Teknik-Teknik Membaca Cepat

Pentingnya kegiatan membaca buku membuat banyak kalangan merasa perlu untuk membuat penelitian terkait teknik membaca buku secara cepat.

Mengapa harus membaca secara cepat? Karena kebutuhan membaca sangat urgen. Kita diharapkan untuk membaca buku dalam waktu yang singkat dan mendapatkan pemahaman yang tinggi mengenai isi buku.

Berdasarkan data Ikatan Penerbit Indonesia (IKAPI) tahun 2013, di Indonesia, rata-rata, dalam satu tahun, 1 buah buku dibaca hanya oleh 3 hingga 4 pembaca. Padahal, menurut standar UNESCO, seharusnya dalam satu tahun, setiap orang mampu membaca 7 buah judul buku. (http://wartakota.tribunnews.com/2014/05/23/minat-baca-masyarakat-indonesia-masih-rendah)

Kenyataan ini menunjukkan minat dan kesadaran membaca masyarakat Indonesia masih sangat rendah.

Bebrapa alasan mengapa pembaca buku dan jumlah buku yang dibaca masih rendah yaitu tidak ada waktu untuk membaca buku, buku sulit dipahami, tidak memiliki kebiasaan membaca buku, membaca buku langsung mengantuk, tidak fokus saat membaca buku, dan lain sebagainya.

Nah, untuk mengatasi kendala-kendala itu, maka diciptakanlah berbagai tekik untuk membaca buku dengan cepat.

Teknik-teknik ini memungkinkan pembaca mampu membaca buku lebih cepat dan memiliki pemahaman yang cukup mendalam mengenai isi buku. Setidaknya, inilah klaim para pencetus teknik tersebut.

Berikut ini penulis akan ulas beberapa di antara teknik membaca cepat yang cukup dikenal khalayak. Dalam artikel ini, penulis akan berusaha semaksimal mungkin untuk menjabarkan teknik-teknik tersebut disertai tinjauan objektif yang didasarkan pada apa kata para pakar mengenai teknik-teknik tersebut. Tujuannya, supaya kita tahu bagaimana mengaplikasikan teknik-teknik tersebut dengan tepat sesuai dengan kaidah ilmiah.

Semoga ulasan ini bermanfaat bagi Anda dalam memberikan informasi yang memadai dan berimbang mengenai teknik-teknik membaca cepat.

Sekarang, langsung saja kita simak teknik pertama, yaitu meminimalisir subvokalisasi

Meminimalisir subvokalisasi

Teknik pertama yaitu meminimalisir subvokalisasi.

Apa, sih, sebenarnya yang dimaksud dengan subvokalisasi? Subvokalisasi adalah melafalkan kata dalam hati sedemikian sehingga otak mampu mendengar kata itu. Orang lain tidak dapat mendengarkan kata-kata yang kita baca manakala kita bersubvokalisasi. Pendeknya, subvokalisasi adalah membaca kata perkata dalam hati.

Nah, menurut banyak kalangan, subvokalisasi ini memperlambat kecepatan baca otak kita. Mereka berpendapat bahwa otak dapat lebih cepat dalam memroses kalimat jika pembacaan tanpa disertai subvokalisasi.

Tetapi, sepanjang subvokalisasi dipahami sebagaimana definisi di atas, maka subvokalisasi tidak dapat dihilangkan. Alasannya, subvokalisasi memiliki peran penting yakni membantu kita dalam berpikir dan memahami sesuatu. Hal ini diungkapkan oleh Lev Vigotsky.

Senada dengan apa yang diungkapkan oleh Lev Vygotsky, ilmuan NASA bahkan berrencana untuk membuat suatu alat komunikasi antar-astronot di luar angkasa menggunakan prinsip subvokalisasi (Percobaan sudah dilakukan dan menuai keberhasilan. Hanya perlu menyempurnakannya).

Dengan alat itu, para astronot dapat berkomunikasi tanpa harus mengucapkan sepatah kata pun kepada lawan bicaranya.

Bagaimana subvokalisasi digunakan dalam alat itu? Bagaimana mekanisme kerja alat itu? Mekanisme kerja alat itu kurang lebih seperti berikut:

Alat tersebut ditempelkan ke leher orang yang hendak berbicara. Selanjutnya, orang tersebut hanya perlu berpikir dalam hati, tanpa perlu mengucapkan sepatah kata pun.

Prinsip subvokalisasi menyimpukan bahwa saat seseorang berpikir, maka organ vokalnya (yang terletak di area leher) ikut bergerak dengan irama tertentu, sesuai dengan apa yang diucapkannya dalam hati.

Nah, irama yang berubah-ubah sesuai dengan apa yang dipikirkan oleh orang yang menggunakan alat itu lantas diubah/ ditransfer menjadi tulisan.

Lantas, mengapa alat seperti itu diperlukan? Karena di luar angkasa, kita tidak dapat mendengar ucapan orang lain, karena tidak ada perantara (oksigen) yang dapat menghantarkan suara ke penerima (telinga).

Temuan NASA tersebut mengindikasikan bahwa saat kita berpikir, kita senantiasa melakukan subvokalisasi.

Jika tidak percaya, boleh Anda coba. Cobalah untuk berpikir tanpa mengucapkan sepatah kata pun di dalam hati Anda.

Adapun jika subvokalisasi dipahami sebagai kebiasaan berkomat-kamit saat membaca buku, maka kebiasaan itu dapat dimimalisir atau bahkan dihilangkan. Kebiasaan ini (komat-kamit) memang menghambat kecepatan baca dan proses otak kita.

Skimming

Teknik yang kedua yaitu teknik skimmping.

Skimming adalah memeriksa tulisan/naksah sedemikian sehingga untuk mencari bagian-bagian yang penting.

Teknik ini dapat digunkan untuk membaca buku-buku dengan tema tertentu, di mana tema tersebut sudah cukup familiar bagi kita. Sementara itu, untuk buku dengan tema yang masih asing bagi kita, maka teknik ini tidak banyak membantu.

Mengapa? Karena teknik skimming digunakan untuk menyortir bagian yang sudah kita pahami/ kenal sebelumnya dengan bagian yang belum kita pahami dan kita kenal. Dengan teknik ini, kita perlu berhenti men-skim sejenak pada bagian-bagian yang belum kita pahami/ kenal untuk memahaminya.

Nah, jika Anda orang yang cukup mengenal dunia marketing, lantas membaca buku yang bertemakan marketing, teknik skimming akan sangat membantu Anda. Tetapi, jika Anda orang tidak cukup mengenal dunia marketing dan lantas membaca buku yang bertemakan marketing, maka kemungkinan besar Anda akan sering berhenti men-skim untuk memahami suatu kalimat atau paragraf.

Jadi, teknik skimming lebih cocok digunakan untuk membaca buku dengan tema-tema yang sudah Anda kenal cukup baik dibanding buku-buku dengan tema yang belum Anda kenal.

Meta guiding

Teknik yang ketiga yaitu meta guiding. Meta guiding adalah teknik membaca buku dengan cepat menggunakan bantuan telunjuk atau alat tertentu untuk menunjuk kata yang sedang dibaca.

Seorang pencipta teknik membaca cepat, yakni Tim Ferris menyebutkan bahwa meta guiding ini berguna untuk memusatkan fokus pembaca pada apa yang dibacanya. Dengan jari menunjuk pada apa yang sedang dibaca, pembaca mengalihkan perhatiannya dari sekitar ke hanya satu titik, yakni ke apa yang sedang dibacanya.

Jadi, meta guiding digunakan untuk meminimalisir gangguan (distraction) dan melatih fokus pembaca.

Dibalik klaim Tim Ferris yang mengatakan bahwa meta guiding bermanfaat bagi pembaca, ada sementara pakar yang menyebutkan bahwa meta guiding justru menghambat kecepatan baca seseorang. Alasannya, kecepatan otak dalam memroses tulisan jauh lebih cepat dibanding kecepatan tangan dan telunjuk saat menunjuk kata. Jadi, telunjuk justru menghambat otak dalam memroses tulisan.

Nah, sekarang, terserah Anda hendak menggunakan klaim yang mana? Apakah Anda lebih setuju dengan Tim Ferris dan meta guiding atau pakar yang mengatakan bahwa meta guiding menghambat kecepatan baca?

Jika Anda lebih nyaman membaca dengan bantuan telunjuk, maka Anda dapat menerapkan teknik meta guiding. Tetapi, jika Anda lebih nyaman membaca tanpa bantuan telunjuk, maka Anda tidak perlu mengaplikasikan teknik tersebut.

Rapid Serial Visual Presentation

Teknik yang ketiga yaitu rapid serial visual presentation atau disingkat RSVP.

Gambaran kerja teknik ini yaitu sebagai berikut:

Dalam suatu alat/aplikasi tertentu, satu kata tunggal muncul di dalam layar. Dalam hitungan kurang dari satu detik, kata itu menghilang dan digantikan dengan kata lainnya. Demikian seterusnya. Nah, pengguna alat/aplikasi itu (pembaca buku) membaca setiap kata yang tampil di dalam layar tersebut.

Jadi, misalkan, Anda memiliki sebuah buku (dalam bentuk digital), Anda dapat membaca buku itu dengan menggunakan alat baca cepat yang mendasarkan mekanisme kerjanya pada prinsip RSVP seperti di atas. salah satu contoh aplikasi yang menggunakan teknik ini yaitu Spritz.

Gambaran umum cara menggunakan alat/aplikasi yang menggunakan prinsip RSVP yaitu: Masukkan buku digital Anda ke dalam alat tersebut. Lantas, nyalakan layarnya. Anda akan melihat setiap kata dalam buku Anda ditampilkan ke dalam layar itu satu persatu secara berurutan dengan sangat cepat. Dengan demikian, Anda pun terpicu untuk membacanya dengan cepat.

Selain memicu kecepatan baca, teknik ini juga ditujukan untuk menghilangkan kebiasaan regresi (mengulang kalimat, kata, frasa, paragraf yang baru saja dibaca).

Sebagaimana gambaran di atas, teknik ini hanya mampu diaplikasikan menggunakan suatu alat/aplikasi tertentu.

Nah, menurut seorang peneliti gerak mata (eye tracking) dari Universitas California (The University of California), San Diego, Keith Rayner, teknik ini berdampak negatif bagi working memory. “Then with RSVP, words come pretty fast, but working memory gets overloaded and words come in faster than you can deal with them,” Rayner menuturkan. Dengan teknik RSVP, kata-kata muncul dengan sangat cepat, tetapi working memory menjadi kelebihan muatan dan kata-kata muncul lebih cepat dibanding yang dapat kita proses.

Maksud pernyataan di atas yaitu bahwa dalam alat yang menggunakan teknik RSVP, kata-kata silih berganti muncul dan lenyap (dengan kecepatan tinggi) dari layar sehingga otak kita tidak sempat untuk memrosesnya dan memahaminya sebagai kalimat utuh yang bermakna.

Selain itu, dengan alat/ aplikasi seperti ini, kita juga tidak dapat melakukan regresi. Padahal, sesekali, regresi diperlukan, yakni untuk memahami kalimat atau paragraf yang baru saja kita baca. Ini dikarenakan, terkadang, hanya dengan membaca sebuah kalimat sebanyak satu kali, kita belum bisa menangkap maksud dari kalimat itu.

Kesimpulan

Demikianlah beberapa teknik membaca cepat yang cukup dikenal oleh khalayak.

Teknik-teknik di atas memiliki kelemahan dan keunggulannya masing-masing. Sebagai contoh, teknik RSVP yang disebut oleh pakar eye tracking Keith Rayner sebagai teknik yang membawa dampak negatif bagi working memory seseorang, ternyata cukup diminati oleh pembaca, meskipun teknik itu hanya digunakan utuk membaca naskah-naskah yang ringan, yang tidak memerlukan pemahaman yang mendalam.

Sebagaimana teknik RSVP, teknik skimming pun dapat membantu kecepatan membaca kita, terutama saat teknik tersebut digunakan untuk membaca buku-buku dengan tema yang sudah cukup familiar bagi kita.

Dengan mengetahui kelemahan dan keunggulan masing-masing teknik membaca cepat di atas, kita mampu mengaplikasikan teknik-teknik tersebut secara lebih berhati-hati.

Sehubungan dengan teknik-teknik di atas, agaknya sangat tepat apa yang diungkapkan oleh Francis Bacon, yakni:

“Ada buku yang hanya sekadar untuk dicicipi, ada yang untuk ditelan, ada yang untuk dikunyah dan dicerna.”

Buku yang hanya dicicipi yaitu buku yang hanya perlu dibaca bagian-bagian tertentunya saja. Buku seperti ini dapat dibaca dengan teknik skimming. Sementara itu, buku yang untuk ditelan berarti buku yang harus dibaca seluruhnya, tetapi isinya bukan mengenai tema yang belum kita kenal. Yang terkahir, buku yang untuk dikunyah dan dicerna yaitu buku yang harus dibaca semuanya dengan perhatian lebih karena tema yang dibahas belum kita kenal sama sekali sebelumnya.

Akhir kata, selamat membaca, jangan lupa untuk memberikan komentar, dan jangan lupa untuk bergabung dengan Aquariusnote, ya 😀

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *