat Anda membaca buku tanpa musik?

Penasaran? Ingin tahu pengaruh musik terhadap kegiatan membaca buku? Nah, sebelum beranjak ke pembahasan itu, mari kita simak dulu penjelasan tentang kegiatan multitasking. Ini penting, mengingat kegiatan membaca buku sambil mendengarkan musik merupakan salah satu contoh kegiatan multitasking.

Kegiatan Multitasking

Kegiatan multitasking adalah kegiatan yang terdiri dari dua tugas atau lebih yang dilakukan dalam waktu bersamaan. Dalam hal ini, membaca buku sambil mendengarkan musik merupakan salah satu contohnya.
Pertanyaannya, apakah kegiatan multitasking efektif?
Pada tulisan yang berjudul Technology: Myth of Multitasking, seorang pakar psikologi dari Universitas San Francisco, Jim Taylor menjelaskan bahwa efektifitas kegiatan multitasking dipengaruhi oleh jenis tugas yang terlibat. Lebih jauh, dalam tulisan itu, Taylor menjelaskan bahwa efektifitas kegiatan multitasking tidak terganggu manakala

1. Salah satu tugas merupakan tugas yang otomatis

Efektifitas multitasking tidak tergaunggu manakala salah satu tugas yang terlibat di dalamnya merupakan tugas otomatis. Maksud otomatis adalah bahwa dalam pelaksanaannya, tidak diperlukan konsentrasi dan fokus.

Sebagai contoh kegiatan menonton TV sambil mengunyah permen. Tugas mengunyah permen merupakan tugas yang otomatis. Kita tidak butuh konsentrasi saat mengunyah permen. Bahkan, tugas mengunyah permen dapat kita lakukan tanpa sadar.

Nah, dalam kegiatan menonton TV sambil mengunyah permen, karena tugas mengunyah permen tidak membutuhkan konsentrasi, atau dalam kata lain, karena tugas mengunyah permen merupakan tugas yang otomatis, maka tugas itu tidak mengganggu konsentrasi kita saat menonton TV. Kegiatan menonton TV tidak terganggu karena kegiatan mengunyah permen; Keduanya dapat dilakukan dalam waktu yang bersamaan.

2. Tugas-tugas yang terlibat melibatkan fungsi otak yang berbeda-beda

Efektifitas multitasking juga tidak terganggu manalaka tugas-tugas yang terlibat di dalamnya melibatkan bagian otak yang berbeda.

Nah, dalam tulisan di atas, Taylor mencontohkannya dengan kegiatan membaca buku sambil mendengarkan musik instrumental. Menurutnya, bagian otak yang digunakan untuk membaca buku berbeda dengan bagian otak yang digunakan untuk mendengarkan musik instrumental. Karena itulah, mendengarkan musik instrumental tidak mengganggu kegiatan membaca buku.

Bagaimana halnya dengan membaca buku sambil berbicara di telepon dan mengirimkan pesan instan di media sosial? Apakah kegiatan multitasking tersebut dapat dilakukan? Jawabannya, tentu saja tidak!

Masih menurut Jim Taylor, kegiatan multitasking di mana melibatkan bagian otak yang sama merupakan kemustahilan. Yang terjadi sebenarnya bukanlah multitasking melainkan serial tasking. Dalam serial tasking, “Rather than engaging in simultaneous tasks, you are in fact shifting from one task to another to another in rapid succession,” tulis Taylor. Dalam serial tasking, alih-alih melakukan tugas-tugas secara serentak, Anda pada kenyataannya beranjak dari satu tugas ke tugas lain ke tugas lainnya secara cepat. Ini artinya, saat satu tugas belum selesai, Anda berganti ke tugas lain, begitu seterusnya hingga rangkaian serial tasking selesai.

Menurut penelitian yang termuat dalam situs American Psycological Association (APA), serial tasking tidaklah efektif. Saat Anda melakukan serial tasking, yang terjadi adalah, Anda beranjak dari satu tugas ke tugas lain.

Saat beranjak dari satu tugas ke tugas berikutnya, tentu saja dibutuhkan waktu, bukan? Secepat-cepatnya kita beranjak dari satu gerakan ke gerakan lain, tetap saja dibutuhkan waktu, sekalipun hanya sepersekian detik.

Nah, begitu pula saat Anda melakukan kegiatan serial tasking. Waktu Anda tersita untuk berlalih dari tugas satu ke tugas lainnya. Demikian hingga serial tasking tersebut selesai.

Mendengarkan Musik saat Membaca Buku

Dari penjelasan mengenai efektifitas kegiatan multitasking di atas, dengan jelas kita peroleh kesimpulan yaitu bahwa efektifitas kegiatan multitasking tidak terganggu manakala salah satu tugas merupakan tugas yang otomatis. Atau, jika tidak, tugas-tugas yang terlibat di dalamnya melibatkan bagian otak yang berbeda.

Lalu, bagaimana kaitannya dengan kegiatan membaca buku sambil mendengarkan musik? Karena kegiatan itu (membaca buku sambil mendengarkan musik) termasuk kegiatan multitasking, maka kesimpulan di atas berlaku juga untuk kegiatan tersebut.

Efektifitas kegiatan membaca buku sambil mendengarkan musik tidak terganggu manakala

1. Tugas mendengarkan musik tidak membutuhkan konsentrasi dan fokus, atau

2. Tugas mendengarkan musik melibatkan bagian otak yang berbeda dengan bagian otak yang digunakan untuk membaca.

Dalam tulisan Jim Taylor di atas, telah disebutkan bahwa mendengarkan musik instrumental menggunakan bagian otak yang berbeda dengan bagian otak yang digunakan saat membaca buku. Dengan demikian, kegiatan membaca buku dapat dipadukan dengan kegiatan mendengarkan musik instrumental. Atau, dalam kata lain, Anda dapat membaca buku sembari mendengarkan musik instrumental.

Nah, sekarang pertanyaannya, bagaimana dengan jenis musik yang mengandung lirik? Apakah efektif membaca buku sambil mendengarkan musik dengan lirik?

Untuk menjawab pertanyaan itu, mari kita simak penjelasan berikut.

Sebuah riset mengenai pengaruh musik dalam kegiatan belajar dilakukan oleh Universitas Wales.

Partisipan dibagi ke dalam lima kelompok yang berbeda. Kelompok pertama diminta untuk belajar sambil mendengarkan musik (dengan lirik) yang mereka sukai; Kelompok yang kedua diminta untuk belajar sambil mendengarkan musik (dengan lirik) yang tidak mereka sukai; Kelompok ketiga diminta untuk belajar di tempat yang sepi, tanpa musik; Kelompok keempat diminta untuk belajar sambil mendengarkan ujaran ‘tiga’ yang diulang-ulang; Kelompok kelima diminta untuk belajar sambil mendengarkan ujaran ‘satu, dua, tiga, dan seterusnya’ yang disebut secara acak.

Dalam riset tersebut, ditemukan bahwa partisipan pada kelompok ke-3 dan ke-4 lebih mudah menghapal pelajaran ketimbang partisipan pada kelompok ke-1, ke-2, dan ke-5. Dengan demikian, dapat disimpulkan bahwa mendengar musik (dengan lirik), baik musik yang disukai maupun musik yang tidak disukai, membawa dampak negatif pada kegiatan belajar, termasuk membaca buku.

Menurut Clifford Nass, pakar komunikasi dari Universitas Stanford, hal itu dikarenakan, bagian otak yang digunakan untuk mendengarkan lirik lagu sama dengan bagian otak yang digunakan untuk memroses kata (membaca). Hal ini berarti bahwa ketika Anda belajar (membaca buku) sembari mendengarkan lagu, otak Anda berusaha untuk memroses dua hal dalam waktu yang sama, yaitu mendengarkan dan mengiterpretasikan lirik, dan memahami bacaan Anda. Akibatnya, pemahaman Anda terhadap bacaan pun terhambat oleh tugas untuk menginterpretasikan lirik.

Pernyataan yang sama juga diungkapkan oleh Jim Taylor. Dalam artikel Technology: Myth of Multitasking, Taylor menjelaskan, “However, your ability to retain information while reading and listening to music with lyrics declines significantly because both tasks activate the language center of the brain.” Kemampuan Anda untuk memahami informasi ketika membaca sambil mendengarkan musik dengan lirik menurun secara signifikan karena kedua tugas tersebut mengaktifkan pusat bahasa dalam otak Anda.

Solusi

Dari penjelasan di atas, setidaknya dapat kita tarik dua kesimpulan. Yang pertama, mendengarkan musik berlirik membawa dampak yang buruk bagi kegiatan membaca buku. Yang kedua, mendengarkan musik instrumental tidak memengaruhi efektifitas kegiatan membaca buku.

Dengan demikian, Anda masih dapat menikmati musik saat sedang membaca buku. Pilihlah musik instrumental sehingga pemahaman Anda terhadap materi bacaan tidak terganggu dengan kegiatan mendengarkan dan menginterpretasikan lirik lagu.

Selamat membaca! Jangan lupa beri komentar :

 

 

 

 

5 thoughts on “Membaca Buku sambil Mendengarkan Musik? Efektifkah?”

  1. Kalo ane sukanya baca sambik denger musik instrumental dari game, ada yang genrenya orchestral ada yg rock hehe. Emang ga ganggu sih, bikin bantu buat ngilangin ngantuk malah. Kalau musik pakai lirik baru distrak tuh.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *