Resensi Buku The Practicing Mind: Developing Focus and Discipline in Your Life

Judul buku: The Practicing Mind: Developing Focus and Discipline in Your Life: Master Any Skill or Challage by Learning to Love the Process

Pengarang: Thomas M. Sterner

Penerbit: New World Library

Tahun: 2012

Dimensi: xvi + 152; 5 x 8 cm

ISBN: 978-1-60868-090-0

practicing mind

Penyebab Kemalasan dan Ketidakdisiplinan

Kemalasan merupakan penyakit yang sangat berbahaya. Perlahan tetapi pasti, ia membuat kualitas hidup merosot. Kemalasan menyebabkan seseorang enggan melakukan aktivitas, enggan menyempatkan waktu, pikiran, dan tenaga untuk melakukan sesuatu yang berguna bagi dirinya. Lebih jauh, ia membuat seseorang hanya mau menerima hasil tanpa mau berjuang untuk mendapatkannya.

Kemalasan bukan hanya diderita oleh orang-orang tertentu. Justru di dunia ini, kita lebih sering menjumpai orang yang malas dibanding orang yang rajin dan disiplin. Hal ini bukan dikarenakan oleh sifat alamiah yang melekat pada sebagian besar dari kita. Kemalasan memiliki akar penyebabnya, yang dapat kita telusuri dari kebudayaan result-oriented.

Jika ditelusuri, kebudayaan result-oriented merupakan cerminan dari sistem kapitalisme. Di dalam sistem kapitalisme, masyarakat dianggap sebagai pasar bagi komoditas (barang produksi). Nah, sebagai pasar bagi komoditas, masyarakat selalu dijejali iklan yang menawarkan barang produksinya.

Dalam iklan, produk yang ditawarkan dicitrakan sebagai sumber kebahagiaan. Pencitraan ini bertujuan untuk menarik minat kita (sebagai pasar) untuk membelinya. Iklan mengatakan, “Belilah ini agar kehidupan Anda sempurna,” “Belilah itu. dijamin Anda akan tampil cantik dalam sekejap.” Singkatnya, iklan menciptakan konsep kebahagiaan. Menurut iklan, kita akan bahagia manakala memakai produk yang ditawarkannya.

Apa akibat dari pencitraan iklan? Akibatnya, terbentuk suatu konsep di bawah sadar kita mengenai kebahagiaan yang sesuai dengan yang dicitrakan oleh iklan. Ini dikarenakan, iklan memberondong pikiran kita setiap waktu, mengulangi (repeat) apa yang dicitrakannya.

Nah, sebagaimana kebiasaan dapat terbentuk dari repetisi alias pengulangan, begitu juga dengan pencitraan yang diciptakan oleh iklan. Karena pencitraan tersebut dilakukan berulang kali (repetition), maka pada akhirnya, citra tersebut tersimpan di dalam bawah sadar kita. Dan, pada ujungnya, terbentuklah konsep kebahagiaan yang khas kapitalisme, yaitu bahwa kebahagiaan adalah saat kita mencapai suatu ‘kesempurnaan’ atau sesuatu yang ideal. 

Lalu, apa itu kesempurnaan? Menurut budaya kapitalisme, kesempurnaan atau sesuatu yang ideal adalah dia yang berada di ujung sana, yang sedang kita tuju. Kesempurnaan merupakan konsep yang absolut alias stagnan. Maksudnya, saat kita berpikir bahwa kesempurnaan adalah memiliki mobil mewah, maka itulah kesempurnaan kita dari dulu, sekarang, sampai kapan pun. Begitu juga jika kita menganggap bahwa kesempurnaan adalah mengenakan busana bermerek A. Maka, dari dulu, sekarang, hingga nanti, kesempurnaan kita, ya, busana merek A.

Most of the anxiey we experience in life comes from our feeling that there is an end point of perfection in everything that we involve ourselves with. Whatever or wherever that perfection may be, we are not. We continually examine, consciously or unconsciously, everything in our lives, compare it to what we feel is ideal….A runner breaks the four minute mile…A soloist plays her most difficult piece of music in concert without a mistake for the first time…A golfer finally breaks 90, an entrepreneur makes his first million…In fact, these images are handed to us by marketing and the media. We watch all these perfect-looking people on TV and in the movies living their perfect lives. In TV advertisements, this illusion is presented even more strongly:’Buy this and your life will be great,’ or, worse yet, ‘without this, your life is incomplete.’” (hlm.44)

Apa konsekuensi dari persepsi di atas? Persepsi bahwa kesempurnaan itu absolut alias stagnan dipadukan dengan persepsi bahwa kita akan bahagia manakala kita mencapai kesempurnaan melahirkan persepsi bahwa kita akan bahagia manakala kita mencapai sesuatu yang terbatas alias stagnan. Jika kesempurnaan adalah memiliki mobil mewah, konsekuensinya, kita akan bahagia manakala kita memiliki mobil mewah. Sampai kapan pun, selama kita belum memiliki mobil mewah, kita belum bahagia. Selain itu, kita berpikir, setelah memiliki mobil mewah, kebahagiaan tersebut akan abadi.

We consciously pick a point of reference in whatever we do and decide that nothing will be right until we get to that point.” (hlm.49)

Nah, pikiran seperti itulah yang pada akhirnya membuat kita terfokus pada hasil (result) alias kesempurnaan, dan mengesampingkan proses.

We consciously pick a point of reference in whatever we do and decide that nothing will be right until we get to that point…When we are driving somewhere, we can’t wait to get there.” (hlm.49)

Selain lewat iklan, pola pikir reslut-oriented diajarkan kepada kita lewat sistem pendidikan. Di sekolah, budaya ini mewujud dalam bentuk nilai (grades).

Dalam sistem pendidikan yang berlaku, nilai (grades) merupakan faktor penentu siapa kita (who we are). Akibatnya, siswa lebih mementingkan nilai (grades) ketimbang ilmu pengetahuan yang diterima. Lebih jauh, hal ini menanamkan di bawah sadar kita bahwa hasil (yang terwujud dalam nilai) adalah segala-galanya.

The idea that the end product is all that really matters starts when we are very young. Even if we do not remember exactly what behaviors we observed in early childhood to instill this idea into our personalities, it is surely there for most of us by the time we get to school age.” (hlm.29)

During our school years, our grade accomplishments very much define who we are and what we are worth. They can greatly influence not only how far we will go in life but in what direction we will head. They speak much to us about our sense of self-worth. Someone who scores mostly Cs feels that he is ‘Average.’ An F student is a ‘Failure’, and an A student is, of course, ‘Excellent.’ During our school years, we begin to develop a bottom-line belief that states, ‘Results are everything,’regardless of how we achieve them.” (hlm.29-30)

Bagaimana Mindset Result-Oriented Bekerja dan Apa Hasilnya?

Apa yang terjadi ketika kita menerapkan pola pikir result-oriented? Yang terjadi yaitu kita membandingkan posisi kita dengan hasil yang akan kita capai. Sebagai contoh, saat kita berlatih bermain piano. Jika kita menerapkan pola pikir result-oriented, kita akan membandingkan posisi kita (sedang berlatih) dengan hasil (goal) yang ingin dicapai, yaitu cakap bermain piano.

Celakanya, kapan pun kita membandingkan posisi kita dengan goal, kita mendapati diri kita belum mencapainya. Padahal, pembandingan atau penghakiman (judgement) ini terjadi terus menerus selama kita melakukan aktivitas tersebut. Akhirnya, hal itu menegaskan (affirm) kepada bawah sadar kita bahwa kita belum mencapai goal tersebut.

Karena mindset kita result-oriented, maka kita berpikir bahwa kita akan bahagia hanya saat kita sudah mencapai hasil tersebut. Konsekuensinya, saat kita belum mencapai hasil, kita pun merasa tidak bahagia.

Perasaan tidak bahagia inilah yang menimbulkan kecemasan, kebosanan, ketidaksabaran, dan kemalasan.

Most of the anxiety we experience in life comes from our feeling that there is an end point of perfection in everything that we involve ourselves with. Whatever oe wherever that perfection may be, we are not. We continually examine, consciously or unconsciously, everything in our lives, compare it to what we feel is ideal, and then judge where we are in relation to that ideal.

Tujuan Kehadiran Buku Ini

Nah, buku The Practicing Mind: Developing Focus and Discipline in Your Life: Master Any Skill or Challenge by Learning to Love the Process ini ditujukan untuk memberikan pandangan kepada pembaca mengenai cara melenyapkan kemalasan, ketidaksabaran, dan ketidakdisiplinan, yang bukan hanya ketidakdisiplinan dalam melakukan aktivitas, tetapi juga ketidakdisiplinan dalam menjalani hidup.

Pola pikir process-oriented, itulah gagasan utama yang hendak disampaikan sang penulis kepada pembaca. Pola pikir ini merupakan alternatif pengganti mindset result-oriented yang, sebagaimana dideskripsikan dalam buku ini, destruktif dan melahirkan sifat malas, tidak sabar, dan tidak disiplin dalam hidup.

Dengan pola pikir process-oriented, kemalasan dan ketidakdisiplinan menjalani hidup akan melenyap.

Lalu, mengapa judulnya demikian? Mengapa The Practicing Mind? Jika diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia, The Practicing Mind: Developing Focus and Discipline in Your Life: Master Any Skill or Challenge by Learning to Love the Process berarti Pikiran yang Terlatih: Menumbuhkan Fokus dan Disiplin dalam Hidup Anda: Kuasai Kecakapan atau Tantangan Apapun dengan Belajar Mencintai Proses. Ini menandakan bahwa apa yang ingin dibagi oleh penulis kepada pembaca adalah the practicing mind, pikiran yang terlatih itu sendiri. The practicing mind inilah metode yang digunakan oleh penulis untuk menumbuhkan kedisiplinan dan fokus dalam hidup, yang merupakan kunci menguasai kecakapan atau pun tantangan.

Lewat contoh dalam kehidupannya sehari-hari, penulis menjelaskan bagaimana kemalasan, kecemasan, dan ketidakdisiplinan muncul, dan bagaimana mengatasinya lewat melatih pikiran.

Selain itu, sang penulis juga menjelaskan kepada pembaca bagaimana cara melatih pikiran. Atau dengan kata lain, cara menumbuhkan the practicing mind. Penulis membeberkan berbagai teknik menumbuhkan the practicing mind, yang ia adaptasi dari teori pelatihan golf dan tradisi Zen yang pernah ia pelajari sebelumnya.

Kesemua teknik tersebut sangat efektif untuk melatih pikiran kita sedemikian rupa sehingga terbiasa dengan kedisiplinan.

Pembaca Buku Ini

Buku ini sangat bermanfaat. Bukan hanya pembaca yang sedang mengembangkan kecakapan (skills) yang dapat menikmati buku ini. Karena kedisiplinan yang dibahas di dalamnya bermakna umum, pembaca dari semua kalangan juga dapat menikmati buku ini.

Kehadiran buku ini membantu Anda memahami seni menjalani hidup.

Nah, jika Anda tertarik membaca buku ini selengkapnya, bergabunglah dengan Aquarius Note. Di Aquarius Note, selain buku ini, Anda juga dapat membaca buku lainnya.

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *