Resensi buku Reframing: Kunci Hidup Bahagia 24 Jam Sehari

Judul: Reframing: Kunci Hidup Bahagia 24 Jam Sehari

Penulis: RH. Wiwoho

Penerbit: PT. Gramedia Pustaka Utama

Tahun Terbit: 2004

ISBN: 979-22-0780-5

Seringkali, masalah membuat kita jengkel, marah, sedih, dan frustasi. Perasaan-perasaan itu muncul lantaran kesan-kesan yang timbul di dalam benak kita dalam menyikapi masalah itu.

Saat kita dirundung masalah yang membuat kita kecewa, kita pun marah. Saat ditimpa musibah kecelakaan yang membuat badan kita sakit, kita pun menjadi sedih. Saat mengalami peristiwa yang membuat kita malu, kita pun menjadi sedih dan frustasi. Saat diganggu oleh orang lain, maka kita pun jengkal. Demikianlah pikiran atau kesan kita terhadap suatu kejadian memengaruhi perasaan dan emosi kita.

Sekarang, pertanyaannya, bagaimana cara mengatasi dan menghilangkan perasaan-perasaan yang tidak mengenakkan dan seringkali destruktif itu?

Solusi pertama dan utama untuk melenyapkan perasaan-perasaan negatif di atas yaitu mengubah kondisi, yakni menyelesaikan masalah yang membuat kita marah, sedih, jengkel, atau pun frustasi.

Jika kita tersakiti oleh perilaku orang lain, maka sebisa mungkin kita harus menyelesaikan masalah itu, yakni berusaha sedemikian sehingga orang lain berhenti menyakiti kita. Sama halnya saat kita khawatir akan masa depan kita lantaran tidak memiliki pekerjaan yang mapan, maka solusi yang paling utama yaitu menyelesaikan masalah yang membuat kita khawatir, yakni mencari pekerjaan yang mapan.

Tetapi, bagaimana jika masalah yang membuat kita sakit, marah, atau frustasi merupakan masalah yang mustahil dapat kita atasi? Contohnya, seseorang berbuat salah kepada kita. Hal itu membuat kita marah. Nah, pada ujungnya, orang yang bersangkutan pun meminta maaf kepada kita dan membuktikan diri tidak mengulangi kesalahan yang sama. Tetapi, bagi kita, apa yang terjadi tidak dapat ditarik kembali. Kenyataan bahwa ia telah menyakiti hati kita dan membuat hati kita patah tidaklah dapat dirubah. Peristiwa yang menyakitkan hati itu ibarat nasi yang sudah menjadi bubur, tidak mungkin kita rubah menjadi nasi lagi. Nah, bagaimana cara mengubah perasaan dan emosi kita lantaran masalah seperti ini?

Diperlukan cara lain untuk mengubah perasaan dan emosi kita yang disebabkan oleh masalah seperti di atas, selain dengan mengubah perisitiwa atau masalah yang terlanjur terjadi dan tidak dapat dirubah.

Cara apakah itu? Cara itu yaitu reframing.

Reframing adalah sebuah teknik mengubah perasaan dengan mengubah sudut pandang, tanpa mengubah kejadian atau peristiwa yang telah terjadi.

Dalam buku ini, dijelaskan dengan gamblang definisi teknik reframing, serta cara mengaplikasikannya untuk mengatasi perasaan dan emosi yang mengganggu Anda lantaran masalah yang Anda hadapi. Selain itu, dengan memaparkan cara memanfaatkan teknik reframing dengan jelas, sang penulis buku ini pun menawarkan kepada Anda cara mengatasi kebiasaan, perilaku, atau pun kondisi yang tidak Anda harapkan.

Reframing

Sebagaimana disebutkan di atas, pikiran merupakan salah satu faktor yang memengaruhi perasaan manusia. Pikiran yang negatif bisa menimbulkan perasaan dan emosi yang negatif, yang tidak mengenakkan. Demikian sebaliknya, pikiran yang positif akan membawa dampak yang positif, yang menyenangkan dan membahagiakan.

Tetapi, masalahnya, terkadang, kita tidak dapat, dengan sekehandak hati, melakukan pengubahan sudut pandang dengan pikiran positif. Jika kita melakukan hal ini, tidak menutup kemungkinan yang bakal terjadi yaitu otak kita mengabaikan informasi positif itu karena ia tidak mempercayainya.

Mengapa otak tidak memercayai informasi positif itu? Karena tidak ada bukti yang mendukung pemikiran positif itu. Oleh otak, pikiran positif itu dianggap tidak sesuai dengan kenyataan dan terkesan terlalu memaksa.

Hal yang harus diwaspadai dalam melakukan reframing adalah ini: Anda jangan menukarnya. Misalnya meaning menjadi context dan sebaliknya.” (hlm. 70)

Dilanjutkan:

Sebagai contoh, ‘Saya kesal karena penerbangan ini ditunda.’…Di sini, Anda harus melakukan meaning reframing, dengan mengatakan, misalnya: ‘Penundaan ini dimaksudkan untuk mengecek seluruh peralatan yang ada dalam pesawat agar layak terbang, sehingga Anda akan terbang dengan aman dan nyaman.’” (hlm. 71)

Diteruskan:

Kalau Anda memaksa menggunakan context reframing, hal ini menjadi tidak pas lagi. Misalnya: ‘bukankah dengan ditundanya penerbangan ini anda jadi punya waktu lebih banyak lagi untuk membeli oleh-oleh?’ Reframing ini tidak tepat, karena justru yang menjadi masalah adalah waktu dan orang yang keberatan ini tidak tahu waktu yang ada selama menunggu penundaan itu akan digunakan untuk apa.” (hlm. 71)

Nah, reframing merupakan seni untuk merubah perasaan dan emosi dengan cara mengubah sudut pandang, tanpa mengubah kejadian. Dengan teknik ini, Anda dapat menemukan sudut pandang yang pas, yang dapat Anda gunakan untuk mengubah perasaan Anda dalam menyikapi suatu kejadian.

Mengapa harus sudut pandang yang pas? Karena dengan sudut pandang yang pas, otak kita dapat menerima sudut pandang itu. Saat otak kita menerima sudut pandang itu, informasi positif yang bersumber dari sudut pandang itu tidak akan diabaikan oleh otak kita. Dan, saat otak kita menerima pikiran-pikiran positif yang ditawarkan oleh sudut pandang kita, maka perasaan kita akan berubah sesuai dengan pikiran positif itu.

Sampai di sini, kita dapat menyimpulkan dua hal. Pertama, teknik reframing digunakan untuk mengubah perasaan dan emosi kita dalam menyikapi suatu permasalahan atau kejadian, terutama yang tidak dapat dirubah. Kedua, berbeda dengan afirmasi pada umumnya, teknik reframing memungkinkan kita untuk menemukan berbagai sudut pandang dan pikiran positif yang pas untuk menyikapi masalah yang sedang kita hadapi.

Kendati teknik reframing digunakan untuk mengubah perasaan dan emosi kita dalam menyikapi kejadian yang tidak dapat dirubah, tidak menutup kemungkinan kita dapat memanfaatkannya untuk mengubah kejadian atau keadaan yang tidak kita inginkan. Dalam buku ini, sang penulis mencontohkannya dengan tindakan mengurangi berat badan. Dalam hal ini, berat badan merupakan kondisi yang dapat diubah atau dikurangi dengan teknik reframing.

Contoh lainnya yang dikemukakan oleh sang penulis yaitu melenyapkan kebiasaan merokok. Di sini, kebiasaan merokok merupakan kondisi yang dapat diubah dengan teknik reframing.

Sekarang, bagaimana cara mengubah perasaan, emosi, atau pun kondisi tertentu dengan teknik reframing?

Jenis-Jenis Reframing

Dalam buku ini, sang penulis menawarkan setidaknya tiga jenis teknik reframing yang dapat kita manfaatkan untuk mengubah perasaan, emosi, atau pun kondisi yang tidak kita harapkan. Pertama yaitu context reframing dan meaning reframing. Kedua, negosiasi antarbagian. Dan, yang ketiga, berdamai dengan diri sendiri.

Context dan Meaning Reframing

Teknik pertama, yaitu context reframing digunakan untuk menjawab keluhan yang dapat diatasi dengan mengubah konteks. Sementara itu, meaning reframing digunakan untuk menjawab keluhan yang dapat diatasi dengan mengungkap makna tersembunyi dari masalah yang menimbulkan keluhan tersebut.

Kedua teknik ini dimanfaatkan manakala masalah yang dihadapi seseorang merupakan masalah yang tidak dapat diatasi atau di luar kendali orang yang mengalaminya. Contohnya yaitu masalah penerbangan yang ditunda. Penumpang (orang yang mengalami masalah itu) tidak dapat mengubah jadwal penerbangan sedemikian sehingga pesawat tidak jadi ditunda. Penundaan penerbangan di luar kendali penumpang.

Nah, saat Anda, sebagai salah satu penumpang pesawat itu mengeluh dan marah, Anda dpaat menggunakan meaning reframing untuk meredakan emosi Anda.

Negosiasi Antarbagian

Teknik yang kedua, yakni negosiasi antarbagian lazim digunakan untuk mengubah kebiasaan dan perilaku yang tidak diharapkan. Contohnya, saat Anda memiliki kebiasaan merokok. Anda tidak tahu mengapa Anda memiliki kebiasaan itu padahal Anda sadar bahwa rokok dapat membawa segudang dampak negatif bagi Anda.

Nah, dengan teknik negosiasi antarbagian (antar-parts), Anda dapat menghilangkan kebiasaan itu. Kuncinya yaitu bagian (part) di dalam diri Anda yang memiliki peran merokok dinegosiasikan dengan bagian lain dari diri Anda yang dapat memberikan solusi selain merokok.

Misalkan Anda seorang peminum. Anda ingin menghentikan perilaku yang Anda pikir negatif ini. Mula-mula tanyakan pada diri Anda…sampai Anda mendapatkan tujuan positif atas perilaku negatif Anda….Andaikan jawaban yang Anda peroleh adalah yang pertama: membuat tenang. Nah, coba pikirkan kegiatan-kegiatan apa lagi yang selama ini bisa membuat Anda tenang, selain minum alkohol. Saya ingin Anda membuat daftar sebanyak mungkin.” (hlm.104-105)

Tentunya, solusi ini harus dipertimbangkan apakah cocok bagi ekologi Anda ataukah tidak. Jika cocok, maka solusi itu dapat Anda terapkan, tetapi jika tidak cocok, mintalah bagian di dalam diri Anda yang berperan sebagai pemberi solusi untuk mencari alternatif solusi lainnya.

Berdamai dengan Diri

Teknik yang ketiga, yakni berdamai dengan diri sendiri. Teknik ini digunakan terutama manakala bagian-bagian di dalam diri Anda yang saling bernegosiasi tidak menemukan kesepakatan. Masing-masing bagian berebut menjadi bagian yang diutamakan oleh diri Anda.

Nah, saat kejadian seperti itu terjadi, Anda dianjurkan untuk menggunakan teknik ini. Dalam teknik ini, Anda disarankan untuk menerima bagian (part) di dalam diri Anda dan membiarkannya melakukan perannya.

Sebagai contoh, saat Anda menyelesaikan tugas hingga larut malam. Salah satu bagian di dalam diri Anda mendorong Anda untuk segera kembali ke rumah dan tidur. Tetapi, bagian lainnya meminta Anda untuk menghabiskan malam di kantor, menyelesaikan tugas Anda.

Menghadapi masalah ini, Anda pun menegosiasikan bagian yang mendorong Anda untuk segera pulang dan tidur dengan bagian yang berperan memberikan alternatif bagi Anda.

Dalam negosiasi itu, ditemukan alternatif kesepakatan, yaitu Anda tetap di kantor, menyelesaikan tugas Anda. Sebagai gantinya, Anda akan tidur 8 jam esok harinya. Tetapi, ternyata, kesepakatan ini tidak diterima oleh bagian yang meminta Anda untuk pulang.

Nah, karena negosiasi alot, Anda pun harus berdamai dengan bagian itu. Caranya, turuti saja kemauannya, dan biarkan dia memainkan perannya.

Bagaimana Buku Ini Membantu Anda?

Di depan telah dijelaskan bahwa buku ini berisi penjelasan mengenai definisi teknik reframing serta cara mengaplikasikan teknik tersebut dalam kehidupan Anda.

Nah, dalam konteks itu, buku ini dapat Anda jadikan sebagai panduan untuk melakukan self-help (melakukan pertolongan diri) manakala Anda menjumpai masalah yang membuat Anda mengeluh, marah, sedih, takut, atau bahkan depresi.

Dengan bahasa yang ringan, yang tidak banyak menggunakan istilah-istilah ilmiah yang rumit, Anda pun dapat memahami buku ini sekali pun tanpa panduan orang yang ahli dalam bidang reframing. Selain itu, kemudahan pemahaman juga dibantu dengan diberikannya contoh kasus dan contoh penerapan teknik tersebut yang bertebaran hampir di setiap halaman.

Buku ini sangat cocok dibaca oleh pembaca dari kalangan mana pun. Sepanjang kita, sebagai manusia, menjumpai masalah yang silih berganti membuat perasaan kita terganggu, maka sepanjang itu pula buku ini dapat dijadikan sebagai salah satu sumber pertolongan bagi kita semua.

Dan, bagi Anda yang berminat membaca buku ini, tetapi tidak dapat melakukannya karena sibuk atau karena sebab lainnya, Anda dapat bergabung dengan Aquariusnote. Di Aquariusnote, kami menawarkan ringkasan buku ini secara lengkap yang dapat Anda akses dan baca dengan singkat dan jelas.

Akhir kata, selamat membaca dan jangan lupa untuk memebrikan komentar 🙂

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *