Resensi Buku Manajemen pikiran: Metode Ampuh Menata Pikiran untuk Mengatasi Depresi, Kemarahan, Kecemasan, dan Perasaan Merusak Lainnya

Judul: Manajemen Pikiran: Metode Ampuh Menata Pikiran untuk Mengatasi Depresi, Kemarahan, Kecemasan, dan Perasaan Merusak Lainnya

Pengarang: Dennis Greenberger dan Christine A. Padesky

Penerbit: Guilford Press, New York

Penerjemah: Yosep Bambang Margono

Hak Terjemahan ke dalam Bahasa Indonesia: Penerbit Kaifa

Tahun terbit: 2004

Dimensi: 288 hlm.; 26 cm

ISBN: 979-9452-88-0

Pikiran Bawah Sadar dan Depresi, Kecemasan, dan Pikiran Merusak Lainnya

Sudah menjadi rahasia umum bahwa pikiran merupakan karunia terpenting yang diberikan kepada umat manusia. Dengan pikiran, umat manusia membangun peradaban. Dengan pikiran, manusia mampu membedakan mana yang baik dan mana yang buruk. Dengan pikiran, manusia mampu menyadari dan merasakan apa yang tidak disadari dan dirasakan oleh makhluk hidup lainnya.

Akan tetapi, di balik keagungan pikiran, kita terhenyakkan oleh suatu kenyataan, yaitu bahwa ternyata, 88% tindakan kita tidak terkontrol secara sadar alias tidak terkontrol oleh pikiran kita.

Penemuan tentang dua bagian pikiran, yaitu pikiran sadar dan pikiran bawah sadar meruntuhkan anggapan bahwa pikiran (kesadaran) merupakan satu-satunya hal terpenting yang mengontrol kehidupan kita. Menurut hasil studi mutakhir, hanya 12% kontrol yang kita miliki terhadap diri kita sendiri. Ini berarti, kita hanya memiliki 12% kekuatan untuk mengadakan pengendalian diri. Selebihnya, diri kita dikendalikan oleh pikiran bawah sadar kita yang bekerja secara otomatis (kita tidak menyadarinya).

Itulah mengapa, kita sering menjumpai kenyataan di mana seringkali tindakan-tindakan kita tidak sesuai dengan rencana yang sudah kita susun. Alih-alih, kita bertindak di luar kesadaran dan kendali kita.

Banyak contoh yang dapat kita temukan sehubungan dengan kenyataan ini. Misalnya, kita berencana untuk berhenti merokok. Di dalam otak, siapakah yang merencanakan untuk berhenti merokok? Ia adalah pikiran sadar kita.

Rencana itu bertentangan dengan kebiasaan merokok, yang sudah mendarah daging di dalam pikiran bawah sadar kita. Karena pikiran bawah sadar memegang 88% kendali terhadap diri kita, maka hal yang paling mungkin terjadi adalah, rencana sadar kita untuk berhenti merokok kalah telak dengan kebiasaan bawah sadar kita, yaitu kebiasaan merokok.

Di sini, rencana berhenti merokok kalah dengan kebiasaan merokok dikarenakan rencana itu dibuat oleh pikiran sadar, sementara kebiasaan merokok dibuat oleh pikiran bawah sadar. 12% kendali kalah dengan 88% kendali. Akibatnya, rencana kita untuk berhenti merokok gagal total.

Bukan hanya pada kasus merokok, atau perilaku lainnya pikiran bawah sadar memegang sebagian besar kendali pada diri kita. Para pakar psikologi menemukan bahwa pikiran bawah sadar juga mengendalikan diri kita dalam menyikapi suatu peristiwa.

Inilah yang mendasari munculnya depresi, kecemasan, fobia, dan gangguan kejiawaan lainnya. Para pakar menemukan bahwa depresi dan kecemasan muncul lantaran pikiran-pikiran otomatis (pikiran bawah sadar) yang muncul dalam menanggapi dan memaknai peristiwa tertentu, di mana pikiran-pikiran otomatis ini bersifat maladaptif (tidak dapat menyesuaikan diri dengan kenyataan).

Syarat utama munculnya depresi dan kecemasan adalah peristiwa. Nah, depresi dan kecemasan muncul lantaran pikiran-pikiran otomatis kita memaknai peristiwa itu sebagai masalah atau ketidakberesan (terlepas apakah peristiwa itu secara real memang merupakan masalah atau bukan). Seiring dengan pikiran-pikiran otomatis yang memandang peristiwa itu sebagai masalah, muncul pula pikiran-pikiran otomatis lainnya sebagai akibat atau turunan dari pikiran-pikiran itu.

Contohnya adalah, seorang anak yang dididik untuk menjadi juara kelas. Kemungkinan ia akan mengalami depresi manakala ia tidak menjadi juara kelas sangatlah besar. Ini dikarenakan, ia memaknai kejadian di mana dirinya tidak mendapatkan juara kelas sebagai suatu masalah. Pemaknaan seperti ini, pada akhirnya memunculkan pemikiran-pemikiran otomatis lainnya yang maladaptif, seperti: “Karena aku tidak juara kelas, itu membuktikan bahwa aku tidak berharga”; “Karena aku tidak berharga, aku tidaklah berguna”; “Karena aku tidak berguna, aku hanyalah sampah”; “Karena aku sampah, aku tidak pantas hidup.”

Dan, ketika pemikiran-pemikiran seperti di atas muncul, bisa dikatakan bahwa anak itu telah mengalami gejala depresi.

Pikiran-pikiran maladaptif di atas merupakan pikiran-pikiran yang secara otomatis muncul dari keyakinan bawah sadar sang anak. Dalam contoh di atas, keyakinan bawah sadar itu terbentuk dari pendidikan yang diberikan kepada sang anak untuk menjadi juara kelas. Karena pendidikan ini, pikiran bawah sadar sang anak terbiasa berpikir bahwa menjadi juara kelas merupakan hal yang paling penting. Dan, oleh karenanya, ketika sang anak tidak menjadi juara kelas, ia menjadi depresi, kecewa terhadap diri sendiri, dan menyalahkan diri sendiri.

Buku Ini

Kesadaran alias Pikiran Sadar

Bertolak dari prinsip bahwa pikiran bawah sadar memegang 88% kendali pada tindakan manusia, pengetahuan mengenai depresi muncul. Sebaliknya, bertolak pada prinsip bahwa sekali pun tindakan manusia dikendalikan oleh pikiran bawah sadar, masih ada kesempatan bagi manusia untuk menjadi tuan bagi tindakan-tindakannya sendiri, buku Manajemen Pikiran: Metode Ampuh Menata Pikiran untuk Mengatasi Depresi, Kemarahan, Kecemasan, dan Perasaan Merusak Lainnya ini hadir.

Buku ini menyimpulkan bahwa depresi dan kecemasan, yang muncul sebagai akibat pikiran-pikiran otomatis (bawah sadar) yang maladaptif dalam memaknai dan menyikapi suatu peristiwa dapat disembuhkan dengan merubah pikiran dan persepsi mengenai peristiwa itu sendiri.

Ini artinya, depresi dan kecemasan dapat dilenyapkan dengan menggeser makna dan pikiran tentang suatu kejadian atau peristiwa.

Jika seorang penderita depresi memaknai suatu peristiwa sebagai masalah (ketidakberesan), maka cara melenyapkan depresi adalah merubah makna peristiwa itu.

Tetapi, bagaimana cara merubah makna suatu peristiwa? Pertama yang harus dilakukan oleh si penderita adalah MENYADARI persepsi dan pikiran-pikiran (bawah sadar)nya. Aktivitas ‘menyadari’ memanfaatkan kesadaran alias pikiran sadar (yang hanya memegang 12% kendali atas diri kita). Ini artinya, untuk merubah makna suatu peristiwa, pikiran sadar kita berperang melawan pikiran-pikiran bawah sadar kita.

Kesadaran adalah langkah pertama menuju perubahan dan pemecahan masalah yang lebih baik.” (hlm. 76)

Setelah menyadari pikiran-pikiran (bawah sadar)nya, penderita dapat menilai apakah pikiran-pikiran itu masuk akal atau tidak. Jika tidak masuk akal, dia dapat mengganti pikiran-pikiran itu dengan pikiran-pikiran yang lebih masuk akal. Sebaliknya, jika pikiran-pikirannya masuk akal, dia dapat melakukan tindakan untuk menyelesaikan masalah yang dihadapinya.

Berpikir Positif atau Berpikir Objektif?

Dalam penyembuhan depresi, kecemasan, dan perasaan merusak lainnya, manakah yang perlu ditekankan? Berpikir positif atau berpikir objektif? Buku ini memberikan kepada kita pandangan yang jelas mengapa berpikir positif saja tidak cukup untuk mengatasi masalah depresi, kecemasan, dan pikiran merusak lainnya.

Hal ini dikarenakan, pikiran-pikiran positif terasa janggal bagi mereka yang menderita gangguan-gangguan kejiwaan tersebut. Mereka tidak mempercayai pikiran-pikiran positif, sekali pun pikiran-pikiran itu diucapkan oleh seorang motivator andal.

Meskipun pemikiran kita memengaruhi suasana hati, perilaku dan reaksi fisik, berpikir positif bukanlah solusi terhadap berbagai masalah kehidupan. sebagian besar orang yang cemas, mengalami depresi, atau marah bisa mengatakan bahwa masalahnya tidaklah sesederhana ‘hanya memikirkan pemikiran positif’. Bahkan, apabila kita hanya mencoba untuk memikirkan pemikiran positif ketika kita memiliki suasana hati yang kuat, boleh jadi kita akan kehilangan sinyal bahwa ada sesuatu yang tidak beres.” (hlm.47)

Mengapa mereka tidak mempercayai pikiran-pikiran positif mengenai diri mereka? Karena, mereka tidak menemukan bukti-bukti yang mendukung pikiran-pikiran itu.

Nah, bertolak pada kenyataan di atas, kedua penulis buku ini lebih menekankan penyembuhan pada pikiran-pikiran objektif. Keduanya menyarankan kepada penderita depresi, kecemasan, fobia, atau pun rasa malu untuk mencari pikiran atau persepsi alternatif yang lebih objektif untuk menggantikan pikiran-pikiran subjektifnya yang maladaptif tentang peristiwa yang mengguncang mentalnya.

Oleh karena itulah, dalam buku ini, Greenberger dan Padesky menyarankan kepada para penderita depresi untuk mencari bukti-bukti yang mendukung pikiran-pikiran otomatisnya. Setelah menemukan bukti-bukti yang mendukung pikiran-pikiran itu, keduanya meminta kepada para penderita depresi untuk mencari bukti-bukti yang menyangkal pikiran-pikiran itu. Dan, setelah mereka menemukan bukti-bukti itu, mereka diminta untuk melakukan penilaian yang objketif apakah pikiran-pikiran mereka masuk akal atau kah tidak. Penilaian itu tentu saja didasarkan pada bukti-bukti yang mendukung dan bukti-bukti yang tidak mendukung pikiran mereka.

Melakukan Tindakan

Selain merubah pikiran, Padesky dan Greenberger juga mengajak penderita gangguan kejiawaan seperti depresi dan kecemasan untuk melakukan tindakan yang diperlukan, terutama jika diperoleh ternyata pikiran-pikiran mereka mengandung kebenaran alias sesuai kenyataan.

Dalam kata lain, selain menggeser pola pikir, penyembuhan depresi, kecemasan, kemarahan, dan perasaan merusak lainnya juga harus mempertimbangkan aspek lingkungan. Perubahan lingkungan sangat diperlukan manakala peristiwa yang dialami oleh sang penderita secara objektif memang merupakan suatu masalah yang harus diselesaikan (bukan hanya persepsi sang penderita yang menganggap peristiwa itu sebagai masalah).

Sebagai contoh, apabila seseorang menderita depresi lantaran dia pernah mengalami pelecehan seksual, maka selain merubah persepsi mengenai peristiwa yang dialaminya (pelecehan), penderita atau orang-orang yang dekat dengan si penderita disarankan untuk dapat merubah kondisi lingkungan di mana penderita berada. Agar penyembuhan depresi bisa bertahan lama atau permanen, penderita harus terbebas dari lingkungan yang penuh dengan kekerasan seksual.

Manfaat Buku Ini

Setelah menyimak pemaparan di atas, dapat kita simpulkan bahwa buku ini merupakan buku yang mengandung banyak manfaat. Didasarkan pada penelitian ilmiah dalam bidang psikologi kognitif, buku ini memaparkan dengan jelas bagaimana penderita gangguan kejiawaan seperti depresi, kecemasan, atau pun mudah marah dapat mengatasi permasalahan mereka sendiri di rumah.

Siapa Saja Pembaca Buku Ini?

Dengan susunan yang sitematis serta penggunaan bahasa yang mudah dimengerti, buku ini dapat dijadikan pegangan bagi Anda yang ingin terlepas dari pikiran-pikiran negatif dan merusak.

Anda tidak perlu khawatir bahwa di dalamnya, Anda akan menemukan banyak istilah ilmiah yang tidak Anda ketahui dan pahami. Hampir semua istilah ilmiah yang tidak familiar bagi pembaca awam (tidak berlatar belakang pendidikan psikologi) diterjemahkan dengan istilah sederhana. Dengan begitu, pembaca bisa memahami maksudnya dengan jelas.

Terlebih, penulis menyertakan contoh-contoh kasus yang tersebar di hampir seluruh bab buku ini. Hal ini turut memudahkan pembaca memahami isi di dalamnya.

Bagi Anda yang memiliki anggota keluarga yang menderita gangguan kejiawaan seperti depresi dan kecemasan, buku ini juga dapat dijadikan rujukan dalam memberikan pertolongan kepada keluarganya.

Atau, jika Anda mahasiswa dengan latar belakang pendidikan psikologi, buku ini dapat dijadikan sebagai referensi yang memadai mengenai terapi kognitif. Keseluruhan cara yang dipaparkan di dalam buku ini didasarkan pada terapi kognitif, yaitu terapi kejiwaan yang didasarkan pada aspek kognitif atau pikiran.

Selain itu, buku ini dapat dijadikan sebagai sumber informasi bagi siapa saja yang tertarik dengan masalah-masalah kejiawaan. Pemaparannya yang sederhana dan tidak berbelit-belit mengindikasikan bahwa buku ini ditujukan bagi pembaca umum.

Terakhir, jika Anda tertarik untuk membaca buku ini secara lengkap, bergabunglah dengan Aquariusnote.com.

Selamat membaca dan jangan lupa untuk berkomentar.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *