Sub-Vokalisasi: Bisakah Kita Melenyapkan “Kebiasaan Buruk” Ini saat Membaca Buku?

Saat membaca buku, pernahkah Anda melafalkan setiap kosakata yang Anda baca satu-persatu, sekali pun dalam hati saja? Atau, jangan-jangan, tiap kali membaca buku, Anda selalu melafalkan setiap kosakata yang Anda baca? Jika iya, itu artinya, Anda memiliki “kebiasaan” sub-vokalisasi.

Sub-vokalisasi adalah melafalkan kata di dalam hati sedemikian rupa sehingga otak dapat mendengarkan ucapan tersebut. Seseorang disebut sedang melakukan sub-vokalisasi manakala ia melafalkan kata di dalam hati, bukan disuarakan, sehingga orang lain tidak dapat mendengarnya.

Sub-vokalisasi sangat familiar dalam aktivitas membaca buku. Artinya, saat kita membaca buku, seringkali (baik secara sadar atau pun tidak) kita melakukan sub-vokalisasi. Sub-vokalisasi yang terjadi saat membaca buku bisa berupa menggerakkan mulut (komat-kamit), bisa juga hanya dengan melafalkan kosakata satu per satu (dalam hati).

Menurut berbagai kajian, sub-vokalisasi yang terjadi saat membaca buku merupakan suatu kebiasaan yang menghambat. Ia dituding sebagai salah satu penyebab mengapa kita lambat dalam membaca. Alasannya, dalam memroses kata-kata, otak kita bekerja lebih cepat dibanding saat kita mengucapkannya.

Contoh yang biasa diberikan untuk membuktikan bahwa otak lebih cepat daripada ucapan yaitu saat kita berhenti di jalan setelah lampu rambu lalu lintas menyala merah. Dikatakan bahwa saat kita melihat rambu-rambu itu, maka secara otomatis, otak kita memerintahkan kita untuk berhenti. Tanpa perlu menyebut atau mengucapkan kata “lampu merah” (baik dalam hati atau pun diucapkan dengan suara) otak kita paham bahwa lampu merah merupakan tanda kita harus mengehentikan kendaraan.

Alasan lain pun turut diberikan untuk mendukung pandangan ini, yaitu bahwa kebiasaan sub-vokalisasi muncul lantaran saat kecil, saat belajar membaca, kita senantiasa mengeja setiap huruf yang kita baca dengan lantang. Saat guru melatih kita untuk membaca, ia meminta kita untuk membaca dengan lantang kata atau kalimat yang ia tulis di papan tulis.

Oleh karena itulah, saat sudah fasih membaca, kita terbiasa membaca dengan melafalkan kata per kata dengan suara. Kebiasaan ini menetap hingga kita dewasa. Pada saat dewasa, kebiasaan melafalkan kosakata dengan suara mungkin sudah hilang, tetapi kita kesulitan untuk menghilangkan kosakata di dalam otak kita. Kita masih selalu melafalkan kosakata yang kita baca di dalam hati.

Nah, berdasarkan alasan-alasan di atas, banyak sekali penulis temukan artikel online yang menyarankan kepada pembacanya untuk menghilangkan kebiasaan sub-vokalisasi. Pada artikel-artikel itu, tak jarang penulis membaca komentar dari para pembacanya, di mana komentar-komentar itu mengandung keluhan dan pertanyaan. Mereka, para pembaca artikel itu, mengeluh bahwa mereka tidak dapat menghilangkan kebiasaan sub-vokalisasi. Ada pula yang bingung bagaimana mendeteksi sub-vokalisasi di dalam pikirannya. Menurutnya, saat membaca buku, ia tidak komat-kamit, tetapi pikirannya tetap tak bisa berhenti melafalkan setiap kosakata yang ia baca.

Hal ini pun seperti yang dialami oleh penulis sendiri. Sesaat setelah membaca artikel-artikel itu, penulis mencoba untuk tidak melafalkan kosakata di dalam hati. Tetapi, hasilnya nihil. Kosakata-kosakata yang penulis baca tetap saja mengalir memenuhi otak penulis. Akhirnya, penulis pikir, pasti ada yang salah alias misunderstanding di sini.

Penulis lantas mencari-cari sumber lain mengenai sub-vokalisasi. Dan, pada akhirnya, penulis temukan beberapa artikel yang menyatakan bahwa sub-vokalisasi mustahil bisa 100% dihilangkan! Artikel-artikel itu mendasarkan tulisannya pada temuan-temuan mutakhir mengenai sub-vokalisasi. Sebagai contoh, ada yang mendasarkan tulisannya pada temuan NASA. Disebutkan bahwa dalam penelitiannya, ilmuan NASA menemukan bahwa sub-vokalisasi tidak dapat dihindarkan. Saat berpikir, setiap orang senantiasa melakukan sub-vokalisasi, sekali pun tidak dengan komat-kamit.

Ilmuan NASA bahkan berrencana untuk menciptakan suatu alat yang dapat mendeteksi dan mengetahui apa yang kita katakan pada diri kita sendiri. Dengan alat itu, kita dapat mengetahui apa yang ada di dalam pikiran kita atau pikiran orang lain tanpa perlu mendengarnya sendiri dari orang tersebut, tanpa orang tersebut memberitahukan kepada kita apa yang ada di dalam pikirannya.

NASA berharap, hadirnya alat itu dapat memudahkan komunikasi para astronot di luar angkasa.

Selain berdasarkan pada temuan NASA, ada pula artikel yang mendasarkan tulisannya pada proposal dengan tajuk phonological loop yang diajukan oleh dua pakar psikologi, Alan Baddeley dan Graham Hitch. Dalam proposal itu, kedua pakar tersebut menyatakan bahwa subvokalisasi berperan penting dalam mentransformasikan informasi menjadi memori alias ingatan. Dalam kata lain, subvokalisasi berperan dalam penyimpanan informasi ke dalam bentuk memori jangka pendek.

Sebagian lainnya merujuk pada pernyataan Lev Vygotsky bahwa subvokalisasi merupakan hal penting yang berperan dalam membentuk pikiran atau kemampuan berpikir.

Nah, dalam artikel ini, penulis pun mendasarkan tulisan pada temuan-temuan di atas. Sepanjang subvokalisasi didefinisikan sebagai “melafalkan kata-kata di dalam hati sedemikian sehingga otak kita mendengarkannya”, maka subvokalisasi tidak dapat secara penuh dihilangkan. Dalam artikel ini, penulis ingin meluruskan, mungkin yang dimaksud oleh para penulis artikel di luar sana yang menyarankan para pembacanya untuk menghilangkan kebiasaan subvokalisasi adalah menghilangkan kebiasaan komat-kamit saat membaca buku, bukan kebiasaan melafalkan kosakata di dalam hati karena hal itu mustahil.

Nah, sekarang, setelah jelas bahwa subvokalisasi, dalam artian “melafalkan kosakata di dalam hati” tidak dapat dihilangkan, kita masih dapat meningkatkan kecepatan dan pemahaman kita atas bacaan.

Penasaran bagaimana meningkatkan kecepatan dan meningkatkan pemahaman atas apa yang kita baca? Yuk, langsung kita simak caranya berikut ini.

Tak perlu hiraukan suara di dalam otak

Jika Anda pernah membaca artikel atau mendengar saran teman Anda untuk menghilangkan kosakata di dalam otak Anda saat Anda membaca buku, maka saran ini menjadi saran pertama yang penulis sampaikan kepada Anda.

Daripada energi Anda terkuras untuk menghilangkan kosakata di dalam benak Anda, lebih baik berkonsetrasi pada bacaan Anda. Percayalah bahwa dengan hanya melafalkan kosakata di dalam benak Anda, Anda tidak sedang memperlambat bacaan Anda.

Yang perlu Anda perhatikan yaitu, saat membaca buku, Anda tidak perlu melafalkan kata per kata secara terpisah (sebagai contoh, ada jeda waktu yang lama antara kata pertama dengan kata kedua). Hal ini dikarenakan, Anda justru kehilangan makna yang terkandung di dalam tulisan yang Anda baca.

Perlu Anda ketahui bahwa makna atau maksud akan terbentuk manakala kata satu digabungkan dengan kata lain sedemikian sehingga membentuk frasa atau kalimat. Ini artinya, Anda akan menemukan maksud dari tulisan yang Anda baca hanya dan hanya jika Anda membacanya sebagai sebuah kalimat atau frasa yang utuh, bukan sebagai bagian-bagian. Dalam kata lain, Anda harus membacanya sebagai keseluruhan, bukan sebagai bagian-bagian.

Nah, subvokalisasi, baik dengan komat-kamit atau pun dengan secara pelan-pelan dan penuh konsentrasi melafalkan (dalam hati) kata per kata dapat menghambat pemahaman Anda atas apa yang Anda baca.

Tidak percaya? Anda boleh mencobanya sekarang.

Berhenti komat-kamit

Berkomat-kamit merupakan salah satu kebiasaan yang memperlambat kecepatan kita dalam membaca buku. Hal ini dikarekan, dibanding kecepatan subvokal kita, kecepatan gerak mulut (oral atau vocal) kita untuk mengucapkan kata-kata kalah cepat. Ini artinya, membatin (bicara/ membaca dalam hati) lebih cepat ketimbang bicara atau membaca dengan bersuara (speak orally). Gerak mulut saat membaca kalah cepat dengan gerak subvokal kita. Saat kita berkomat-kamit, kecepatan kita dalam membaca dibatasi oleh gerakan mulut kita.

Nah, nampaknya, di sinilah letak kesalahpahaman dari artikel-artikel yang banyak beredar di internet. Dalam artikel-artikel itu, penulisnya tidak membedakan antara subvokalisasi dengan komat-kamit (oral speech). Alih-alih, mereka justru menyamakan subvokalisasi dengan komat-kamit. Padahal, saat bersubvokalisasi, kita tidak menciptakan gerakan mulut dan suara sama sekali. Kita hanya membatin apa yang kita baca. Sementara itu, saat berkomat-kamit, mulut kita bergerak dan menghasilkan suara, tak peduli selirih apa pun suara itu.

Jika tidak percaya, Anda dapat merekam suara yang dihasilkan saat Anda berkomat-kamit. Setelah proses rekaman itu selesai, coba Anda dengarkan dengan menggunakan earphone, karena suara itu sangat lirih.

Berhenti membaca dengan keras

Nah, jika komat-kamit saja menghambat kecepatan pembacaan kita, apalagi membaca dengan lantang? Menurut pengalaman penulis, membaca dengan lantang bukan saja memperlambat bacaan, tetapi juga menghambat pemahaman.

Mungkin, bagi Anda, hal yang terjadi pun sama. Oleh karena itu, mulai sekarang, biasakan untuk tidak membaca buku dengan keras.

Membaca frasa, bukan kata

Seperti yang penulis jelaskan di atas, kita akan menangkap makna atau maksud dari apa yang kita baca jika dan hanya jika kita membacanya sebagai keseluruhan, bukan sebagai bagian-bagian yang terpisah. Hal ini ibarat kita bermain puzzle. Sebagaimana yang telah penulis jelaskan pada artikel yang berjudul Ingin Membaca Buku dengan Cepat dan Memiliki Pemahaman Mendalam? Ini Dia Rahasianya!, salah satu penyebab kita gagal memahami apa yang kita baca yaitu kita tidak membacanya sebagai keseluruhan. Alih-alih, kita membacanya sebagai bagian-bagian yang terpisah. Dalam artikel itu, penulis menganalogikan cara pembacaan yang seperti itu seperti bermain dengan hanya satu keping puzzle. Kita berharap, dengan satu keping puzzle itu kita mampu merangkai sebuah bentuk. Tentu saja itu harapan yang mustahil!

Kita harus menggabungkan sekeping puzzle itu dengan kepingan lainnya supaya mendapatkan sebuah bentuk. Demikian juga dengan membaca, kita tidak dapat memahami apa yang kita baca hanya dengan membaca kata perkata, seolah tidak ada hubungan antara satu kata dengan kata lainnya.

Menguatkan subvokalisasi atau melafalkan kata atau istilah asing

Saat membaca buku, sebenarnya, otak kita dapat menangkap kata-kata yang kita baca secara otomatis, terutama sekali kata-kata yang sudah familiar bagi kita. Anda dapat membuktikannya dengan mencoba menulis kata “manusia” menjadi “mansuia”. Setelah itu, coba Anda baca kata itu. Niscaya, Anda tidak kebingungan untuk membacanya. Otak Anda akan langsung menyimpulkan bahwa tulisan itu berbunyi “manusia”.

Nah, keotomatisan ini tidak berlaku bagi kata-kata yang masih asing bagi kita. Saat kita membaca kata-kata yang belum familiar bagi kita, otak kita perlu membacanya secara sadar.

Sebagai contoh, penulis anggap, Anda belum familiar dengan kata ini, “Tetraethyl dithiopyrophosphate”. Coba Anda baca kata tersebut. Jika Anda belum familiar, niscaya Anda akan mencurahkan konsentrasi Anda untuk membaca kata itu supaya tidak salah eja.

Jadi, agar kosakata kita bertambah, kita perlu memperlambat dan menguatkan subvokalisasi kita untuk membaca kata-kata yang belum familiar bagi kita. Tetapi, jika hal itu tidak terlalu diperlukan, kita cukup membacanya sekilas. Yang terpenting, kita dapat mengira-ngira arti dari kata itu dan dapat menghubungkan kata itu dengan kata lainnya sebagai satu kalimat utuh. Dengan demikian, kita masih dapat menangkap maksud dari kalimat itu, sekalipun kita tidak tahu pasti arti kata yang kita baca.

Penulis mendasarkan teknik ini pada teknik membaca tulisan dalam bahasa asing, bahasa inggris misalnya. Seperti yang pernah penulis baca dalam sebuah buku mengenai teknik membaca tulisan berbahasa Inggris dengan efektif, penulis buku itu menyarankan agar saat kita membaca sebuah tulisan berbahasa Inggris, kita tidak perlu mengetahui arti dari semua kata dari apa yang kita baca.

Hal ini dikarenakan, jika kita mencari arti dari setiap kata yang kita baca, maka waktu kita tersita hanya untuk mengartikan setiap kata. Kita masih dapat memahami maksud atau makna dari apa yang kita baca, tanpa perlu mengetahui satu atau dua arti kata yang terdapat dalam suatu kalimat. Kuncinya, kita membacanya sebagai keseluruhan, bukan sebagai bagian yang terpisah-pisah. Dan, setelah menerapkan teknik ini, hasilnya cukup lumayan.

Melafalkan kata, frasa, atau kalimat yang ingin dihapalkan dan dipahami

Menurut penelitian, subvokalisasi dan menyuarakan apa yang kita baca dapat membantu kita dalam mengingat kata-kata itu.

Dalam sebuah tulisan berjudul Say It Aloud: I’m Creating a Distinctive Memory, yang dimuat di dalam situs psychlogytoday.com, Art Markman, seorang pakar psikologi kognitif menjelaskan bahwa memori atau ingatan dapat diperoleh dengan cara membedakan satu dengan lainnya.

Sebagai contoh, Anda melihat sekumpulan remaja di jalanan, yang terdiri dari 9 remaja laki-laki dan 1 remaja perempuan. Maka, Anda akan lebih mudah mengingat sang remaja perempuan dibanding kesembilan temannya.

Nah, menurut Markman, dengan membunyikan apa yang kita baca, sebenarnya kita sedang membedakannya dengan kata-kata lainnya.

Jadi, untuk mengingat apa yang Anda baca, Anda perlu melafalkan satu dua kalimat, yang menurut Anda pelu untuk diingat. Tetapi, secara keseluruhan, Anda lebih baik tetap membaca buku Anda tanpa bersuara. Hanya pada kalimat atau kata atau frasa yang ingin Anda ingat saja Anda melafalkannya dengan suara.

Jika Anda melafalkan semua yang Anda baca dengan keras (dengan suara), maka Anda tidak dapat membedakan antara satu kata atau satu kalimat dengan kata atau kalimat lainnya. Demikian juga, saat Anda bersubvokalisasi (membatin) semua yang Anda baca, maka Anda tidak dapat membedakan kata atau kalimat yang menurut Anda penting dengan kata atau kalimat lainnya.

Nah, sebagaimana halnya menghapal, demikian juga dengan memahami isi bacaan. Pemahaman dapat diperoleh dengan pembedaan (distinction/ identification).

Saat kita memahami suatu benda, kita senantiasa mencari ciri-ciri utama yang membedakan benda itu dengan lainnya. Sebagai contoh, saat kita memahami seekor sapi. Kita paham bahwa seekor binatang disebut sebagai “sapi” manakala kita tahu ciri-ciri yang membedakannya dengan binatang lain.

Saat kita melihat seekor binatang misalkan, anggaplah kita tidak memahami apakah binatang itu masuk dalam kategori “sapi” atau tidak. Maka, yang kita lakukan untuk mengetahui apakah itu sapi atau bukan adalah dengan melihat ciri-cirinya. Kita akan memeriksa apakah kakinya empat atau hanya dua. Kita juga akan memeriksa apakah binatang itu mempunai punuk atau tidak, apakah binatang itu memiliki ekor dan tanduk atau tidak. Jika semua ciri-ciri itu tidak terdapat pada binatang itu, maka kita pun dapat menyimpulkan bahwa binatang itu bukanlah seekor sapi.

Nah, dalam memahami isi bacaan, kita pun sekali-kali perlu menyuarakan apa yang kita baca, terutama kalimat yang menurut kita perlu untuk dipahami. Tetapi, secara keseluruhan, sebaiknya kita membaca buku cukup hanya dengan membatin alisa diam, tanpa menyuarakan semua yang kita baca.

Saat kita menyuarakan semua yang kita baca, kita tidak dapat membedakan antara kalimat yang penting untuk dipahami dengan kalimat yang tidak terlalu penting.

Kesimpulan

Nah, demikianlah sekelumit tentang subvokalisasi dan bagaimana cara membaca dengan cepat dan efektif. Sepanjang subvokalisasi diartikan sebagai cara membaca buku dengan membatin apa yang di baca di dalam otak, maka subvokalisasi tidak dapat dihindari. Subvokalisasi bahkan penting untuk pemahaman dan ingatan kita. yang perlu diingat, subvokalisasi berbeda dari membaca dengan komat-kamit.

Sekarang, sudah siapkah Anda untuk mengaplikasikan cara-cara di atas dalam bacaan Anda? Jangan ragu untuk berkomentar dan jangan lupa bergabung dengan Aquariusnote untuk mendapatkan lebih banyak manfaat.

One thought on “Sub-Vokalisasi: Bisakah Kita Melenyapkan “Kebiasaan Buruk” Ini saat Membaca Buku?”

  1. Great post! Ternyata banyak salah paham kalau sub-vokalisasi memperlambat. Intinya ada pembeda aja ya. Analogi 1 cewek dan 7 cowok itu ngena banget.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *