Membaca Novel Sastra Membantu Anda Memahami Orang Lain? Cari Tahu Alasannya, Yuk!

Apakah selama ini Anda membatasi diri dalam membaca buku? Apakah Anda mengharamkan buku-buku novel, baik novel sastra mau pun novel populer dalam daftar bacaan Anda?

Mungkin Anda berpikir bahwa membaca novel atau fiksi, baik novel sastra atau pun novel populer tidaklah memberikan banyak manfaat. Yang ada, novel justru membuat hidup Anda semakin dramatis. Atau, Anda alergi terhadap novel karena jenis bacaan tersebut terkesan “girly”?

Well, penulis paham dan mengerti. Tetapi, pernahkah Anda berpikir bahwa novel juga berkontribusi dalam memperkaya pengetahuan Anda? Cerita dalam novel atau fiksi didasarkan pada riset yang mendalam. Jadi, sang penulis (author) tidaklah sembarangan dalam mengarang cerita.

Setting Jakarta, misalnya, ya, harus sama persis dengan Jakarta dalam dunia nyata. Demikian juga jika novel berlatarkan pulau Jawa di zaman kolonial, maka sang penulis harus menggambarkan kondisi pulau Jawa pada zaman kolonial seperti yang sebenarnya.

Bahkan, jika sang penulis tidak familiar dengan tempat yang dipilihnya sebagai latar untuk karyanya, ia harus mengadakan observasi untuk mengetahui kondisi nyata tempat itu. Ia harus tahu seluk beluk tempat itu beserta kebudayaan yang berlaku di dalam masyarakatnya.

Novel yang berdasarkan cerita khayalan pun harus memperhatikan banyak hal. Sekali pun ceritanya tidak masuk akal, seperti Harry Potter atau Spiderman, di mana cerita tidak mengikuti kaidah hukum alam yang sebenarnya, tetap saja setting dan alur cerita tidak dapat dibuat secara serampangan.

Bayangkan jika di dalam novel Harry Potter, tiba-tiba muncul sosok Kamandanu. Apa kata dunia?! Hehehe…. Para pembaca niscaya akan memrotes sang penulis dan menganggap novel tersebut tidak bermutu.

Selain memperluas pengetahuan Anda karena menyajikan cerita berdasarkan kondisi dunia nyata, novel juga merangsang otak Anda untuk memvisualisasikan alias mengimajinasikan setiap adegan yang tersaji di dalamnya. Ini sangat bermanfaat untuk melatih daya imajinasi Anda.

Novel juga memberikan kesempatan kepada Anda untuk menyelami dunia yang berbeda dari dari dunia nyata. Dengan membaca novel, otak Anda pun akan terrangsang untuk berpikir lebih mendalam, terutama ketika novel yang Anda baca mengandung banyak sekali kiasan yang sulit untuk dipahami.

Nah, banyak sekali, bukan, manfaat yang dapat Anda ambil dari membaca novel? Bahkan, menurut sebuah riset yang dilakukan oleh New School for Social Research, yang dipimpin oleh seorang pakar psikologi bernama David Comer Kidd dan temannya, Emanuele Castano, diketahui bahwa novel, terutama novel sastra dapat membantu Anda dalam memahami perasaan dan karakter orang lain. (http://www.theguardian.com/books/booksblog/2013/oct/08/literary-fiction-improves empathy-study).

Kok bisa? Untuk mengetahui alasannya, yuk, simak penjelasaanya berikut ini. Namun, sebelumnya, kita kupas dulu perbedaan antara novel sastra dengan novel populer.

Novel Sastra Vs Novel Popular

Novel populer

Hal pertama yang harus diperhatikan terkait perbedaan antara novel sastra dengan novel populer yaitu tujuan penulisan novel itu sendiri.

Sebagaimana yang dijelaskan dalam situs www.sastra-indonesia.com, tujuan penulisan novel populer adalah tujuan komersial. Artinya, penulisan itu ditujukan semata-mata untuk bisnis.

Nah, karena ditujukan semata-mata untuk bisnis, untuk meraih keuntungan, novel jenis ini menyasar kepada pembaca dari berbagai kalangan.

Adapun mengenai kontennya, novel jenis ini cenderung berisi hiburan. Hal ini bisa dipahami, mengingat tujuan utama novel ini adalah meraih keuntungan finansial.

Kita tahu bahwa masyarakat enggan membaca bacaan yang berat-berat. Alasannya, kehidupan mereka sudah dipenuhi dengan beban yang sangat berat, yang menguras tenaga dan pikiran. Untuk itulah, secara psikologis, mereka tidak ingin menambah beban di dalam pikiran mereka dengan berbagai bacaan yang kontennya sulit sekali dicerna.

Saat memilih bacaan, mereka pun lebih memilih bacaan yang ringan, yang isinya menghibur sedemikian sehingga dengan membaca bacaan tersebut, mereka dapat mengusir kepenatan hidup.

Nah, karena isinya berupa hiburan dan hal-hal yang ringan, tidak jarang novel populer menyajikan hal-hal yang gampang dicerna oleh pikiran pembacanya. Kita akan jarang menemui kiasan-kiasan yang sulit dipahami dalam novel populer.

Bahkan, karakter para lakonnya pun seringkali digambarkan secara hitam dan putih. Lakon utama digambarkan sebagai karakter yang sempurna sepenuhnya. Sementara itu, lakon antagonis digambarkan sebagai penjahat seutuhnya.

Dengan penokohan yang hitam-putih seperti itu, pembaca tidak perlu berkerut dahi untuk menerka-nerka, lakon yang mana yang karakternya layak ditiru dan lakon yang mana yang karakternya tidak pantas ditiru. Semua sudah tersaji secara gamblang di hadapan pembaca.

Ciri lain dari novel populer yaitu pesan yang disampaikan dapat dengan mudah ditangkap oleh pembaca. Hal ini dikarenakan, novel populer cenderung mengikuti logika dan budaya yang berlaku alias budaya mainstream. Jadi, pembaca langsung setuju dengan pesan yang disampaikan di dalamnya, karena pesan tersebut tidak bertentangan atau kontroversial dengan logika dan kebudayaan mereka.

Novel sastra

Jika tadi kita mengulas tentang novel populer, sekarang kita kupas ciri-ciri novel sastra.

Mari kita mulai dari tujuan penulisan novel sastra. Biasanya, tujuan utama novel sastra ditulis bukan untuk tujuan komersial. Adapun jika sang penulis mendapatkan keuntungan finansial dari terbitnya novel tersebut, itu merupakan keuntungan sampingan.

Penulisan novel sastra lebih ditujukan untuk keindahan atau sebagai kritik sosial.

Nah, sehubungan dengan tujuannya sebagai kritik sosial, novel sastra ditulis dengan bahasa kiasan. Tujuannya, supaya kritik tersebut tidak mudah terbaca oleh pihak mainstream, yakni pihak yang menjadi sasaran kritik.

Dengan bahasa kiasan, tentu saja, pembaca novel jenis ini didorong untuk mengerutkan dahi. Otak mereka diperas untuk mencari tahu maksud dari si pengarang novel terkait dengan cerita yang disampaikannya.

Selain itu, karena ceritanya mengandung kontroversi, karakter-karakternya seringkali digambarkan dengan penggambaran yang ambigu, bukan penggambaran yang hitam-putih. Dengan demikian, pembaca kesulitan menentukan lakon mana yang perilakunya patut ditiru dan lakon mana yang perilakunya tidak patut ditiru.

Membaca novel sastra membuat pembacanya berpikir keras untuk memahami pesan yang terkandung di dalamnya. Dan, karena dalam novel sastra, pesan disampaikan dalam bentuk kiasan, maka setiap pembaca memiliki interpretasi yang berbeda-beda mengenai pesan tersebut.

Novel Sastra Membantu Anda Memahami Orang Lain

Nah, setelah mengetahui perbedaan anatara novel populer dengan novel sastra, sekarang, mari kita kupas mengapa novel sastra dapat membantu anda memahami orang lain.

Sebagaimana yang telah penulis sebutkan sebelumnya, riset yang dilakukan oleh David Comer Kidd dan Emanuele Castano dari New School for Social Research menemukan bahwa novel sastra dapat membantu pembacanya menjadi lebih empatik terhadap orang lain.

Riset tersebut melibatkan 1000 partisipan, di mana mereka secara acak diminta untuk membaca novel populer atau novel sastra.

Oya, dalam riset tersebut, kedua pakar menggunakan teknik teori pikiran (theory of mind) untuk mengukur seberapa akurat partisipan mengidentifikasi emosi yang dialami oleh orang lain.

Hasilnya menunjukkan bahwa partisipan yang membaca novel sastra lebih akurat dalam mengenali emosi seseorang dibanding mereka yang membaca novel populer.

Lantas, mengapa demikian? Mengapa membaca novel sastra membuat mereka lebih empatik terhadap orang lain? Kidd menjawab, “What great writers do is to turn you into the writer. In literary fiction, the incompleteness of the characters turns your mind to trying to understand the minds of others.” (http://www.theguardian.com/books/booksblog/2013/oct/08/literary-fiction-improves-empathy-study). Apa yang dilakukan oleh seorang sastrawan yaitu merubah pembaca menjadi penulis. Dalam novel sastra, ketidakutuhan karakter mendorong pembaca untuk mencoba memahami pemikiran orang lain.

Nah, jadi, demikianlah penjelasan mengapa novel sastra dapat membantu kita meningkatkan kepekaan dan empati terhadap orang lain.

Novel sastra, yang ditulis dengan bahasa kiasan mengandung pesan yang tidak mudah ditangkap oleh para pembacanya. Pembaca juga didorong untuk berpikir lebih keras mengenai karakter masing-masing lakonnya.

Penggambaran karakter para lakon sangat ambigu, sehingga pembaca tidak dapat menilainya secara hitam putih.

Nah, jika membaca novel sastra menjadi kebiasaan pembaca, maka bayangkan yang bakal terjadi. Yang bakal terjadi yaitu, pembaca terbiasa untuk tidak gampang memberikan stigma kepada orang lain.

Pembaca akan terbiasa untuk menghargai perangai orang lain karena mereka menganggap bahwa mereka tidak mengetahui secara pasti sifat orang lain. Singkatnya, pembaca menjadi lebih menghargai perasaan dan emosi orang lain.

Sekarang, bagaimana pendapat Anda mengenai manfaat membaca novel sastra seperti yang penulis paparkan di atas? Apakah Anda berubah pikiran? Tergerakkah Anda untuk memasukkan novel sastra ke dalam daftar bacaan wajib Anda?

Penulis tunggu komentarnya, ya.

Oya, jangan lupa untuk bergabung dengan aquariusnote dan temukan banyak manfaat di dalamnya.

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *