Mind Map: Kunci Sukses Memahami dan Mengingat Informasi yang Diperoleh dari Bacaan

Masihkah Anda menggunakan cara lama dalam meringkas dan memahami buku yang Anda baca? Anda tulis semua poin penting yang disampaikan oleh bacaan Anda. Selain itu, Anda juga masih suka mencoret-coret buku yang Anda baca dengan pena warna-warni, dengan maksud Anda tidak lupa poin-poin penting itu.

Yeach, memang, meringkas dan menandai poin-poin penting dari bacaan merupakan dua cara yang terbukti mampu membantu kita memahami dan mengingat poin-poin penting itu. Tetapi, terkadang, dua cara itu hanya memiliki sedikit pengaruh bagi pemahaman dan penyerapan informasi. Lebih-lebih meringkas buku, hal itu tentu saja menghabiskan banyak waktu.

Bayangkan saja, meringkas buku sama artinya dengan bekerja dua kali; Pertama, membaca buku, kedua meringkas isinya, di mana kedua aktivitas itu tidak dapat dilakukan dalam waktu yang bersamaan. Atau, mungkin Anda membaca dan meringkas buku dalam waktu yang bersamaan. Tetapi, tentu saja metode ini kurang berpengaruh bagi pemahaman Anda. Yang ada, justru hasil ringkasan tidak sistematis dan membingungkan Anda.

Sebenarnya, ada cara yang jauh lebih efektif dalam memahami dan menyerap informasi dalam buku yang Anda baca. Cara apakah itu? Yup! Mind mapping.

Mind map adalah diagram yang digunakan untuk mengorganisir informasi secara visual (http://en.wikipedia.org/wiki/Mind_mapping). Anda dapat membuat mind map dengan cara menuliskan ide pokok dari buku yang Anda baca di tengah-tengah selembar kertas, kemudian menuliskan sub-sub ide sebagai penjabaran dari ide utama tersebut.

Nah, untuk lebih jelasnya, mari simak penjabaran berikut ini.

Apa Itu Mind Map?

Seperti yang sudah saya sebutkan di atas, mind map adalah diagram yang digunakan untuk mengorganisir informasi secara visual. Maksudnya, mind map adalah cara menuangkan ide dan pemikiran ke dalam bentuk diagram. Mind map juga dapat digunakan untuk meringkas ide atau informasi yang diperoleh dari sebuah buku.

Sebagai sebuah diagram, mind map terdiri dari beberapa unsur yang menyusunnya. Unsur-unsur pembentuk mind map antara lain ide utama, penjabaran dari ide utama (sub-ide), penjabaran dari sub-ide, dan seterusnya hingga unit yang paling kecil, serta garis-garis yang digunakan untuk menghubungkan antar-bagian (bagian pokok dengan bagian penjebaran).

Dalam sebuah mind map, ide pokok, sub-ide, dan penjabarannya diwakili oleh sebuah kata kunci. Kata kunci dapat berupa gambar, kata, atau pun frasa. Yang pasti, kata kunci harus mewakili ide utama, sub-ide, atau pun penjabarannya.

Sementara itu, garis-garis yang menghubungkan antar-bagian dibuat sedemikian sehingga berbentuk kurva alias melengkung. Gunanya, agar otak kita tidak bosan saat mengakses dan memahami diagram tersebut.

Mengapa Mind Map?

Apa yang muncul di dalam otak Anda ketika Anda, misalnya, meminum secangkir kopi? Apa pun itu, yang pasti buaaaaanyak sekali kesan yang muncul di dalam otak Anda. Mungkin di dalam otak Anda, akan muncul kesan aroma, warna kopi, cangkir, warna cangkir, binatang luwak, biji kopi, memori tentang suasana menikmati kopi yang pernah Anda alami sebelumnya, coffeemaker, teman Anda yang paling maniak kopi, dan sebagainya.

Semua kesan itu mewakili hanya satu konsep, yaitu kopi. Karena posisi semua kesan itu sama, yaitu sebagai representasi kopi, maka sturktur semua kesan itu sejajar, bukan subordinat antara satu sama lain.

Nah, dalam bahasa psikologi, cara otak berpikir yang seperti di atas disebut dengan radiant thinking. Jika digambarkan, radiant thinking mirip dengan sebuah pohon, yang terdiri dari batang, cabang besar, cabang kecil, dan seterusnya. Jika diibaratkan sebagai pemikiran atau ide, batang adalah ide pokoknya, sedangkan cabang besar adalah penjabaran yang merepresentasikan atau menjelaskan ide pokok tersebut. Cabang kecil merupakan penjabaran yang merepresentasikan atau menjelaskan cabang besar.

Dalam konteks kopi, batangnya adalah konsep mengenai kopi, sedangkan cabang-cabang besarnya adalah aroma, warna kopi, cangkir, warna cangkir, binatang luwak, biji kopi, dan sebagainya seperti yang sudah disebutkan sebelumnya. Cabang-cabang kecilnya, tentu saja, semua kesan yang mewakili atau menjabarkan masing-masing kesan di atas. Sebagai contoh, binatang luwak diidentikkan atau diasosiasikan dengan kotorannya, pohon kopi, daun pandan, aroma daun pandan, kebun, hutan, berburu, dan sebagainya.

Dengan cara yang sama, aroma kopi dapat diasosiasikan atau diidentikkan dengan aroma teh, cappucino, mocca, cokelat, suasana hangat, rokok, hujan deras, dan sebagainya.

Masing-masing kesan yang menggambarkan binatang luwak memiliki posisi yang sama, yaitu sebagai representasi binatang luwak. Oleh karena itu, posisi kesemua kesan itu sejajar, bukan hierarkis atau subordinatif.

Jika dituangkan ke dalam diagram mind map, maka konsep “binatang luwak” ditulis di tengah kertas, sementara semua kesan yang menggambarkan konsep itu di tulis menyebar, mengelilingi konsep “binatang luwak”. Konsep “binatang luwak” dan masing-masing kesan yang menggambarkannya dihubungkan dengan garis.

Dengan cara yang sama, konsep “kopi” dan masing-masing kesan yang menggambarkannya dihubungkan dengan garis.

Jika hubungan antar-kesan yang menggambarkan konsep kopi adalah sejajar, maka hubungan antara konsep kopi dengan masing-masing kesan yang menggambarkannya merupakan hubungan yang subordinatif. Kesan-kesan yang menggambarkan konsep kopi bisa disebut sebagai turunan atau penjabaran dari konsep kopi.

Sebagaimana hubungan-hubungan di atas, hubungan antar-kesan yang menggambarkan binatang luwak merupakan hubungan yang sejajar alias setara, sedangkan hubungan antara konsep binatang luwak dengan masing-masing kesan yang menggambarkannya merupakan hubungan yang subordinatif. Konsep binatang luwak menjadi induk pemikiran, sementara masing-masing kesan yang menggambarkannya berposisi sebagai turunan atau penjabaran dari konsep itu.

Karena cara otak kita berpikir mirip seperti pohon (sebagaimana dijelaskan di atas), maka cara paling efektif untuk mengungkapkan pemikiran-pemikiran kita adalah menuangkannya dalam bentuk diagram pohon. Nah, oleh Tony Buzan (penemu mind map) diagram pohon itu dimodivikasi sedemikian rupa sehingga menjadi jauh lebih menarik.

Berbeda dari diagram pohon pada umumnya, mind map dibuat dengan kombinasi warna, gambar, kata, dan garis. Dengan menggunakan diagram ini, kita dapat memetakan pemikiran kita, juga memetakan apa yang kita baca dari sebuah buku.

Karena sesuai dengan cara kerja otak kita, mind map jauh lebih efektif dibanding meringkas dengan cara biasa (menuliskan semua poin penting secara konvensional) atau pun menandai bagian-bagian yang penting di dalam sebuah buku.

Setidaknya, ada beberapa keuntungan yang dapat kita peroleh dengan menggunakan mind map saat meringkas sebuah buku, yaitu

Menghemat waktu

Meringkas buku dengan menggunakan mind map jauh lebih menghemat waktu dibanding meringkas buku dengan cara konvensional. Alasannya, meringkas buku dengan mind map dapat dilakukan sembari membaca buku yang hendak diringkas. Sementara itu, meringkas buku bersamaan dengan membaca buku yang hendak diringkas akan membuat ringkasan kita tidak sistematis.

Selain itu, saat menggunakan mind map, kita tidak perlu menuliskan bagian-bagian penting dari buku yang kita baca dalam bentuk kalimat atau pun paragraf, melainkan cukup menuliskan kata kunci-kata kuncinya saja.

Menghemat kertas sehingga lebih praktis

Meringkas buku dengan mind map hanya memerlukan selembar kertas kosong, sedangkan meringkas buku secara konvensional memerlukan satu buah buku atau lebih dari satu lembar kertas. Hal ini membuat mind map jauh lebih praktis di bawa ke mana-mana ketimbang ringkasan konvensional.

Kita juga dapat merasakan kepraktisan mind map ketika mengakses mind map tersebut; Kita tidak perlu membolak-balik halaman dan mencari-cari poin yang ingin kita baca atau periksa karena semua poin penting tercatat dengan jelas di atas selembar kertas yang kita pegang.

Lebih mudah dipahami

Saat kita membaca kembali ringkasan (dalam bentuk konvensional) sebuah buku, seringkali kita kesulitan menemukan hubungan antar-poin-poin penting yang kita tulis, apakah hubungan antar-poin itu hubungan yang subordinatif/ hierarkis, ataukah hubungan yang setara.

Hal ini dikarenakan, ringkasan ditulis dari kiri ke kenan atau dari atas ke bawah sehingga kita kesulitan memahami pokok pikiran buku yang kita ringas secara komprehensif alias menyeluruh. Alih-laih, kita memahaminya sebagai potongan-potongan kecil yang tidak saling berkaitan satu sama lain.

Nah, dengan mind map, kita paham dengan jelas hubungan antar-poin-poin penting yang kita tulis. Selembar kertas di mana mind map ditulis mengandung pemikiran mengenai sebuah buku (yang kita ringkas) secara menyeluruh/ komprehensif. Dengan demikian, kita bisa melihat dengan jelas hubungan antar-bagian yang menyusun pemikiran itu.

Lebih mudah diingat

Saat kita menghapal suatu konsep, maka asosiasi dapat membantu kita menghapal dengan lebih mudah.

Asosiasi sama artinya dengan menghubungkan satu hal dengan hal lainnya.

Coba Anda perhatikan rangkaian angka berikut ini dan hapalkan semuanya. Setelah itu, sebutkan kembali angka-angka itu dengan urutan yang benar, sesuai dengan yang saya tulis di sini.

3, 7, 15, 31, 63.

Saya berani bertaruh, Anda akan jauh lebih mudah menghapalkan semua angka di atas secara berurutan ketika Anda menemukan asosiasi yang menghubungkan kesemua angka tersebut.

Nah, mind map menggunakan prinsip asosiasi di mana satu pokok pikiran diasosiasikan dengan berbagai pemikiran yang menggabarkan atau menjabarkan pokok pikiran tersebut. Dengan begitu, pemikiran yang dituangkan ke dalam mind map menjadi lebih mudah diingat karena kita paham hubungan masing-masing komponen penyusun pemikiran kita.

Cara Membuat Mind Map

Sebelum membuat mind map, anda perlu menyediakan peralatan untuk menyusunnya. Apa sajakah peralatan itu?

Kertas kosong

Di atas kertas kosong inilah Anda menggambar mind map Anda.

Spidol warna

Gunakan spidol warna untuk menuliskan ide pokok, sub-sub ide, dan penjabarannya.

Caranya?

1. Ambil kertas kosong, posisikan kertas itu dengan posisi landscape atau horizontal, sembari Anda membaca buku yang hendak Anda ringkas.

2. Buatlah mind map untuk masing-masing bab dari buku yang Anda baca.

3. Tuliskan ide pokok dari bab yang sedang Anda baca di tengah-tengah kertas dengan menggunakan spidol warna. Tulislah ide pokok itu dengan cukup sebuah kata kunci, yang dapat berupa kata, frasa, atau pun gambar yang mewakili ide pokok tersebut.

4. Setelah ide pokok ditulis, tulislah penjabaran dari ide pokok itu (sebut saja sub-ide) dengan spidol warna.

Yang perlu Anda perhatikan, gunakan warna yang berbeda-beda untuk menuliskan masing-masing sub-ide supaya tampak menarik; Tuliskan kata kunci (dapat berupa gambar, kata, frasa) yang mewakili masing-masing sub-ide itu.

5. Hubungkan ide pokok dengan masing-masing sub-ide menggunakan sebuah garis. Buat sedemikian rupa sehingga garis penghubung berada di bawah kata kunci seperti gambar berikut.

Oya, buat pula sedemikian rupa sehingga garis berbentuk melengkung, bukan lurus. Tujuannya, supaya otak Anda tidak bosan ketika Anda mengakses mind map Anda.

6. Setelah Anda menuliskan penjabaran dari ide pokok (sub-ide), seiring berjalannya waktu, tentu Anda akan menemukan penjabaran dari sub-ide.

Nah, sekarang saatnya untuk menambahkan penjabaran dari sub-ide ke dalam mind map yang Anda buat. Dengan cara yang sama seperti menuliskan ide pokok dan sub-ide, tuliskan kata kunci (bisa berupa gambar, kata, atau frasa) yang mewakili masing-masing penjabaran dari sub-ide tersebut.

Jangan lupa, gunakan warna yang berbeda-beda untuk menuliskan atau menggambarkan poin-poin penjabaran itu.

7. Hubungkan masing-masing poin penjabaran dengan sub-ide menggunakan garis lengkung.

8. Jika poin-poin penjabaran sub-ide masih bisa dijabarkan lagi menjadi beberapa poin atau komponen yang lebih kecil, maka tambahkan komponen-komponen itu ke dalam mind map Anda. Ulangi langkah di atas hingga tidak ada lagi komponen yang dapat dijabarkan.

Hal-Hal yang Perlu Diperhatikan dalam Membuat Mind Map

Dari serangkaian langkah membuat mind map di atas, mungkin ada pertanyaan yang mengganjal di benak Anda. Nah, untuk menjawab pertanyaan itu, berikut ini saya jelaskan beberapa hal yang berkiatan dengan komponen-komponen penyusun mind map. Anda harus memperhatikan komponen-komponen itu supaya mind map yang Anda buat efektif dan powerful.

Kata kunci

Mengapa ide pokok, sub-ide, dan komponen-komponen yang menjabarkan sub-ide harus ditulis dengan hanya satu kata kunci? Alasannya, kata kunci memudahkan Anda dalam menyusun mind map. Bayangkan jika Anda menuliskan ide pokok berikut penjabarannya dalam kalimat-kalimat, maka mind map Anda akan tampak tidak rapi dan membingungkan.

Selain itu, dibanding sebuah kalimat, kata kunci memiliki makna yang tak terhingga. Dengan menuliskan ide pokok Anda dengan hanya satu kata kunci, sama artinya memberi kesempatan kepada otak Anda untuk berpikir secara kreatif, menemukan makna yang tak terhingga yang merepresentasikan ide pokok tersebut.

Gambar

Mengapa kata kunci ditulis dalam bentuk gambar? Tujuannya, supaya otak Anda tertarik dengan mind map yang Anda buat. Logikanya, Anda jauh lebih tertarik membaca buku bergambar ketimbang membaca buku tanpa gambar. Nah, demikian juga, Anda akan lebih tertarik membaca mind map bergambar ketimbang mind map yang datar, tanpa gambar.

Warna

Mengapa mind map harus penuh dengan warna? Sama seperti gambar, warna membuat otak kita lebih tertarik pada apa yang kita baca.

Garis

Mengapa garis harus melengkung, tidak lurus? Alasannya masih tetap sama, supaya otak Anda betah melihat mind map Anda.

Nah, mudah bukan meringkas buku dengan menggunakan mind map? Anda dapat membaca buku sembari berkreasi. Dan, saat Anda mengakses kembali mind map Anda, Anda bagaikan terjun ke dalam dunia kreativitas yang Anda buat sendiri. Petik pemikirannya dan nikmati sensasi berimajinasi dengan gambar dan warna di dalamnya. Hehehe.

Sekarang, sudah tidak sabar, ya, membuat mind map Anda sendiri? Jangan ragu untuk memberikan komentar, dan jangan lupa untuk bergabung dengan Aquariusnote.

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *