Resensi Buku Membongkar Rahasia Hipnosis

Judul buku: Membongkar Rahasia Hipnosis

Pengarang: Willy Wong

Penerbit: Visimedia

Tahun terbit dan cetakan: 2010

Dimensi buku: xii + 216 halaman; 150 x 230 mm

 membongkar rahasia hipnosis

Akhir-akhir ini banyak sekali kita jumpai tayangan hiburan di televisi yang memamerkan keahlian hipnosis kepada pemirsa. Dalam dunia hipnosisme, kegiatan semacam itu dikenal dengan sebutan stage hypnosis, alias hipnosis panggung.

Penggunaan hipnosis sebagai bahan hiburan merupakan langkah yang perlu diapresiasi karena secara langsung memperkenalkan hipnosis kepada masyarakat Indonesia, yang sebelmunya masih asing dengan ilmu yang satu ini. Mengapa pengenalan hipnosis penting dan perlu diapresiasi? Karena hipnosis dapat dimanfaatkan untuk kepentingan kemaslahatan umat manusia.

Penerapan ilmu hipnosis dalam bidang medis misalnya, bukan hanya untuk penyembuhan penyakit kejiwaan dan psikosomatis, tetapi juga dapat dimanfaatkan dalam pemberian anestesi tanpa pembiusan pada operasi kecil dan menghilangkan sensasi nyeri pada persalinan.

Hipnosis juga dapat diterapkan dalam pencarian ilham. Hal ini bahkan dipraktikkan oleh tokoh-tokoh intelektual kelas dunia, seperti  Keadaan di mana pikiran bawah sadar mengambil peran, dan melemahkan pikiran sadar, yang lazim disebut dengan kondisi trance, merupakan sumber inspirasi tanpa batas bagi seorang subjek yang mengalami kondisi tersebut.

Sebagai sumber inspirasi, kondisi hipnosis atau trance menyediakan berjuta solusi bagi masalah yang dihadapi oleh sang subjek. Dengan demikian, saat ia kembali pada kondisi normal, yakni saat pikiran sadarnya kembali mengambil kontrol, ia telah menemukan jawaban atas permasalahan yang dihadapinya.

Demikianlah sekian pemanfaatan hipnosis dalam kehidupan umat manusia. Kembali lagi ke stage hypnosis, sekalipun disambut dengan meriah, aksi hipnosis panggung nyatanya menimbulkan banyak pertanyaan bagi pemirsa baik yang menyaksikan acara tersebut secara langsung atau yang hanya menontonnya dari rumah.

Pertanyaan yang sering terbersit di dalam benak adalah apakah aksi-aksi tersebut asli atau hanya rekayasa panggung. Ada juga yang mengkhawatirkan bahwa permainan hipnosis dalam stage hypnosis akan membahayakan otak para pesertanya. Pemirsa khawatir jikalau sang hypnotist (orang yang menghipnosis) tidak mampu menyadarkan kembali para sukarelawan yang dihipnosis.

Buku Membongkar Rahasia Hipnosis karangan Willy Wong, praktisi hipnoterapi yang juga menulis buku best-seller Dahsyatnya Hipnosis, rupanya hadir untuk memberikan jawaban atas pertanyaan-pertanyaan yang sering mengganggu pikiran kita tersebut. Penulis tidak menjawab pertanyaan-pertanyaan itu hanya berdasarkan asumsinya, tetapi ia menyertakan penjelasan ilmiah mengenai prinsip kerja dari adegan-adegan hipnosis yang dipertontonkan di panggung oleh sang hypnotist.

 

Rahasia Stage Hypnosis

Pada bab awal, penulis menguak rahasia stage hypnosis yang selama ini mengundang keheranan, tanda tanya, bahkan keraguan pemirsa. Lebih jauh, penulis memperbandingkan kelihaian hipnosis panggung dengan kegiatan hipnosis dalam terapi penyembuhan.

Meskipun menurut saya konten bab tersebut tidak sesuai dengan judulnya, tetapi konten bab ini cukup persuasif dalam mengajak pembaca untuk mengikuti kelanjutan tulisannya. Penulis membeberkan jawaban singkat terhadap pertanyaan-pertanyaan yang dikemukakan pemirsa dan mengajak pembaca untuk menyimak penjelasan lebih mendalam mengenai jawaban masing-masing pertanyaan itu dalam bab-bab selanjutnya.

Dijelaskan bahwa baik hipnosis panggung maupun hipnosis dalam aktivitas terapi memiliki momen kerumitannya sendiri-sendiri. Pada kegiatan hipnosis panggung, kerumitan terletak pada kemampuan sang hypnotist dalam menguasai panggung. Dia harus dapat mengondisikan aktivitas tersebut sedemikian sehingga menarik, melahirkan kelucuan, dan menimbulkan keheranan dan kekaguman dari penonton.

Selain itu, sang hypnotist juga harus mempersiapkan sekian rencana untuk berjaga-jaga jikalau aksi panggungnya mengalami kegagalan. Misalnya, sukarelawan yang dihipnosis tidak beranjak terinduksi (mengalami kondisi hipnosis) setelah dilakukan tindakan sugesti kepadanya.

Untuk mengatasi kemungkinan-kemungkinan seperti itu, sang hypnotist panggung harus mempersiapkan rencana A, B, C dan seterusnya agar pemirsa tidak menyadari adanya kegagalan aksi panggungnya. Sang hypnotist dapat memberikan joke kepada penonton untuk mengalihkan perhatian mereka dari kegagalan aksi tersebut.

Namun, kegiatan stage hypnosis ini memiliki kerumitan tersendiri berkaitan dengan sisi entertainment yang dikondisikan untuk terskenario secara baik-baik dengan memerhatikan durasi waktu, pencapaian kilmaks yang menghibur penonton, dan hal-hal lain yang termasuk proses tes sugestibilitas secara terselubung atau mempersiapkan rencana-rencana cadangan (plan B) jika skenario pertunjukan berjalan tidak sesuai dengan rencana semula.” (hlm. 2)

Sementara itu, dalam aktivitas hipnoterapi, kerumitan terletak pada tipe sugestibilitas yang dimiliki oleh pasien. Hal ini dikarenakan, dalam aktivitas hipnoterapi, sang terapis tidak mungkin menyeleksi calon pasien yang akan dihipnosisnya dan dipilih calon pasien yang memiliki tipe sugestibilitas paling baik sehingga dapat dihipnosis dengan mudah.

Logikanya, ketika ada 2 pasien yang memiliki tipe sugestibititas berbeda, di mana tipe sugestibilitas calon pasien yang pertama lebih baik dari tipe sugestibilitas calon pasien yang kedua, tidak mungkin sang hipnoterapis menolak calon pasien kedua, yang tipe sugestibilitasnya lebih rendah atau sulit dihipnotis dan hanya menerima calon yang pertama karena memiliki sugestibilitas yang baik sehingga mudah diinduksi.

Hipnoterapis juga tidak mungkin membatalkan terapi hanya karena setelah dites dengan tes sugestibilitas, ternyata didapati calon pasien memiliki tipe sugestibilitas rendah. Untuk itu, sang hipnoterapis dituntut untuk mampu memberikan sugesti yang tepat berdasarkan tipe sugestibilitas sang pasien. Nah, inilah kerumitan yang dihadapi oleh terapis pada aktivitas hipnoterapi.

Hal ini berkebalikan dengan yang terjadi pada aktivitas hipnosis panggung. Sekalipun aktivitas tersebut dilakukan secara live, panitia penyelenggara acara dan sang hypnotist sendiri dapat merekayasa siapa saja yang akan menjadi sukarelawan untuk memperagakan aksi panggungnya. Dengan menyediakan calon sukarelawan yang bakal ditampilkan di atas panggung, dan menyingkirkan calon sukarelawan yang tidak masuk dalam kategori yang ia tetapkan, maka di atas panggung ia tampak lihai menghipnosis sukarelawan.

Beberapa hypnotist kadang-kadang lebih memilih melakukan siasat “bermain aman” dengan mempersiapkan subjek-subjek sugestif sebelumnya, dan menyelipkannya di antara penonton sehingga proses pertunjukan yang berlangsung tidak melibatkan tes sugestibilitas sebelumnya dan terkesan dilakukan secara acak dengan mengundang siapa saja yang bersedia dihipnosis untuk naik ke atas panggung.” (hlm. 3)

 

Hipnosis dalam Perspektif Ilmiah

Beranjak pada bab dua, pembaca disuguhkan pada argumen bahwa hipnosis merupakan kegiatan yang berdasarkan pada kaidah-kaidah ilmiah. Bab ini mematahkan asumsi banyak kalangan bahwa hipnosis senantiasa bernuansa magis bahkan tipuan yang oleh karenanya penerapannya dalam dunia medis masih diragukan.

Mengutip ucapan seorang praktisi hipnosis terkemuka dari Amerika Serikat, Ormond McGill, penulis mengungkapkan bahwa hipnosis bak listrik. Tidak ada yang tahu apakah sebenarnya ia, tetapi semua orang menggunakannya. Analogi ini sangat pas menggambarkan keajaiban hipnosis itu sendiri yang sebenarnya merupakan hal yang lumrah.

Penulis rupanya ingin menguji persepsi pembaca mengenai hipnosis setelah mengemukakan argumen bahwa hipnosis bukanlah perkara klenik, melainkan perkara ilmiah. Penulis ingin tahu apakah pembaca masih menilai hipnosis sebagai sesuatu yang magis dan dahsyat ketika mengetahui penjelasan ilmiahnya, atau berbalik menganggap bahwa kegiatan hipnosis sebagai sesuatu yang wajar dan lumrah seperti listrik.

Bab ini mengandung muatan pendidikan yang positif bagi pembaca Indonesia yang, diakui atau tidak masih sering terjebak pada hal-hal berbau mistik. Bab ini merupakan pembukaan yang edukatif yang mendidik pembaca untuk menilai segala sesuatu, termasuk hal-hal yang berbau klenik dari kacamata logika, dari perspektif ilmiah.

Pada halaman 10, penulis mengutip definisi hipnosis yang diberikan oleh Ormond McGill yaitu sebagai sebuah keadaan pikiran ketika kondisi bawah sadar (subconscious mind) lebih memgang peranan dibanding keadaan normal atau biasa. Lebih jauh, dikatakan bawah dalam kondisi hipnosis sebenarnya seseorang bertindak melepaskan kendali tubuhnya dan memilih penghipnosis untuk mengambil peran terhadap dirinya.

Dari sini, hanya ditemukan penjelasan ilmiah menegnai hipnosis secara umum. Baru pada bab-bab selanjutnya, penulis menjelaskan sisi ilmiah secara spesifik dari kegiatan hipnosis. Penulis juga melengkapinya dengan penjelasan ilmiah menganai fenomena-fenomena unik yang dianggap mengandung kesan mistis atau magis.

Sebagai contoh, penulis menjelaskan fenomena debus, pertunjukan berjalan di atas bara api, dan kecerdasan bawah sadar dari kacamata ilmiah.

Proses katalepsi tubuh (body catalepsy) merupakan sebuah gejala saat otot-otot seluruh tubuh menjadi sangat kaku dan keras sehingga sseluruh anggota tubuh tidak dapat digerakkan sama sekali. Kegiatan ini banyak dilakukan dalam atraksi debus tradisional, saat trance tubuh menjadi benar-benar kaku sehingga dapat ditidurkan hanya dengan menumpukan kepala dan ujung kakinya di dua buah kursi.” (hlm 87)

Dijelaskan bahwa pada atraksi debus, di mana sang pemain tidak merasa sakit saat ditusuk dengan benda tajam, sebenarnya sang pemain sedang dalam kondisi trance alias hipnosis. Nah, saat dalam kondisi trance, tubuh mengalami rileks dan konsentrasinya terpusat pada satu hal saja. Saat konsentrasi terpusat pada satu hal, otomatis informasi lain terabaikan.

Jadi, informasi mengenai apapun, termasuk mengenai benda tajam yang menusuk kulitnya diabaikan begitu saja oleh otak. Akibatnya, ia pun tidak merasakan kesakitan.

Pada saat mengalami relaks dan menimbulkan kondisi hypnosis yang menyebabkan kapasitas indra menjadi meningkat, dapat diatur kepentingan fungsinya, apakah informasi yang diterima akan diabaikan atau diproses. Dalam kondisi tersebut, perhatian yang berpusat pada satu hal saja menyebabkan informasi-informasi lain yang diterima menjadi diabaikan, termasuk sensasi-sensasi kinestetik atau perasa.” (hlm. 91)

Ide bahwa dalam keadaan hipnosis seseorang mencapai kecerdasan luar biasa, yang dengannya ia dapat menemukan solusi-solusi atas permasalahannya sekilas tampak khayal, mengada-ada, dan berlebihan. Akan tetapi, sebenarnya ide tersebut memiliki landasan ilmiah yang kuat.

Rasionalisasinya yaitu, pada kondisi hipnosis, pikiran sadar melemah, dan kontrol diambil alih oleh pikiran bawah sadar. Pikiran bawah sadar berperan menampung semua memori yang masuk ke otak, baik memori yang bersumber dari informasi yang diterima oleh pikiran sadar maupun informasi yang ditolak oleh pikiran sadar.

Saat sebuah informasi sampai ke pikiran sadar, ia dianalisis. Jika informasi tersebut tidak dapat diterima oleh pikiran sadar, ia tidaklah dibuang keluar otak, melainkan tetap diteruskan ke pikiran bawah sadar dan menjadi memori.

Pada saat seseorang dalam kondisi hipnosis, ia dapat mengingat semua memori yang disimpan di dalam pikiran bawah sadarnya, termasuk informasi yang diabaikan. Memori-memori itulah yang menjadi sumber inspirasi dan ilham bagi individu bersangkutan.

Dengan pemahaman akan pikiran tunggal yang dimaknai dalam fungsi yang berbeda-beda, dapat dipahami sebuah pendekatan asumsi bahwa meskipun banyak informasi yang “ditolak” oleh critical area untuk diterima dan menjadi sebuah “program” dalam pikiran bawah sadar, informasi tersebut tetap menjadi sebuah memori yang meskipun pasif tetap tersimpan secara permanen dalam gudang informasi yang sedemikian luasnya di dalam pikiran bawah sadar dan tidak pernah hilang,” tulis penulis  (hlm. 122) yang dilanutkan dengan pernyataan berikut:

“Kenyataannya dalam kegiatan hypermnesia (mengingat kembali memori masa lampau) melalui kondisi hipnosis, informasi-informasi tidak penting dan tidak memberikan pengaruh apa-apa dalam kehidupan seseorang itu sendiri pun dapat diakses kembali. Keseluruhan informasi yang didapatkan dari pengalaman sepanjang hidup tersebut dapat menjadi sebuah solusi kreatif yang bijak, berwawasan luas, dan belum pernah timbul dalam benak sadar sebelumnya.(hlm. 122)

 

Kelebihan

Apa yang menarik dari buku ini yaitu, penulis berusaha menjelaskan semua hal yang berkaitan dengan hipnosis, keadaan subjek ketika mengalami kondisi hipnosis, trik-trik hipnosis, mekanisme terjadinya keadaan hipnosis, dan tingkat hipnosis, semuanya dalam kacamata ilmiah.

Hal ini merupakan sumbangan pengetahuan yang berharga bagi para pembaca mengenai ilmu hipnosis. Dengan membaca buku ini, pembaca dapat mempelajari prinsip-prinsip dasar hipnosis dan dapat menerapakannya dalam praktik.

Kelebihan lain buku ini yaitu ditulis dengan bahasa yang mudah dipahami. Penulis berupaya untuk menghindari penggunaan istilah-istilah yang sukar dipahami oleh pembaca awam. Selain itu, tulisan juga dilengkapi dengan referensi yang mendukung argumen-argumennya.

Ini menunjukkan bahwa tulisannya bukan hanya berdasarkan asumsinya semata, tetapi merupakan argumen yang berdasarkan pada penelitian ilmiah.

Satu yang membuat pembaca mudah menyerap isinya, penulis memberikan contoh di sana-sini untuk memperjelas apa yang diungkapkannya. Sebagai contoh, ketika menjelaskan mekanisme terbentuknya kompetensi bawah sadar, penulis mencontohkannya dengan proses kemampuan pembelajaran seseorang dalam mengendarai sebuah mobil.

Mengenai susunan penulisan, buku ini cukup sistematis. Masing-masing babnya saling berkaitan satu sama lain. Dengan demikian, memudahkan pembaca dalam memahami isi buku secara menyeluruh.

 

Kritik

Sayang sekali, penjelasan ilmiah yang dipaparkan dalam buku ini masih kurang mendalam. Eksplorasi penulis masih kurang detail, sehingga masih menyisakan sejumlah pertanyaan, setidaknya bagi saya pribadi.

Di awal tulisan, dijelaskan bahwa ketika dalam keadaan hipnosis, seringkali ucapan individu yang bersangkutan tidaklah berdasarkan kenyataan. Sebaliknya, ucapannya cenderung mengandung kebohongan atau imajinasi.

Seseorang tetap aman menyembunyikan rahasianya dalam kondisi hipnosis karena kondisi hipnosis bukanlah sebuah ketidaksadaran. Dalam berbagai macam pertunjukan hipnosis yang terjadi, seseorang yang berada dalam kondisi hipnosis dikondisikan seakan-akan menceritakan semua rahasia yang terdapat dalam dirinya. Hal itu tidaklah benar. Terdapat dua kemungkinan berkaitan dengan kegiatan seperti ini. kemungkinan pertama, orang itu sebenarnya ingin menceritakan pengalamannya kepada orang lain dan dianggap bukan sebagai sebuah kerahasiaan. Kemungkinan kedua, apa yang diceritakannya merupakan sebuah imajinasi yang tidak berkaitan dengan kejadian sebenarnya.” (hlm.4)

Pertanyaannya, Bagaimana terapis menelusuri kejadian-kejadian di masa lalu sang pasien yang membuatnya trauma jika apa yang dikatakan oleh sang pasien dalam kondisi hipnosis lebih banyak bersifat khayalan belaka? Bisakah ucapan pasien dalam keadaan terhipnosis dipercaya? Dapatkah sang hipnoterapis memastikan bahwa cerita yang diungkapkan pasien itu benar-benar pernah terjadi dan dialaminya?

Kedua, saat menjelaskan mekanisme terjadinya halusinasi, penulis kurang mengeksplor proses ilmiah yang berkaitan dengannya. Hal ini terutama pada halusinasi di mana subjek mendengar dan melihat sesuatu yang sebenarnya tidak ada.

Ketiga, mekanisme induksi yang dilakukan terapis terhadap subjek atau pasien digambarkan sangat mudah dilakukan, yaitu hanya dengan memberikan sugest-sugesti, kejutan, atau pembingungan. Pada kenyataannya, dalam kehidupan sehari-hari, keterkejutan seseorang pada suatu hal, pikiran yang bingung karena diberikan informasi yang terlalu banyak dalam waktu yang singkat, atau sugesti-sugesti tidak dapat membawa seseorang pada kondisi hipnosis.

Namun demikian, kehadiran buku ini tetap saja merupakan sumbangsih yang besar yang memberikan khazanah pengetahuan tentang hipnosis. Buku ini dapat dijadikan sebagai pengantar bagi para pembaca yang memiliki ketertarikan dalam dunia hipnosis dan hipnoterapi.

Pembaca yang datang dari latar belakang pendidikan psikologi dan biologi juga dapat menikmati buku ini karena di dalamnya banyak sekali penjelasan yang berkaitan dengan bidang keilmuan yang mereka geluti. Dan, bagi saya sendiri yang tidak memiliki background pendidikan psikologi maupun biologi, buku ini sangat menarik sebagai bahan pengetahuan tentang hipnosis.

Pembahasan di dalamnya dapat dikaitkan dengan berbagai cabang ilmu lainnya bahkan sampai pada filsafat. Singkatnya, buku ini dapat dijadikan referensi dalam berbagai bidang keilmuan.

Demikian resensi buku Membongkar Rahasia Hipnosis dari saya. Semoga bermanfaat.

Untuk mengetahui lebih dalam mengenai isi buku ini, bergabunglah dengan Aquarius Note.

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *